Choki mengangkat alis sambil menatap Dylan. "Maksud lo rambut pirang apaan?"
"Gue nggak lihat jelas banget tapi gue yakin kalau yang dibawa Naira tadi sesuatu kayak rambut warna pirang," ujar Dylan.
"Maksud lo benda yang dibawa Libra pas di Holly? Pas dia bikin ceweknya kejengkang gara-gara rebutan jaket itu, ya?" cetus Choki membuat Dylan terbelalak, seolah tersadar sesuatu.
"Kenapa?" Choki yang sudah siap dengan ranselnya bertanya.
"Nggak. Gue cuma keingat sesuatu aja," jawab Dylan sambil ikut memakai tasnya. "Lo mau langsung balik?"
Choki mengangguk. "Gue udah janji mau ajak adik gue pergi hari ini. Kita nggak ada jadwal tampil, kan?"
"Nggak, sih. Ya sudah, ayo pulang!"
***
Begitu keluar dari kelas, Naira terus berlari dan tak menoleh lagi. Ia bisa mendengar sepatu lain berdebam-debam mengejarnya di belakang. Sudah pasti itu Libra.
"Nai, lo udah—"
"Minggir, Hus! Sori!" Tepat di ujung tangga, Naira menyibak Husni ke samping tanpa mempedulikan ucapannya. Ia terus melangkahkan kakinya jauh ke depan demi selamat dari Libra.
"Nai, kenapa lo? Aduh!" Husni buru-buru menyingkir tahu Libra datang menyusul Naira. "Si Princess jangan diapa-apain, Lib!"
Naira tambah tegang mendengar seruan Husni. Dadanya sampai kembang kempis. Ia bisa merasakan jika langkah Libra semakin mendekatinya. Naira mengeratkan wig di tangannya sambil menambah kecepatan.
Ujung koridor sudah kelihatan. Sebentar lagi Naira akan sampai halaman gerbang kemudian bisa meloloskan diri dari Libra. Bagus di sana ada Satpam. Barangkali ia bisa meminta tolong padanya. Nanti Naira akan meminta Kelly menjemput dan setelah itu wig pirangnya akan ia simpan di rumah supaya aman. Sebagai pengalaman ia tak akan pernah lagi memakainya keluar.
Karena terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri, Naira jadi tak sadar jika Libra sudah bisa menyamai langkahnya. Saat kesadaran Naira kembali dan tahu-tahu Libra sudah berada di sampingnya terang saja ia kaget. Bahkan secara otomatis Naira menghentikan gerakan kaki.
Naira mengatupkan bibir dengan wajah pucat. Jika tadi di kelas Libra tampak nanar bagai harimau kesetanan, sebaliknya sekarang ia menatapnya dengan pandangan datar.
"Maling!" lontar Libra tiba-tiba.
"G-gue bukan maling," Naira membela diri dengan suara gemetar. "Ini punya gue. Gue cuma mengambilnya kembali."
Libra berdecih sebal. "Kembaliin," pintanya.
Naira bergeming. Jelas ia keberatan jika harus menyerahkan barang kesayangannya pada Libra.
"Kembaliin, gue bilang," ulang Libra, masih dengan nada datar tapi menggetarkan nyali.
Naira mengulum bibirnya ke dalam, mencoba menahan tangis yang mendadak ingin keluar. Namun ia tahu ia tak punya banyak pilihan. Maka dengan sangat berat hati akhirnya ia mengangkat wignya ke depan.
Libra tersenyum miring. Tampaknya ia puas melihat Naira mengibarkan bendera putih tanpa banyak perlawanan. Libra baru menggerakkan tangan dan bermaksud mengambil rambut itu sampai tiba-tiba Naira bertanya, "Sebenarnya wig ini mau buat apa?"
Libra tak menjawab. Ia cuma menatap cewek itu tajam.
"Lo nggak beneran mau pakein wig ini buat kucing lo, kan? Buktinya lo bawa-bawa rambut ini ke sekolah," ucap Naira dengan nada yang sebenarnya tak cocok untuk menggambarkan orang sedang marah atau meminta penjelasan. "Jadi kalau lo nggak ada kepentingan sama benda ini sebaiknya—"
KAMU SEDANG MEMBACA
Princess In Rock
Ficção AdolescenteArzaki Van Java, Dylan, dan Choki yang merupakan personil band sekolah, suatu hari mendapati Naira dalam kejadian yang sangat memalukan. Sebisa mungkin Naira selalu menghindari mereka setelah kejadian itu. Sayang, kegemaran Naira di luar sekolah jus...
