Liat aja kalo sampe jam 12 kagak dateng, gue bakalan kabur ke apartemen
☆☆☆☆
Sudah hampir setengah jam Devi berdiam diri dihalaman rumahnya dengan wajah yang ditekuk. Dia masih sangat kesal pada teman orangtuanya yang tak kunjung datang. Berkali-kali Devi dipanggil untuk menunggu didalam rumah tapi tidak menggubrisnya, karna Devi mempunyai rencana untuk pergi ke apartemen milik keluarganya.
"Devi? Lo ngapain tengah malam diem diluar?" Seketika Devi menengok untuk melihat orang yang menegurnya.
"Loh-----??"
"Eh, kalian udah sampe? Ayo masuk, pasti capek kan?"
"Apa kabar Nad? Bram?"
"Kita baik kok, sorry ya kita telat. Abis pesawatnya delay."
Teman orangtua Devi bernama Nadia dan Bram. Karena saat kuliah mereka berempat sangat dekat, jadi sampai sekarang pun mereka masih saling berkomunikasi. Nadia dan Bram jarang berkunjung ke kediaman Sarah dan Hadi karna mereka memilih tinggal diluar negeri. Ditambah lagi sekarang anak laki-laki mereka juga sedang berkuliah disana untuk memperdalam ilmu tentang bisnis keluarganya.
Sesampainya Nadia dan Bram mereka langsung berbincang-bincang diruang tamu. Barang-barang mereka pun segera dibereskan karna mereka akan menginap. Tanpa mereka sadari ternyata ada dua anak yang sedang berdebat saat ini.
"Apa sih Vi? Gue juga gatau kalo bonyok bakal kerumah lo."
"Ih kan seenggaknya lo ngabarin gue dulu. Tau gitu gue gak bakalan marah-marah karna nungguin lo kelamaan."
"Gimana mau ngabarin orang gue tidur pas dijalan. Ciee kangen dikabarin ya?"
"Gausah geer lo Raf."
Rafa adalah putra dari Nadia dan Bram, itu sebabnya Devi sedikit kaget saat melihat kedatangan Rafa ke rumahnya.
Kayaknya mereka udah saling kenal?
Iya yah, itu buktinya ngobrol terus.
Gile, kita orang tuanya di cuekin.
Jadi inget pas dulu pacaran.
••••
Tok tok tok ...
"Dimas!!!! Buka pintunya ih!!!!!!!!"
Walaupun jam masih menunjukkan pukul 05.00 pagi, tapi Devi sudah berada dibalkon kamar Dimas.
"Aduuh, bentar Vi. Ada apa sih pagi-pagi gini?"
"Lah, lo kenapa??" Tanpa menjawab pertanyaan Dimas, Devi langsung memeluknya. Devi terus memeluk Dimas sangat erat dengan air mata yang menetes dipipinya.
"Yaudah, lo nangis aja dulu. Kalo udah tenang harus ceritain semuanya ke gue ya sayang."
Hampir 15 menit Devi menghabiskan waktu untuk menangis dipelukan Dimas. Dan sudah hampir 15 menit pula Dimas mencoba untuk menenangkan Devi. Tak lama kemudian tangis Devi pun perlahan mulai berhenti.
"Gimana? Udah bisa cerita?"
"Ud-ah."
"Oke, kasih tau sekarang apa yang bikin lo nangis ampe kayak gini?"
"Gu-e."
"Gu-e di-jo-doh-in Dim."
Deg!!
"Hah? Lo bercanda kan Vi?"
"NO!!! Sedikitpun gue gak bercanda."
"Terus gimana Vi? Lo nerima gitu aja?"
"Enggak lah Dim!!! Lo tenang aja, gue akan tolak perjodohan itu kok."
"Baru akan? Berarti belum?"
"Please Dim, dengerin dulu. Kenapa gue baru mau nolak karna emang rencananya siang ini bonyok mau ngomong sama gue. Gue tau duluan karna gak sengaja denger percakapan mereka."
"Emang lo di jodohin sama siapa?"
"Sama Ra-fa."
"HAH? LO BERCANDA KAN VI? KOK BISA SAMA RAFA SIH? AH GUE TAU!! INI PASTI CUMAN AKAL-AKALAN SI RAFA AJA. YOU KNOW LAH VI, DIA KAN NAKSIR LO DARI PAS SMP. DIMANA SI RAFA SEKARANG? GUE HARUS NGOMONG SAMA DIA!!!"
"Sabar dulu Dim, jangan emosi. Orang tua Rafa ternyata temen bonyok gue lagian Rafa juga gatau soal ini. Gue juga belum bilang sama Rafa karna menurut gue lebih penting kalo gue ngasih tau lo dulu. Pokoknya apapun yang terjadi gue gabakalan terima perjodohan ini."
"Apa gue bisa percaya sama lo?"
"Apa gue gabisa dipercaya Dim? Sampe lo ngomong kaya gitu?"
"Bukan, gue cuman gamau kehilangan lo."
"Dan gue pun sama. Inget Dim, i'm yours and yours mine. Jadi, gaada sedikitpun alesan buat gue nerima perjodohan ini."
Karna acara perjodohan akan dilakukan hari ini, maka Devi tidak masuk sekolah. Bukan hanya Devi yang izin tetapi juga Dimas. Dimas selalu mengontrol perkembangan pertunangan antara Devi dan Rafa.
Beribu alasan Hadi lakukan agar putrinya tidak masuk sekolah, bahkan Sarah pun bingung sendiri dengan sikap suaminya karna Sarah juga tidak tahu kalo Devi akan dijodohkan dengan putra sahabatnya.
Makan siang, waktu yang Hadi dan Bram tentukan untuk membicarakan soal perjodohan tersebut. Mereka kini sedang berada dimeja makan bersama-sama.
"Devi."
"Rafa."
"Ada yang mau Papi omongin sama kalian."
"Ada apa Om?"
Lah, jadi mau ngomong sekarang soal perjodohan konyol ini.
"Papi pengen kamu sama Devi bisa hidup bersama."
"Mas? Ini maksudnya apa?" Sarah yang kebingungan dengan ucapan Hadi langsung menyuarakan pendapatnya.
"Jadi gini Sarah, aku sama Hadi udah sepakat buat jodohin anak kita."
"GABISA!!"
"GABISA!!"
"GABISA!!" Rafa, Sarah, dan Nadia kompak menjawab ketidaksetujuan mereka, sedangkan Devi terlihat tenang karna dia tahu semua ini akan terjadi.
"Maaf Pih, Om. Devi rasa perjodohan bukan keputusan yang tepat. Apalagi respon dari Rafa, Mami, juga Tante Nadiapun menyiratkan bahwa kami tidak setuju. Devi masih SMA, sedangkan Kak Rafa udah kuliah. Kak Rafa pinter banget, yang harusnya dia kelas XII tapi udah kuliah. Masa depan Kak Rafa masih panjang, begitupun Devi. Kami pasti tidak akan setuju dengan hal yang akan mengganggu masa depan kami. Itu sebabnya Devi harap Papi dan Om bisa mengerti dengan apa yang Devi bicarakan."
Hening, tidak ada yang menyangka jika Devi akan melakukan hal tersebut. Karna biasanya Devi tipe anak yang nurut dengan apapun keputusan orangtuanya. Namun pendapat Devi akhirnya diterima dengan baik oleh Papi dan Om Hadi. Walaupun mereka tidak bisa menjodohkan Devi tapi setidaknya mereka sudah berteman, dan itu sudah lebih dari cukup.
♡ Dimas : Uncch, makasih sayang 😚 gak sia-sia aku belain gak masuk sekolah demi kamu. Kalo makannya udah selesai aku tunggu dibalkon ya, see you. 😍
Sebelum acara makan siang ini terjadi, sebenarnya Devi sudah menyambungkan telepon kepada Dimas. Jadi tanpa perlu menjelaskan apapun Dimas sudah tau semuanya.
Semua ini gue lakuin karena gue sayang banget sama lo Dim..
Tbc

KAMU SEDANG MEMBACA
WHY ALWAYS HIM?
Fiksi Remaja" KAPAN TOBAT? " Hanya kalimat itu yang selalu ingin dia tanyakan. " PELAMPIASAN " Hanya kata itu yang menggambarkan dirinya. " TINGGALKAN " Hanya tindakan itu yang harusnya dia lakukan. Berawal dari sebuah perjanjian yang mereka sepakati, maka ber...