"Arzaki," panggil Naira dengan suara pelan tapi masih cukup untuk bisa didengar. Zaki yang masih duduk di tempat serta merta mendongak.
"Gue... gue mau ngomong sesuatu sama lo," ucap Naira. Ia telah berhenti tepat di hadapan Zaki sekarang. Wajahnya cemas. Naira bisa merasakan jantungnya berdegup sangat kencang. Kali ini bukan lagi degupan hangat yang menyenangkan, melainkan lebih seperti ketakutan.
"Ngomong apa?" Zaki menyahut. Naira menatapnya sebentar. Muka Zaki tampak serius dan waspada, seolah ia sedang berfirasat jika apa yang akan dikatakan Naira bukanlah hal bagus untuk didengar.
"Sebelumnya gue mau minta maaf baru mengatakannya sekarang," ucap Naira perlahan. "Sebenarnya... gue..." Badan Naira gemetar. Ia tak menyangka mengaku pada Zaki akan jadi sesulit ini.
Kemarin saat masih sering ikut latihan di Holly, Naira pikir mengakui Ken adalah Naira tak akan terlalu menegangkan. Apalagi di depan Zaki yang sering kali ketus padanya. Naira lebih memikirkan rasa malu tentang hobi ngerocknya daripada memikirkan reaksi Zaki. Tapi melihat kenyataan sekarang Naira sadar, pengakuannya pada Zaki bukan lagi masalah malu, melainkan lebih pada perasaannya.
Selama ini Zaki selalu jujur terhadap Naira. Tak peduli saat ia mengobrol dengan Naira asli atau pada waktu menjadi Ken, Zaki selalu berbicara apa adanya. Sedang Naira sebaliknya. Mendadak Naira merasa takut. Bagaimana kalau setelah ini Zaki marah padanya? Bagaimana kalau dia jadi membencinya? Bagaimana kalau ia merasa dibohongi?
"Arzaki, gue sungguh-sungguh minta maaf," ulang Naira daripada semakin gelisah. "Gue harap lo nggak salah paham setelah ini. Gue nggak pernah ada niat buruk sama sekali. Gue... gue cuma terlalu malu buat ngaku."
Sekali lagi Naira melihat ke arah Zaki. Cowok itu tengah memandangnya seksama. Tanpa kedip, tanpa suara. Naira menarik napas panjang kemudian memejamkan mata. Detak jantungnya bergema di telinga, seperti detakan jarum jam di tengah malam yang sepi. Naira takut, tapi ia tahu ia harus mengatakannya.
"Sebenarnya... gue adalah Naira." Akhirnya kalimat itu terucap juga. "Gue adalah Naira yang lo kenal di SMA Bendera. Gue yang sekelas dengan Choki dan Dylan. Gue adalah orang yang sama dengan orang yang sering lo bicarakan. Maaf baru mengaku sekarang," ucapnya sambil menunduk, berusaha mengabaikan getaran tangan dan dadanya.
"Selama ini Ken cuma nama yang gue pakai saat gue dandan kayak gini," kata Naira lagi. "Tapi gue nggak niat menyamar atau pura-pura jadi orang lain. Dari awal gue nggak ada sedikitpun maksud buat membohongi, gue cuma malu. Gue malu kalau orang lain tahu gue punya hobi nyanyi rock apalagi sampai suka dandan begini. Gue harap lo mau ngerti."
Tak ada tanggapan dari Zaki sama sekali. Satu suara pun. Naira bisa membayangkan apa yang kini tengah cowok itu alami. Mungkin ia terlalu kaget. Mungkin juga malu.
Karena hampir lewat semenit tapi Zaki tak juga bersuara, akhirnya Naira memberanikan diri mengangkat kepala. Bagaimanapun ia penasaran dengan reaksi Zaki. Dalam bayangannya cowok itu tengah terbelalak sambil ternganga. Kemungkinan ia akan marah besar setelah bisa menguasai diri.
"Arza...!" Naira memekik waktu melihat keadaan di depannya. Zaki tidak ada. Cowok itu sudah tidak ada di kursi yang beberapa saat tadi masih didudukinya. Naira panik. Apa semarah itukah Zaki sampai-sampai ia langsung pergi begitu saja? Sekaget dan seterpukul itukah dia hingga main meninggalkannya? Naira melihat berkeliling untuk mencari jejak Zaki yang tersisa.
Sekali lagi Naira dibuat terpekik. Rupanya Zaki belum pergi seperti yang ia kira. Cowok itu justru sedang berdiri di dekat pintu tenda, masih tak jauh dari posisi Naira.
"Kok bisa? Jadi harus jemput sekarang? Ah, nggak tahu orang lagi capek aja, sih. Pokoknya nanti harus ditraktir lho, Squid. Pijitin juga kalau perlu. Oke, nggak usah cerewet! Tunggu sebentar. Adikmu yang super ganteng ini segera datang." Zaki sedang berbicara dengan seseorang di telepon, Naira menyadarinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Princess In Rock
Teen FictionArzaki Van Java, Dylan, dan Choki yang merupakan personil band sekolah, suatu hari mendapati Naira dalam kejadian yang sangat memalukan. Sebisa mungkin Naira selalu menghindari mereka setelah kejadian itu. Sayang, kegemaran Naira di luar sekolah jus...
