***
"Bu Hana sudah mau bikinin surat langsung dari Pak Kepsek kalau nyokap lo keberatan lo ikut latihan."
"Apa Libra juga ikut?" Naira menatap Dylan yang berdiri di dekat mejanya.
"Tentu aja. Miko Galaxio minta kita buka konsernya dengan formasi kayak pas tampil di SMA Global," terang cowok itu.
"Lo udah ngomong langsung sama orangnya belum?" Choki yang ada di sebelah Dylan menyambung. "Gue ragu dia mau ikut latihan sampai hari konsernya tiba."
Dylan tersenyum. "Kalau Naira ikut, gue yakin Libra bakal turut serta. Lo nggak lihat dari kemarin dia ngawalin Naira terus? Tuh, sekarang dia juga lagi ngawasin kita."
Choki menengok Libra di bangku pojok kiri paling belakangnya. "Hiii, serem gila. Lo aman-aman aja kan, Nai? Lo serius jalin hubungan sama Libra apa? Itu sebabnya lo sama Dylan nggak jadian?"
Naira dan Dylan saling melirik lalu kompak tertawa.
"Nggak jelas lo berdua," gerutu Choki yang belum tahu kebenarannya. "Omong-omong Zaki kenapa nggak mau ke sini sih, Dyl? Tadi gue udah ngasih tahu dia perihal Mozaik Day dan Bu Hana, tapi dia cuma jawab ya. Gitu doang. Aneh nggak?"
"Gue belum ketemu dia dari pagi," jawab Dylan. "Lagi sibuk praktek di lab kali."
Naira menggaruk alis. Gawat juga jika Zaki mau ke sini. Setelah sampai kelas Naira baru sadar akan akan perbuatannya. Itu memalukan sekali. Bagaimana mungkin Naira tak berpikir dua kali saat ide konyol itu menuntunnya untuk mencium Zaki? Khilaf. Naira tahu bisikan setan lah yang telah membuatnya khilaf. Mana ia sok berani membisikkan kata-kata yang membuat melongo Zaki. Fix. Naira pasti kerasukan jin genit di pagi hari.
Hingga bel pulang berbunyi, nyatanya Zaki tak pernah kelihatan lagi. Di kantin, di koridor, di lapangan, di mana pun sudut sekolah yang Naira lewati, tak sekelebat pun ia melihat Zaki. Hal itu cukup membuat Naira cemas. Ia harap cowok itu sehat jasmani dan rohani. Bisa jadi Zaki demam karena terlalu terkejut akan sikap Naira yang mendadak jadi pemberani. Naira sadar, seperti itu memang bukan gayanya sama sekali.
"Libra, gue mau tanya," bisik Naira saat keduanya pulang menuruni tangga. "Gimana cara lo kemarin nembak Mbak Kelly? Apa lo bilang pakai kata-kata yang romantis? Atau lo langsung tembak aja?"
"Penting, gue kasih tahu?" jawabnya acuh tak acuh.
"Kalau nggak penting nggak bakalan gue nanya sama lo," sahut Naira. Setidaknya sejak jadi pacar Kelly, ia jadi berani mengobrol sedikit santai dengan cowok itu.
Libra membenarkan tali ransel yang menggantung di pundak, "Nembak ya nembak aja," katanya malas. "Gue suka sama lo. Gue mau jadi pacar lo. Lo mau nggak? Kalau nggak, gue bakal terus gangguin lo."
"Lo nembak cewek apa ngancam orang sebenarnya?" pekik Naira.
Libra melirik sengit. "Emang kata-kata seperti apa yang lo harepin dari gue?" sengaknya. "Ungkapan itu nggak penting. Kalau Kelly juga suka gue, apapun cara gue ngomong dia pasti bakal nerima."
Naira mendecak. Percaya dirinya oke juga. "Apa lo pernah nyium Mbak Kelly?" bisiknya kemudian.
Libra tertawa. Tawanya jelas aneh sekali. "Pernah," dan lebih aneh ia mau mengakui. Padahal Naira tak mengharap serius jawabannya kali ini.
"Itu kejadiannya kapan?"
"Kalau lo lihat jidat dan hidung gue diplester dari pagi, berarti malam sebelumnya itu terjadi." Libra menjawab. "Kakak lo sangar," ia melanjutkan, "tapi gue suka."
Naira tertawa ngeri. Ia bisa membayangkan bagaimana raut Kelly saat hal itu terjadi. Pasti horornya tak ada yang menandingi.
"Lo mau pulang bareng siapa?" tanya Libra tiba-tiba.
KAMU SEDANG MEMBACA
Princess In Rock
Teen FictionArzaki Van Java, Dylan, dan Choki yang merupakan personil band sekolah, suatu hari mendapati Naira dalam kejadian yang sangat memalukan. Sebisa mungkin Naira selalu menghindari mereka setelah kejadian itu. Sayang, kegemaran Naira di luar sekolah jus...
