Awal Mula : Take Your Time

363 32 0
                                        

"Kita perlu bicara, Bi."

Bara merasa sudah cukup untuk semua rasa penasarannya. Untuk itu, ia mulai bertingkah seperti penguntit. Dengan pesonanya, ia meminta hampir semua siswa, terutama siswi perempuan, untuk mengabarinya jika mereka bertemu atau tengah bersama Bianca. Strategi jitu, karena pada percobaan hari pertama, Bara berhasil menemukan Bianca di antara rak buku perpustakaan.

Bianca terkejut, tentu saja. Tapi ia menekan perasaannya, mempertahankan wajah datar andalannya. Ia kembali menyisir pandangannya mencari buku seperti apa yang dilakukan sebelum Bara datang, seolah-olah Bara baru saja lewat.

"Ada apa sebenarnya, Bi?" tanya Bara tidak sabaran.

Bianca memasukkan kembali buku yang baru diambilnya. Dan tetap membisu.

"Aku ada salah? Karena aku gak datang ke pemakaman ayah kamu?" Kali ini Bara terdengar seperti merengek.

Bianca tetap membisu.

"Bianca, please. Aku bisa gila kalau kamu gini terus."

Bianca melangkah menjauhi Bara untuk mencari buku di deretan rak lain. Tanpa menanggapi Bara.

"Dan kenapa tiba-tiba rumah kamu bukan lagi rumah kamu? Sejak kapan kamu pindah?"

Kali ini Bianca menunjukkan reaksinya. Tangannya yang terjulur mendadak berhenti. Bara menyadarinya, sehingga dengan cekatan, Bara memegang kedua pundak Bianca dan memutar tubuh Bianca ke arahnya.

"Apa yang kamu sembunyikan, Bi? Please, cerita ke aku."

Bianca, yang sempat kehilangan orientasi, segera mengembalikan kesadarannya. Bara bisa melihat selubung yang sempat menipis tadi, kini menebal sekokoh dinding. Bianca-nya kembali tak tersentuh.

Bianca bergerak anggun melepaskan pegangan Bara pada bahunya. Menatap Bara sinis. Setidaknya itulah yang Bara lihat.

"Kalau kamu lupa, ini perpustakaan. Tempat orang baca. Bukan tempat ngobrol."

Dengan tenang, Bianca melenggak pergi melewati Bara yang terpaku di tempatnya. Bianca tahu, tak lama lagi Bara akan menyusulnya. Untuk itu, Bianca nyaris berlari saat ia berhasil keluar dari ruang perpustakaan. Tujuan utamanya, toilet perempuan.

Untungnya, saat Bianca masuk, ia berpapasan dengan beberapa siswi yang baru selesai menggunakan toilet. Jadi saat ini, Bianca dapat melepas topengnya sejenak. Dalam kesendirian.

Bianca membasuh wajahnya berkali-kali. Bagian depan kerah seragamnya mulai ikut basah. Ia menatap pantulan dirinya di cermin. Matanya memerah. Dengan tangannya yang basah, ia meraba bagian kiri dadanya. Tempat jantungnya kini berdetak begitu cepat sejak tadi.

Anehnya, ia merasa sesak. Bianca merasa sesuatu di dalam dirinya diremas-remas oleh tangan tak kasat mata. Ia menyadari tatapan lelah Bara. Betapa putus asa dirinya.

Jangan kayak gini, Bar.

Kemudian, Bianca kembali mengeraskan hatinya.

Kalau kamu kayak gini hanya karena kesepakatan itu, aku akan tegaskan semuanya.

Bianca melangkah cepat keluar toilet. Tidak terkejut melihat Bara kini tengah bersandar di depan pintu toilet.

"Well, kita gak di perpus sekarang." kata Bara terdengar sinis.

Bianca memaksakan wajahnya tetap datar. Walaupun terbersit perasaan ngeri melihat ekspresi Bara saat ini.

"Bagus, aku pikir ini saatnya menyelesaikan apapun tentang kita." sahut Bianca, bersidekap dan menatap Bara angkuh.

"Apa maksud kamu?" tanya Bara tak suka.

"Sepertinya kamu masih terbawa suasana, ya, Bar?"

Bara terdiam menunggu. Ia sudah berdiri tegak sekarang. Menatap tajam gadis di depannya.

"Hubungan pacar-pacaran kita. Seingatku, semua itu cuma kesepakatan." lanjut Bianca masih dengan nada santai.

Bara menggeram menahan emosi. Tangannya terkepal. Kukunya menancap nyaris melukai telapak tangannya.

"Kita membuat kesepakatan itu sampai ayahku sembuh. Tapi seperti yang kita tahu, Ayah meninggal. Dengan kata lain, kesepakatan itu udah gak ada artinya lagi."

"Jadi kamu berpikir seperti itu?" tanya Bara masih dengan sisa emosinya.

Bianca mengangkat kedua bahunya. "Dan kita kembali seperti semula. Dua orang yang gak saling kenal."

Bara tersenyum miring. "Kamu pikir akan semudah itu?"

"Kita hanya dua orang asing yang bersangkutan karena dipaksakan kondisi. Dalam kasus ini, kondisi yang aku maksud adalah ayahku. Jadi setelah kondisi itu gak ada, kita bisa kembali pada tempat kita masing-masing. Tanpa saling mengusik."

"Oh, ya? Bagaimana dengan janjiku? Janjiku adalah permintaan terakhir ayahmu." tanya Bara menantang.

"Tidak perlu berlebihan. Kamu hanya remaja tanggung yang belum wajib bertanggung jawab sebesar itu. Atas nama ayahku, janji itu aku tarik kembali." jawab Bianca tenang.

Bara terkekeh sarkastik. "Semua gak sesederhana ini, Bi. Kamu tahu itu."

Bianca balas tertawa sinis. "Jangan membuat hal sederhana menjadi rumit, Bar."

Bara menghembuskan nafas lelah. "Fine. Seperti kesepakatan sebelumnya, kita ikuti caramu."

"No more deal, Bar." sahut Bianca cepat.

Bara tertawa keras. "Memang gak. Tapi kenyataannya, kita tetap akan berlagak seperti maumu, kan? Another drama? "

"And no more drama, Bar." sahut Bianca kesal. "Dan seingatku, Bar, gak pernah ada kita."

Bianca langsung melangkah pergi meninggalkan Bara. Bara menatap punggung Bianca yang semakin menjauh. Ia menyandarkan punggungnya pada dinding di belakangnya.

"Bodoh, kamu, Bi." lirih Bara sambil menunduk.

Bara tersenyum miring. "Take your time, Bi. Without me."

Loving You, Hurting MeCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang