"Wah, jadi ratu es sekolah kita sekarang jadi tunanganku?" tanya Bara, usil.
Bianca hanya mendengus keras. Keduanya tengah berjalan di tengah lorong rumah sakit tempat ayah Bianca dirawat. Saat ibu Bianca memasuki kamar rawat tadi, ayahnya meminta Bianca mengantarkan Bara ke lobi. Seolah-olah, Bara adalah anak kecil yang tidak tahu arah, sehingga Bianca harus repot-repot menemaninya turun dari lantai tiga menuju lantai dasar.
"Anak sekolah kita gak akan ada yang tahu." sahut Bianca datar.
Bara menoleh cepat. "Apa? Maaf, ya, Bi. Momen ini aku tunggu-tunggu banget. Kapan lagi aku bisa pamerin si ratu es sebagai tunanganku, pacarku. Itu prestasi buat pejantan kayak aku."
"Bocah." lirih Bianca, namun dapat didengar Bara dengan jelas.
"I heard that, Bi."
Bianca menghentikan langkahnya. "Aku bukan tunangan kamu. Bukan pacar kamu."
Bara ikut berhenti dan menatap Bianca tak suka. Sebelum Bara mengeluarkan protesnya, Bianca sudah bicara kembali.
"Kamu akan menjagaku? Siapa kamu sampai kamu harus mengemban tugas itu?"
"Apa siapa aku itu penting? Yang penting aku sudah berjanji, Bi. Pantang bagi pria sejati untuk melanggar janjinya."
"Kalau gitu kenapa kamu harus berjanji, Bar? Jadi beban tahu, gak?"
Bara berdehem. Tatapannya mulai serius. Egonya sedikit terluka melihat gadis di depannya kembali menolak menjalin hubungan dengannya.
"Let's make it simple, Bi. Tugasku, adalah menjaga kamu dari pria brengsek di luar sana. Dan untuk memudahkanku menjagamu, aku akan berperan sebagai tunangan kamu. Kamu akan baik-baik saja selama bersamaku. Dan saat kamu mulai menyukai seseorang, aku akan memastikan bahwa kamu menyukai orang yang tepat, bukan orang yang akan mempermainkanmu."
"Lantas apa yang kamu dapatkan dari semua ini, Bar?" tanya Bianca heran.
"Janjiku lunas."
Kali ini Bianca melongo. "Gak pernah ada yang gratis, Bar. Sebenarnya berapa hargamu untuk semua drama ini?"
Bara terdiam sebentar. "Aku sudah dua kali nembak kamu, Bi."
"Hanya untuk taruhan dengan teman-teman playboy kamu." sahut Bianca santai.
"Saat Papa menunjukkan foto kamu, aku tahu ini kesempatanku,..."
"Sialan, kamu Bar!" seru Bianca penuh emosi. "Bahkan untuk janji sepenting itu, kamu masih menganggapnya sebagai mainan? Taruhan? Bocah, Bar! Sikap kamu bocah banget, sumpah!"
Bara menekan emosinya kuat-kuat. Mengabaikan umpatan Bianca, ia melanjutkan kata-katanya yang terputus.
"Aku tahu kalau perjodohan ini adalah kesempatan emasku untuk dapetin kamu. Aku tahu benar, harta dan fisikku gak pernah mempengaruhi kamu. Tapi Om Faris itu ayah kamu. Dan kamu gak akan menolak permintaan ayah kamu."
"Aku sedang berusaha menolaknya sekarang."
"Bi, kondisi ayah kamu,..."
"Aku lebih tahu kondisi ayahku, Bara."
"Bi,..."
"Let's make a deal."
"Eh?"
"Kita hanya perlu sedikit drama. Aku akan bantu kamu memenangkan taruhanmu. Dan kamu akan menjadi guardian-ku hanya di depan ayahku."
Bara terdiam. "Tapi aku harus menjaga kamu di mana pun kamu berada."
"Aku bisa jaga diri, Bar."
"Janjiku gak begitu, Bi. Sama saja aku melanggarnya."
"Aku berusaha mengurangi bebanmu, Bar. Suatu saat nanti kita akan menyukai seseorang. Jelas janji kamu itu hanya akan jadi beban."
Bara menatap Bianca serius. "Kalau gitu, gak usah drama. Kita buat aku suka kamu, kamu suka aku. Kita serius jalani ini hingga dewasa. Menikah, happy ending."
Bianca berdecih. "Kata-kata kamu gak sesuai dengan fakta. Kamu bahkan gak bisa bertahan dengan satu cewek lebih dari sebulan."
Bara yang nyaris kehabisan kata-kata hanya mampu meremas rambut gondrongnya. "Janji ini seperti harga diriku, Bi."
"Kamu bahkan tidak cukup berharga di mataku."
Bara menatap Bianca penuh permusuhan. "Jadi kamu mau drama?"
Bianca mengangguk, merasa sudah memenangkan perdebatan ini.
"Fine! Kita ikuti caramu. Jadi pacarku di sekolah. Kita menangkan taruhan sialan itu! Dan jadi tunanganku hanya di hadapan keluarga kita, terutama Om Faris, ayahmu."
"Deal!" seru Bianca, terlalu antusias.
"Belum, honey." Melihat kerutan di dahi Bianca, Bara melanjutkan. "Kita akan kembali menggunakan caraku, kalau di antara kita ada yang jatuh cinta satu sama lain. Deal? "
Bianca tertawa geli. "Deal! Gak akan ada perasaan menggelikan itu di antara kita."
Bara tersenyum miring. "Deal, kalau begitu."
Keduanya bersalaman. Kontak fisik mereka untuk pertama kali.
"Sampai Ayah sembuh." ucap Bianca sambil menatap Bara.
Bara menggoyangkan tautan tangannya dengan Bianca. "Yup. Sampai Om Faris sembuh."
KAMU SEDANG MEMBACA
Loving You, Hurting Me
RomanceDua hati yang saling mendamba Dua raga yang sulit bersama
