Gimana kalo lo bilang suka sama gue? Yang jadi masalah, gimana cara gue nolak disaat gue udah masuk kedalam pelukan lo Dim, upss bukan Dimas tapi mickey.
☆☆☆☆
Tak seperti biasanya Yuri datang ke sekolah lebih awal, jam 06 tepat Yuri sudah berdiam dimejanya. Yuri sengaja berangkat lebih pagi agar bisa menghindari jemputan dari Dimas. Yuri masih bingung harus memberikan respon seperti apa jika nanti bertemu dengan Dimas.
"Ri? Tumben lo udah ada dikelas jam segini?" Saat sedang asik termenung, Yuri dikagetkan dengan sosok Devi yang tiba-tiba berada didepannya.
"Astaga Vi, lo bikin gue kaget."
"Kaget? Perasaan gue biasa aja, elonya aja tuh yang ngelamun? Mikirin apa sih?"
"Bukan apa-apa kok."
"Gamau cerita? Yakin? Pertanyaan yang tadi belum dijawab?"
"Oh iya lupa, gue dianter sopir sengaja lebih awal soalnya dia bakal langsung nganterin bokap. Lo juga kenapa udah ada disini?"
"Kalo gue sih hari ini piket, btw itu jaketnya Dimas kan?" Tak sengaja Devi melihat jaket yang berada digenggaman Yuri.
"E-h iya, mau gue balikin nih. Semalem pas gue lagi keluar ketemu si Dimas, yaudah gue minta dia anterin gue aja sekalian terus jaketnya gue pinjem. Rencananya hari ini mau gue balikin kok."
Maaf, gue harus boong sama lo Vi.
"Oh, jangan sering minta anter sama Dimas ye Ri. Lo harus lebih berhati-hati sama Dimas."
Hati-hati, jangan sampe lo jatuh cinta sama dia Ri. Gue gamau persahabatan kita hancur hanya karna seorang cowok.
"Haha, kagak lah Vi. Orang semalem juga cuman kebetulan. Yaudah ayok kita piket, gue bantuin lo deh."
Akhirnya Yuri membantu Devi untuk membersihkan kelas, tak lama kemudian siswa siswi juga mulai berdatangan. Saat semuanya dirasa sudah bersih Devi dan Yuri berniat ke kamar mandi untuk mencuci tangan. Namun, saat sedang berjalan di koridor Dimas datang sambil melambaikan tangan kepada Yuri. Devi sedikit bingung kenapa Dimas melambaikan tangan, tidak mungkin itu di tujukkan untuknya. Sudah pasti bahwa Dimas berniat menyapa Yuri. Yuri yang melihat wajah bingung Devi langsung paham tentang apa yang di fikirkan Devi, sebelum Dimas mendekat Yuri terlebih dahulu menyered Devi pergi ke toilet.
"Vi, lo masuk dulu aja ke toilet. Gue mau ngambil barang dulu."
"Oh iye."
Baru saja mengantar Devi, Yuri sudah dikagetkan dengan kehadiran Dimas di depan pintu.
"Haii minnie."
"Ssst.. lo ngapain sih disini?"
"Gue mau nyapa lo lah, terus mau nanya juga kenapa lo matiin ponsel lo dari semalem?"
"Bisa gak kita ngomongnya gak disini?"
"Kenapa emang?"
"Ada Devi didalem, masa lo gak liat sih?"
"Gue liat kok, emang kenapa?"
"Bego! Gue gamau Devi sampe tau! Ayok ikut gue, kita ngobrol digudang aja."
Setelah sampai digudang Yuri memastikan dulu keadaan disekitarnya. Dia tidak mau jika sampai ada yang melihatnya sedang bersama Dimas.
"Gue gak nyangka lo milih tempat yang gelap buat kita ngobrol. Lo mau macem-macem ya sama gue?"
"Najis! Mesum lo!! Sebelum gue jawab pertanyaan gue, gue mau mastiin dulu sesuatu sama lo."
"Mastiin apa minnie?"
"Maksud lo apaan semalem bilang kalo lo suka sama gue?"
"Lah, emang ada yang salah? Toh emang itu kok kenyataannya. Gue suka sama lo Yuriko Aryani."
Bruk...
"Suara apaan tuh?" Yuri langsung mengecek keadaan diluar, hampir saja jantungnya copot takut jika ada yang mendengar percakapannya. Untungnya, hanya seekor kucing yang terjatuh dari atas kardus.
"Lo kenapa sih ngecek keadaan mulu? Udah kaya maling yang takut ketahuan nyolong."
"Berisik lo, kalo gatau apa-apa gausah ngomong."
"Ck, cowok emang selalu salah. Ieeww."
"Oke balik ke topik tadi, kalo lo bilang suka sama gue. Secara otomatis lo udah kalah taruhan dong? Berarti lo harus mutusin Devi sekarang juga."
"Siapa bilang?"
"Jangan pura-pura bego Dim! Kan lo sendiri yang bilang pas kita taruhan."
"Minnie ku sayang, gue bilang kan SUKA sama lo. Kalo dalem perjanjian kan nyatain CINTA, masa lo gabisa bedain sih."
Mendengar jawaban Dimas, Yuri langsung merenungkannya. Ternyata jawaban Dimas memang ada benarnya, sudah jelas antara suka dan cinta memang sangat berbeda.
"Udah gausah ngelamun gitu, kalo lo lengah dikit gue cium nih."
"Xianjing!!" Yuri langsung menoyor kepala Dimas membuat Dimas mengerucutkan bibirnya.
"Kekerasan njir!! Pokoknya nanti kita jalan lagi entar, gue bakalan jemput lo lagi oke."
Yuri hanya mengangguk menandakan setuju, setelah itu mereka pergi bersama menuju kelasnya.
••••
Devi kini sedang termenung dikamarnya, dia masih memikirkan pertanyaan Kevin tadi pagi saat disekolah.
Vi, lo mau gak jadi pacar gue?
Perkataan Kevin seakan terus menghantui fikirannya. Devi tidak mau sampai salah mengambil langkah, dia harus benar-benar memikirkan jawaban terbaik yang harus diberikan.
Shit!! Kevin lo bikin gue bingung!!!!!
Tbc

KAMU SEDANG MEMBACA
WHY ALWAYS HIM?
Teen Fiction" KAPAN TOBAT? " Hanya kalimat itu yang selalu ingin dia tanyakan. " PELAMPIASAN " Hanya kata itu yang menggambarkan dirinya. " TINGGALKAN " Hanya tindakan itu yang harusnya dia lakukan. Berawal dari sebuah perjanjian yang mereka sepakati, maka ber...