Bianca diam seribu bahasa. Tatapan mematikan dari Bara di sampingnya, membuatnya gelisah. Salah satu tangannya masih Bara genggam erat. Seolah-olah, tidak ingin melepas Bianca sama sekali.
Setelah melepas pelukannya, Bara langsung menarik Bianca duduk di salah satu bangku taman. Dan sejak beberapa menit yang lalu, Bara tidak mengucapkan apapun.
Tiba-tiba Bara terkekeh. Membuat Bianca menelan ludah karena takut.
"Jadi apa artinya aku untukmu, Bi?"
Bianca mengerjap bingung.
"Setiap kali aku cukup optimis terhadap perasaanmu, kamu malah meninggalkanku."
Genggaman tangan Bara mengerat. "Katakan, Bi. Apa yang salah dengan kita? Kenapa kita selalu berakhir dengan pelarian kamu?"
Bianca berkaca-kaca. Bara menatapnya lelah.
Apa yang telah kulakukan padamu, Bar?
"Kalaupun Tuhan menakdirkan kita melakukan ini seumur hidup, kita akan selalu berakhir dengan aku yang menggenggam tanganmu seperti ini."
Bianca memberanikan diri membuka suara. "Aku. Akulah kesalahan itu, Bar. Seharusnya aku pergi dari hidupmu."
Kali ini Bara menatapnya putus asa. "Jadi semua ini hanya kesalahan?"
Bianca menggeleng. "Maksudku,..."
"Aku gak berarti apa-apa untukmu, bukan?" sambung Bara cepat.
Kali ini Bianca menggenggam erat tangan besar Bara dengan kedua tangannya.
"Kumohon, dengarkan aku, Bar."
Bara terpaku melihat Bianca yang menatapnya penuh tekad.
"Perasaan kamu. Perasaanku. Kita. Semua itu nyata. Aku mencintai kamu. Sejak dulu. Tolong jangan ragukan itu."
Bianca menelan ludah sebelum melanjutkan. "Aku menginginkan kamu. Sampai rasanya aku lebih baik mati daripada tetap hidup tanpa kamu."
Bianca menunduk, enggan menatap Bara dengan tatapan terluka. Pegangan tangannya melonggar, membuat Bara terusik. "Tapi keberadaanku hanya akan menjadi beban buat kamu. Kamu akan menikah."
Sejenak, keduanya terdiam. Bianca mulai merasa hancur saat menyadari bahwa tangannya benar-benar terlepas dari Bara.
"Jadi akhirnya selalu seperti ini. Selalu aku yang mengejar kamu, sedangkan kamu terus melangkah mundur."
Bianca mengangkat pandangan dan melihat Bara menatapnya keras.
"Kita saling mencintai Bi. Itu artinya kita akan tetap bersama, apapun yang terjadi."
Kali ini Bianca menatap Bara dengan lelah.
"Kamu ingin berpisah?"
Bianca memucat melihat Bara tertawa sinis. "I don't. So, let's make a deal."
Bianca mengernyit heran. "Jangan main-main, Bar."
"Aku serius. Ayolah, Bi. Kita sedikit bernostalgia. Bukannya kita berawal dari kesepakatan?"
"Apa lagi mau kamu, Bar? Tidak bisakah kamu melepasku saja?"
Bara menyeringai. "Melepasmu? Kamu lupa kalau salah satu ginjalku sekarang ada dalam tubuhmu?"
Bianca melotot sempurna.
Bara bersedekap. "See? Dulu aku mengikuti caramu karena aku tidak berhak atas hidupmu. Tapi sekarang berbeda. Jadi kita pakai caraku."
"Apa maumu, Bar?" tanya Bianca pasrah.
"Ayo kita menikah."
Bianca mematung.
"Kita jelas saling mencintai. Dan aku bukan lagi remaja tanggung yang pernah kamu ragukan dulu. Menikah adalah solusi yang tepat, bukan?"
Bianca menggeleng. "Bar, ini salah,..."
"Sst! Kamu gak punya hak berpendapat apa-apa. Ingat, aku berhak penuh atas hidupmu. Dan sebesar apapun keinginanmu untuk mati, bukan kamu yang berhak memutuskan, Bi."
Bianca kehilangan kata.
Bara bangkit. "Jadi, Bianca. Bersiaplah menjadi istriku dalam waktu dekat. Dan jangan coba-coba kabur membawa ginjalku."
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Loving You, Hurting Me
RomanceDua hati yang saling mendamba Dua raga yang sulit bersama
