Awal Mula : Bianca

376 35 0
                                        

Ayah tidak mungkin meninggal.

Bianca menatap miris gundukan tanah yang masih basah di hadapannya.

Tapi di dalam sana ada Ayah.

Bianca meremas bagian depan blouse hitamnya.

Bian mau Ayah.

Dan tangis itu berderai lagi.

Bianca masih bersimpuh di sana. Enggan meninggalkan jasad ayahnya di dalam sana. Berharap ayahnya akan bangun lalu mengajaknya pulang.

Para pelayat tak banyak tersisa. Hanya keluarga dekatnya yang masih berada di sekitar makam. Febia telah dibawa pulang karena berkali-kali pingsan.

Sejak semalam, jenazah ayahnya dipulangkan, Bianca tidak menangis. Saat Bara membisikkan ungkapan dukanya, Bianca tahu Bara menangis, tapi Bianca tetap tidak bisa menangis. Saat rumahnya mulai ramai dengan sahutan suara tangis dan kumandang Surah Yasin, Bianca tetap membisu menatap jenazah ayahnya datar. Pelukan dan tangisan yang dilimpahkan pelayat untuknya tak membuatnya tersentuh. Guru dan teman-teman sekolahnya yang ikut datang melayat pun tak membuatnya menitikkan air mata.

Karena ayahnya masih bersamanya. Tertidur pulas, dengan wajah pucat dan tubuh yang dingin. Tapi ayahnya masih di rumah bersamanya. Ayahnya tidak pergi.

Namun saat ayahnya terkubur di bawah sana, Bianca tahu, ayahnya tidak akan pulang ke rumahnya lagi. Ayahnya akan tetap di sini. Ayahnya tidak bersamanya lagi.

Jadi Bianca memutuskan untuk berlama-lama di sini. Tidak peduli dengan jeans kesayangannya yang bercampur tanah becek. Bianca ingin dekat dengan raga ayahnya. Sebelum rasa rindu itu mencekiknya. Bianca ingin merayakan hari pertamanya sebagai yatim. Menangisi kehilangannya akan pahlawannya. Penjaganya. Penyelamatnya. Cinta pertamanya.

Bianca akan merelakan semuanya. Seperti apa yang diajarkan ayahnya tentang penerimaan. Bianca berjanji akan ikhlas. Tapi nanti, setelah Bianca menuntaskan perasaan ini. Lewat tangisnya.

Dan Bianca tak sadar, bahwa hari itu Bara tidak ada bersamanya.

Loving You, Hurting MeCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang