Bianca menggenggam erat ponselnya. Matanya terpejam, berusaha meredam apapun yang bergejolak di area jantungnya. Menarik nafas panjang, lalu dihembuskan. Ia terus mengulanginya hingga ia kembali dalam kondisi terkontrol.
Bianca tidak ingat, sejak kapan suara Bara di telepon bisa mempengaruhinya sebesar ini. Bianca harus berusaha menjaga suaranya tetap terdengar ketus. Dan mendengar bahwa Bara tengah sakit, Bianca tahu bahwa ia tidak merasa biasa saja.
Bianca melirik ibunya yang terlelap di sampingnya. Ia tersenyum, mengulurkan tangannya, merapikan anak rambut ibunya yang mencuat berantakan. Dalam hati ia bersyukur terlahir dari wanita setegar ibunya. Satu-satunya keluarganya sekarang. Rumahnya. Bagian terpenting dari sisa hidupnya.
Bianca berbohong, tentang acara keluarga dan keluarga ayahnya. Hari kedua kematian ayahnya, rumah Bianca sepi. Hanya tersisa sejumlah karangan bunga yang mulai rusak dan menjadi tumpukan sampah. Semua keluarga besarnya kembali pada rutinitasnya, setelah meminta Bianca menghubungi mereka jika membutuhkan apapun. Meninggalkan Bianca dan ibunya.
Hari ketiga kematian ayahnya, Bianca dan ibunya harus menghadapi cobaan pertamanya tanpa sang ayah. Perusahaan konstruksi yang telah dibangun ayahnya dari nol, bangkrut. Hari itu, pengacara ayahnya datang dengan raut wajah kasihan yang tidak ditutupi.
Pria itu menjelaskan, bahwa selama ayahnya sakit, beberapa proyek yang telah dirancang ayahnya jauh-jauh hari, mengalami kegagalan tanpa pengawasan langsung ayahnya. Awalnya, perusahaan mampu memberikan kompensasi pada klien yang menuntut ganti rugi. Namun, akibat kegagalan itu, beberapa investor menarik investasinya, dan perusahaan semakin terlilit hutang. Ditambah lagi dengan karyawan yang mulai takut terancam PHK, langsung mengajukan pengunduran diri dan menuntut pesangon. Akhirnya semua aset perusahaan harus dikorbankan.
"Kecuali rumah ini," lanjut pria itu pelan. "Faris pernah mengatakan bahwa apapun yang terjadi nanti, ia tidak akan menjual rumahnya. Oleh karena itu, saya mempertahankan rumah ini. Maaf, saya hanya bisa melakukan ini untuk kalian."
Bianca hanya diam. Begitupun ibunya. Bianca tahu, ibunya hanya ibu rumah tangga yang tidak paham bisnis. Yang Bianca pahami adalah dia tak memiliki harta apapun selain ibunya dan rumah ini.
"Dan satu lagi, untuk Bianca. Faris sudah mengatur asuransi pendidikan untuk kamu. Kamu tidak perlu kuatir masalah pendidikan kamu sampai lulus sarjana nanti."
Bianca menghela nafas. "Terima kasih, Om. Seenggaknya, Bian gak akan putus sekolah."
"Selama sisa masa sekolah kamu, sampai kamu diterima di perguruan tinggi, saya akan bertindak sebagai wali kamu. Ini juga adalah janji saya pada almarhum."
Janji lagi? Berapa banyak orang yang sudah berjanji untuk Ayah?
Bianca mengangguk. Febia hanya mematung.
"Saya mungkin hanya orang asing bagi kalian. Tapi Faris adalah sahabat saya. Dan karena itu, kalian adalah tanggung jawab saya."
Bianca mengangguk lagi. Tak mengeluarkan sepatah kata pun.
Pria itu menghela nafas. "Jadi setelah ini, apa rencana kalian?"
Kali ini, Bianca mendongak. Menatap wajah pria tua itu, ia lalu menggeleng.
"Seberapa besar asuransi pendidikan Bianca, Petra?" tanya Febia membuka suaranya yang terdengar serak.
Petra menatap Febia. "Cukup besar, selama gaya hidup Bianca tidak terlalu mewah."
Febia menelan ludah. "Apa mungkin, jika uang asuransi itu kami gunakan untuk biaya hidup sehari-hari?"
Petra menghembuskan nafas. "Apapun ide konyol kamu, Bia, saya tidak akan membiarkannya. Bianca tetap menyelesaikan sekolahnya dengan asuransi itu. Saya bisa membantu kamu menyisihkan sebagian dana pendidikan Bianca untuk menopang biaya hidup kalian. Kalau itu yang kamu takutkan. Kamu hanya perlu berhemat."
Bianca mulai pusing membayangkan kehidupannya setelah ini.
"Perawatan rumah ini terlalu mahal, Petra. Akan susah untuk berhemat." sahut Febia sambil menunduk. "Tapi rumah ini, hadiah Faris untuk Bianca saat aku masih mengandung. Aku tidak bisa menjualnya."
"Kita bisa menyewakannya!" seru Bianca cepat. "Iya, kan, Om?"
Pria bernama Petra itu tersenyum. "Itu juga yang saya pikirkan. Bianca, kamu tidak keberatan kalau rumah ini disewa orang lain, dan kamu mencari tempat tinggal lain yang lebih sederhana?"
"Tentu saja." jawab Bianca. "Hanya sementara, Bunda. Sampai Bian bisa dapat kerja dan kita akan tinggal di sini lagi."
Febia tahu, ia tak punya jalan keluar lain. Hanya rumah ini harta mereka, peninggalan suaminya, ayah dari putrinya.
"Oke."
Dan di sinilah mereka. Petra dengan mudah menemukan penyewa pada hari yang sama. Petra juga berhasil menemukan rumah kecil yang letaknya cukup dekat dengan sekolah Bianca. Hari kelima kematian ayahnya, dihabiskan untuk mengemas barang-barang pribadi mereka, menjual barang yang tidak terlalu penting, memberikan pesangon kepada para pembantu dan tukang kebun, transaksi dengan penyewa rumahnya, menyimak beberapa aturan dalam perjanjian mereka, kemudian meninggalkan rumahnya menuju rumah baru.
Rumah kontrakan ini hanya terdiri atas satu kamar tidur ukuran 4 × 3, satu kamar mandi ukuran 2 × 1, dapur merangkap ruang makan ukuran 3 × 2, dan ruang tamu ukuran 3 × 3. Jauh lebih sempit dari rumah lama mereka, namun Bianca merasa ini lebih dari cukup. Beruntung, rumah ini menyediakan beberapa perabot seperti ranjang, lemari, meja makan, dan kursi tamu. Beberapa perabot rumah tangga lainnya akan diantar besok dari rumah lamanya.
Bianca memejamkan matanya. Tubuhnya begitu lelah, setelah mengatur beberapa barang pribadinya. Besok, ia akan bangun sebagai Bianca yang baru. Bukan lagi Bianca Alfarisi, putri pengusaha konstruksi yang terpandang. Dia hanya akan menjadi Bianca, ratu es di sekolahnya.
Dan besok, dia tidak lagi menjadi Bianca-nya Bara.
Pemikiran itu, entah sejak kapan, membuatnya merasa sesak.
KAMU SEDANG MEMBACA
Loving You, Hurting Me
RomanceDua hati yang saling mendamba Dua raga yang sulit bersama
