Bara membanting pintu mobilnya sambil bersenandung. Dengan lagak dramatis, ia menghirup udara kemudian menghembuskannya lega. Ia merasakannya. Aroma bangku dan papan tulis. Di sekolahnya.
Satu minggu menjadi tahanan rumah, membuat Bara merindukan sekolahnya. Merindukan sahabat-sahabatnya. Merindukan teriakan fans beratnya. Merindukan Bianca-nya.
Melirik jam tangannya, dengan percaya diri ia melangkah menuju kelasnya. Namun beberapa meter sebelum sampai tujuan, Bara berhenti di depan kelas Bianca. Mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kelas, Bara menemukannya. Bianca-nya.
"Bi!" teriak Bara semangat. Berhasil menarik perhatian siswa lain yang belum menyadari keberadaannya.
Bianca yang tengah menunduk menyalin catatan teman sebangkunya, hanya mengangkat kepalanya, lalu kembali menekuri catatannya. Bersikap santai, seolah itu adalah hal wajar.
Bara mengernyit heran. Ia melangkah memasuki kelas, lalu duduk di bangku kosong, di depan Bianca. "Pagi, Sayang."
"Hm." sahut Bianca tanpa menoleh sedikit pun.
"Acara keluarganya udah selesai, ya?"
Bianca melirik Bara. Hanya sekejap mata sebelum menyahut, "Hm."
Bara sadar, ada yang salah. Namun ia juga tahu, Bianca tidak akan bersusah payah untuk menjelaskan apapun kepadanya.
"Bi, kamu kapan ke makam Om Faris lagi?"
Bianca tidak menjawab.
"Aku mau ikut. Seminggu lalu, kan, aku gak bisa datang."
Belum sempat Bianca menjawab, bunyi bel terdengar di seluruh penjuru sekolah.
"Udah bel. Upacara." singkat Bianca yang langsung bangkit dengan atribut lengkap. Tidak berusaha menunggu Bara yang masih termangu menatap kepergian Bianca.
Apa yang terjadi?
Benak Bara mulai menampilkan berbagai kemungkinan. Namun tak ada satu pun kemungkinan yang ia yakini benar. Bara mulai mengingat kata-kata atau sikap yang pernah ia tunjukkan pada Bianca.
Selain kematian ayahnya, apa yang membuat Bianca berubah?
Bukan. Bianca tidak berubah. Bianca hanya kembali lagi seperti dulu. Menjadi ratu es-nya yang tak tersentuh.
KAMU SEDANG MEMBACA
Loving You, Hurting Me
Storie d'AmoreDua hati yang saling mendamba Dua raga yang sulit bersama
