"Mati? Siapa yang mau mati?" Tiba-tiba sebuah suara muncul sampai dua cowok itu nyaris terjengkang.
"Kak Sari?" Dua detik setelah menoleh ke belakang kemudian Choki berseru. "Haduh, Kak, lo ngagetin aja. Jantung gue kayak mau copot, nih," ujarnya sambil mengelus dada.
Zaki di sebelah tak berkata apa-apa. Agaknya ia masih terlalu syok gara-gara melihat Naira dan Lukas di sana. Jadi kemunculan Sari yang mendadak cuma menambah mulutnya susah bersuara saking kagetnya.
"Habis, gue lihat kalian berdua ngendap-ngendap di depan rumah Kelly ngapain coba? Kalian mau ngintipin Naira?" tuduh cewek itu saat mengetahui pemandangan di depan.
Mendengar nama Naira disebut tentu saja Choki dan Zaki langsung geger lagi.
"Kak Sari, itu si Princess ngapain mau nyanyi sama Lukas? Apa ini artinya si Princess... jadi... jadi...."
"Jadi-jadi apa, sih?" Sari menatap tak sabar Zaki. "Lo mau ngomong apa, Dek?"
Zaki menarik satu napas panjang agar bisa berbicara lebih lancar. "Princess Pink itu siapanya Kak Kelly? Kok dia bisa di sini? Terus Ken mana? Kok Lukas malah sama Princess yang mau nyanyi?"
"Apa?" Sari melongo ditanya Zaki bertubi-tubi.
"Tadi Lukas bilang sama kami kalau dia mau main ke rumah Ken," Choki menyambung. "Tapi kenapa sekarang Naira yang ada di sini? Terus dia manggil Kak Kelly 'Mbak', dia juga dipanggil 'Dek'. Terus dia sama Lukas juga mau nyanyi. Terus Ken-nya nggak kelihatan. Apa ini berarti...."
Setelah terbengong berdetik-detik, tiba-tiba Sari tertawa. Ia terpingkal-pingkal sambil memegangi perutnya. "Gila!" Ia bahkan memunggungi keduanya untuk tertawa lebih kencang lagi. "Ya ampun, sampai geli gue. Asli."
Choki dan Zaki saling bertukar pandang untuk entah untuk ke berapa kalinya. Mereka benar-benar tak mengerti dengan sikap Sari.
"Kak Sari, lo ngetawain apa?" Akhirnya Zaki menepuk pundaknya agar ia berhenti. "Ken sama Naira bukan orang yang sama, kan?" Ia bertanya dengan muka tegang.
"Sini, deh." Setelah puas tertawa, Sari menyuruh Zaki dan Choki lebih mendekat masih dalam posisi jongkoknya. "Apa di sekolah kalian mengenal Naira dengan baik?"
"Tentu aja. Gue kan teman sekelasnya," jawab Choki langsung.
"Kalau gitu, lo pasti tahu Naira itu orangnya kayak apa."
Mendengar kata-kata Sari, sekali lagi Zaki dan Choki saling berpandangan.
"Naira?" Choki menjawab lebih dulu. "Ya jelas lah. Princess Pink gitu. Dia anaknya kalem, nggak neko-neko, kalau ngomong nadanya halus...."
"Juga sangat manis dan berhati lembut," Zaki melanjutkan dengan imbuh satu senyum jailnya.
"Maksud lo berhati lembut?" Choki meliriknya.
"Gue tahu sebenarnya selama ini dia mau nolak tiap gue ajak jalan. Gue juga sadar dari awal dia nggak begitu suka sama gue," Zaki menuturkan. "Tapi biar begitu dia selalu berusaha memperlakukan gue dengan baik. Setiap dia mengabaikan gue atau sedikit aja bikin gue tersinggung, pada akhirnya dia minta maaf dan benar-benar kelihatan menyesal. Orangnya nggak tegaan. Dia nggak suka bikin orang sakit hati biarpun orang itu nggak dia sukai. Jadi bagi gue itu adalah suatu bukti dari kelembutan hati yang hakiki."
"Whooa," Choki berdecak. "Lo deket sama Naira belum begitu lama tapi lo udah sekenal itu sama dia. Good job, Bro!"
"Lah, apaan sih malah bahas kelembutan hati?" sela Sari. "Udah deh, sekarang gue mau tanya. Kalau menurut kalian Naira selembut itu apa masuk akal ngira dia dan Ken orang yang sama?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Princess In Rock
Teen FictionArzaki Van Java, Dylan, dan Choki yang merupakan personil band sekolah, suatu hari mendapati Naira dalam kejadian yang sangat memalukan. Sebisa mungkin Naira selalu menghindari mereka setelah kejadian itu. Sayang, kegemaran Naira di luar sekolah jus...
