"Aku pulang, Mbak! Beneran gak mau ditemenin?"
Rere menatap Bianca dengan matanya yang bulat. Setelah membantu menyelesaikan rangkaian bunga dan merapikan toko, Rere memang harus pamit pulang. Berbeda dengan Rere yang tinggal beberapa blok dari florist Bianca, Bianca memang tinggal di lantai atas florist-nya.
Bianca menggeleng. "Hati-hati, Re."
Rere sudah cukup lama mengenal Bianca dan paham benar bahwa ucapan manis itu mengandung unsur pengusiran.
"Mbak juga hati-hati. Langsung kunci pintunya ya, Mbak. Aku pulang."
Bianca tidak menanggapi apapun. Suara langkah Rere dan senandung pelan wanita lincah itu berakhir dengan suara pintu yang berdebam.
Bianca menghela nafas. Ia memandangi seluruh penjuru ruangan yang gelap. Cahaya dari lampu depan sedikit membantu penerangan. Pandangannya terpaku pada sebungkus plastik sampah berwarna hitam yang terisi penuh di sudut ruangan.
Bianca bergumam kesal. Rere sering ceroboh sehingga kerap kali melupakan beberapa hal dalam pekerjaannya. Akhirnya ia bangkit dan merasa kepalanya berdenyut nyeri. Akhir-akhir ini ia merasa sering lemas dan cepat lelah. Bianca mengingatkan dirinya untuk meminum suplemen penambah darah malam ini.
Suasana sepi florist-nya berbanding terbalik dengan kondisi jalanan di luar. Beberapa kendaraan masih cukup banyak berlalu lalang walaupun malam semakin larut. Bianca nyaris menggeret plastik sampahnya karena merasa benar-benar lemas. Beruntung letak tempat sampahnya tepat di depan pintu masuk.
"Bi,"
Bianca baru akan berbalik saat suara itu terdengar. Bianca langsung menemukan sumber suara karena hanya terdapat satu orang bertubuh jangkung yang tengah berdiri tegak di hadapannya.
"Bara?" gumam Bianca nyaris berbisik.
Bara tersenyum miring. "Aku kira kamu lupa namaku."
Bianca menguatkan hatinya. "Mau pesan bunga lagi? Acara lamarannya sukses?"
Bara menunduk sejenak sebelum menjawab. "Ya. Sukses. Pernikahannya sebulan lagi."
Bianca menelan rasa pahit yang entah muncul dari mana. Mendadak, ia butuh asupan gula lebih banyak.
"Kalau gitu, selamat malam. Sekali lagi, selamat."
"Bisa gak, kamu berhenti lari dariku, Bi?"
Bianca mematung. Ia urung membalikkan tubuhnya. Bianca bahkan menahan nafas saat Bara melangkah mendekatinya dengan tatapan intens.
"Ada banyak hal yang perlu kita bicarakan."
Bianca membalas tatapan Bara tidak kalah sengit. "Gak ada yang perlu dibicarakan."
Bianca bergerak secepat mungkin memasuki toko. Namun, Bara jelas lebih gesit menahan pintu.
"Kamu tinggal di sini?!"
Pertanyaan Bara yang terlalu keras, membuat Bianca melotot. "Apa-apaan, sih! Kalo mau buat keributan, jangan di sini!" seru Bianca kesal.
"Kamu yang apa-apaan!" balas Bara dengan nada tinggi.
Keduanya terdiam. Bara terlihat berusaha mengontrol emosinya, sedangkan Bianca tengah sibuk sendiri menahan debaran jantungnya. Matanya fokus pada pergelangan tangannya yang digenggam begitu erat oleh tangan besar Bara.
"Ayo kita bicara."
"Bicara apa lagi?" tanya Bianca dengan nada lelah.
"Tentang apapun yang terjadi enam tahun lalu."
Bianca menarik tangannya. "Bukan urusanmu!"
Tiba-tiba Bianca merasa pandangannya berputar. Bianca memegang kepalanya yang sedari tadi terasa berat karena terlalu banyak menangis. Bianca menggeleng-gelengkan kepalanya berharap pandangannya kembali normal.
Yang terjadi selanjutnya, Bianca jatuh pingsan dan berhasil ditangkap Bara. Pelipis kiri Bianca sedikit terluka karena sempat terbentur pintu sebelum ia ditangkap Bara.
KAMU SEDANG MEMBACA
Loving You, Hurting Me
RomanceDua hati yang saling mendamba Dua raga yang sulit bersama
