10. Kode (?)

3.8K 425 43
                                        


***

"Mereka mana, sih? Katanya nyuruh duluan, tapi kok lama," gumam Choki saat ia dan Zaki sudah duduk di salah satu meja kantin selama hampir 5 menit, tapi Lukas dan Dylan belum juga tampak.

"Pasti gara-gara Ken. Ngambil tas aja seabad," Zaki menyahut. "Kita pesan dulu aja, deh. Gue lagi pengin mi goreng telur. Lo mau apa, Chok?"

Choki mengamati tabel menu dan harga ukuran besar yang tertempel di tembok belakang Zaki. "Kayaknya gue pengen yang anget-anget. Bakso apa soto, ya?"

"Bakso aja. Soto di sini rasanya kurang mak nyus. Kuahnya kayak kurang bumbu," Zaki menyarankan. "Minumannya gue es teh aja, deh. Dompet lagi tipis. Si Squidward nggak mau bagi rejeki padahal baru dapat kiriman dari Ayah."

"Sama. Uang jajan gue juga habis buat servis motor kemarin. Nyokap jadi nggak mau ngasih uang tambahan gara-gara semester lalu gue turun peringkat ke nomor 20. Masa gue harus malakin adik gue tiap hari, sih?" ujar Choki sambil membuang napas sebal. "Kira-kira Dylan mau bayarin nggak, ya?"

"Minggu kemarin kan dia udah nraktir lo," jawab Zaki. "Kayaknya Lukas yang dompetnya lagi tebel. Coba aja lo minta dia. Tapi bener, mereka ngajak Ken keliling Taman Mini dulu apa ke mana, sih? Lama amat."

"Ah, itu dia mereka!" Choki berseru saat melihat Dylan memasuki kawasan kantin Holly. "Dyl! Dari mana aja sih lo?"

"Nggak dari mana-mana," jawabnya lantas menarik bangku di sebelah Zaki. "Kalian udah pesan?"

"Baru milih menu sih," jawab Choki.

"Kas, lo habis jalan pakai gaya-gayaan slow motion apa gimana, sih?" Zaki menanyai Lukas yang jalan belakangan. "Pasti Ken yang... loh!" Ia langsung kaget saat melihat sesosok cewek yang ada di sebelah ketua bandnya itu. "Ini Ken atau... siapa?" ucapnya pelan, takut salah orang.

Lukas melirik Naira yang bertingkah gugup karena terus dipandang Zaki dan Choki. "Iya, ini emang Ken, kok."

"Lah, kok itu...?" tunjuk Zaki tepat ke kepala Naira.

Lukas sendiri tampak bingung harus berkata apa. "Baiknya kita pesan makanan dulu deh sebelum cerita," ujarnya sambil menyuruh Naira duduk di sebelah Choki.

Selama menunggu pesanan diantar ke meja, empat cowok itu tak henti-hentinya melirik Naira. Sudah barang pasti jika mereka penasaran dengan apa yang telah terjadi pada cewek itu. Namun sayang, meski bermenit-menit sudah berlalu Naira belum juga mau bersuara.

"Sebenarnya ada kejadian apa?" bisik Choki pada Dylan di hadapannya.

"Nggak tahu juga. Gue cuma lihat Libra keluar dari ruang studio lebih dulu sebelum lihat rambut Ken jadi begitu," jawab Dylan sama pelannya.

"Libra?" Sekali lagi Choki melirik Naira di sebelah. Ia lalu berkedip ke arah Lukas, memberinya kode supaya cowok itu mencaritahu apa yang terjadi.

"Ken!" Tiba-tiba Zaki berseru. "Itu rambut lo kenapa jadi begitu? Lo pakai rambut palsu?" lontarnya tanpa basa basi hingga tiga temannya langsung bertampang kaku. "Jangan diam aja, dong. Gue penasaran asli, rambut pirang lo kok bisa jadi pink gitu?"

Detik terus berlanjut tapi jawaban Naira tak kunjung datang. Maka aksi saling pandang memandang di antara para cowok saja yang tercipta sampai beberapa lama. Padahal mereka sangat penasaran.

"By the way lihat Ken pakai benda pink gitu kok gue jadi keingat seseorang, ya?" ucap Zaki lagi, memecah kesunyian.

"Seseorang siapa?" Dylan menanggapi.

Zaki terkikik sebentar. "Teman sekelas lo, tuh. Si Princess. Kan dia suka warna pink."

Dylan pun tertawa. "Naira lagi, Naira lagi," ucapnya geli. "Kayaknya lo punya ketertarikan khusus sama Naira ya, Zak? Udah berapa kali lo nyebut nama dia hari ini?"

Princess In RockCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang