The Perfect One Who Broken Inside

358 35 0
                                        

Enam tahun berlalu, Bara memutuskan untuk pulang ke Indonesia. Bara tahu, dengan mengingat negara asalnya itu, ia akan terngiang pada betapa hancurnya dia dulu. Untuk pertama kalinya Bara benar-benar jatuh cinta, dan untuk pertama kalinya Bara mencoba memperjuangkan apa yang benar-benar diinginkannya. Namun untuk pertama kalinya Bara harus kecewa. Bahwa seseorang yang ia inginkan, tidak pernah menganggapnya ada.

Bara melihat kondisi bandara yang sudah cukup berubah sejak terakhir ia meninggalkan kota ini. Ia kembali mengingat pagi itu, saat ia tak henti-hentinya memastikan kedatangan seseorang. Saat itu, panggilan keberangkatan untuknya sudah berkumandang berkali-kali. Tapi ia tetap yakin, Bianca-nya akan datang. Bara begitu yakin bahwa ia tidak bertepuk sebelah tangan.

Sampai panggilan terakhir, Bara akhirnya menyerah. Dan yang disadari Bara, Bianca tidak datang. Bianca tidak memiliki perasaan yang sama. Bianca tetap tak tersentuh. Bara bertepuk sebelah tangan.

***

Bianca kembali memperhatikan tatanan rangkaian bunga yang ia susun. Sempurna, pikirnya. Kemudian, seorang berseragam merah muda mendekatinya.

"Sudah, Mbak?"

Bianca berdiri tegak disusul dua kali anggukan kepalanya. Gadis berseragam tersebut membalasnya dengan senyum lebar, lalu meraih rangkaian bunga setinggi satu meter itu ke dalam pelukannya.

"Hati-hati, Re." ucap Bianca pelan.

"Siap, Mbak!" seru gadis tersebut mulai terengah-engah.

Bianca tidak melepaskan pandangannya pada gadis berseragam yang baru saja melalui pintu kaca. Dari balik dinding kaca, ia melihat rangkaian bunga tersebut telah sampai di tangan pelanggan. Bianca pun mendesah lega.

Bukan menjadi dokter di ruang prakteknya, Bianca justru menjadi seorang florist karena suatu alasan. Enam tahun berlalu, Bianca tidak menyesali keadaannya. Ia hanya rindu pada seseorang. Seseorang yang Bianca inginkan, tapi tidak Tuhan izinkan.

Bianca membuka buku catatannya, melihat beberapa orderan untuk hari ini. Setelah mencermati detail pesanan, Bianca mulai mencatat jenis bunga yang ia butuhkan. Setelah itu, Bianca mulai memilih beberapa bunga segar di halaman belakang gedung.

Bianca hanya perlu bertahan. Diam dan tak tersentuh telah menjadi kekuatannya selama ini. Walaupun di dalam sana, Bianca berteriak sekuat tenaga. Ia ingin Bara mendengarnya. Ia ingin Bara juga bertahan sepertinya. Karena perasaan mereka sama. Mereka tidak bertepuk sebelah tangan. Ralat, mereka tidak pernah bertepuk sebelah tangan.

Loving You, Hurting MeCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang