Bara sakit.
Entah sejak kapan penyakit maag akut bersarang pada tubuh remajanya. Ia akui, terakhir ia makan adalah kemarin pagi, sebelum bermain futsal.
Pertemuannya dengan Bianca, dilanjutkan dengan meninggalnya Om Faris, lalu proses administrasi rumah sakit, permintaan ambulans, proses pemakaman dan sebagainya, memang membuat Bara kehilangan nafsu makan. Ia bahkan tidak sempat merasa sedih, karena ada Febia dan Bianca di dekatnya yang terlihat begitu terpukul. Dan sebagai lelaki sejati, ia tidak mungkin ikut menangis histeris walaupun ia begitu menginginkannya. Dan juga karena janjinya.
Bara merasakan rasa sesak itu lagi. Dokter keluarganya mengatakan bahwa itu tidak ada kaitannya dengan lambungnya. Jadi Bara simpulkan ini sebagai perasaan sedihnya.
Bara tahu, sejak Faris memintanya berjanji hari itu, Bara akan mengalami ini. Kehilangan sosok lain yang ia kagumi setelah ayahnya. Sosok yang membantunya mendapatkan Bianca. Bianca-nya.
Bara meraba bagian depan kaosnya, merasakan perasaan aneh saat ia teringat Bianca. Bara yakin di balik wajah dinginnya semalam, Bianca-nya tengah meraung-raung meratapi kepergian ayahnya. Dan jika bukan karena bed rest total tiga hari ini, ia pasti akan mendampingi Bianca.
Setelah membantu ayahnya menyiapkan beberapa hal di rumah duka dan kepentingan pemakaman, Bara diminta pulang untuk istirahat. Ayahnya mengatakan bahwa Bara terlihat pucat. Dan keesokan harinya, ibunya panik karena Bara ditemukan pingsan di depan pintu kamar mandi.
Bara menyesali apapun yang harus terjadi secara bersamaan. Kematian ayah Bianca. Penyakitnya yang tiba-tiba ada. Rasa khawatirnya untuk Bianca.
Ya, ia mengkhawatirkan Bianca-nya.
Bahkan, Bara mungkin sudah gila saat menyadari bahwa kini ia juga merindukan ratu es-nya, Bianca-nya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Loving You, Hurting Me
RomanceDua hati yang saling mendamba Dua raga yang sulit bersama
