"Lo baik-baik aja, Nai?" tanya Dylan.
"Hm, udah mendingan," jawab Naira pelan. Saat ini mereka sudah berada di back stage. Pengakuan Naira di panggung sudah selesai sekitar 10 menit yang lalu. Kini acara telah dilanjutkan dengan penampilan terakhir Classic Once. "Gue beneran deg-degan tadi. Gue takut banget."
Suasana ruangan menjadi sangat tenang. Semua orang terdiam. Beberapa panitia dari pihak Global tak lagi keluar masuk. Musik Classic Once yang mengalun dari luar ruangan menjadi satu-satunya suara yang terdengar.
Dylan coba memandang teman-temannya. Libra yang bersandar di dinding pojokan sambil meminum sebotol air mineral. Choki yang duduk bersebelahan dengan Zaki tampak berkali-kali mencuri pandang Naira dengan wajah tak tenang. Zaki sibuk menggerakkan leher juga meregangkan tangan, seolah-olah ia sedang mengatasi pegal. Sementara Naira, sejak tadi ia menunduk, tak berani dekat-dekat selain dengannya atau Libra.
Dylan tahu jika suasana berubah jadi kikuk sekarang. Terutama bagi Naira, Zaki dan Choki. Mereka pasti bingung harus bagaimana berkomunikasi setelah identitas Ken diungkap.
"Buat penampilan penutup sebentar lagi, kita jadi bawain lagu The Chainsmokers, kan?" Dylan berinisiatif mengambil bahan pembicaraan. "Gimana, Lib? Lo yakin udah tahu pasti harus main di mana aja?"
"Hem." Libra cuma menanggapi seperti itu.
"Zak, lo sama Naira perlu ngafalin lirik lagi nggak? Sebentar lagi kalian bakal duet," kata Dylan lagi. "Jangan lupa, lo berdua harus mendalami lirik lagu biar feel romantisnya tersalur ke semua orang."
Naira melirik Zaki penasaran. Cowok itu cuma menjawab singkat dengan anggukan kepalanya.
"Kalian ini kenapa sih?" Akhirnya Dylan menghampiri Zaki dan Choki yang duduk di bangku kayu panjang. "Gue paham kalau Choki masih kaget tahu Ken adalah Naira, tapi, Zak, bukannya lo udah tahu dari kemarin-kemarin, ya? Ngapain juga lo mesti bersikap kayak gitu?"
Zaki mengusap hidung lalu melihat Dylan dan sekilas Naira. "Gue cuma... apa, ya?" ucapnya bingung.
"Lo pasti marah sama gue." Naira yang merasa jadi sumber masalah memberanikan diri bersuara. "Lo juga ya, Chok?"
Tak ada yang menjawab.
"Gue ngerti kalau kalian marah. Gue emang salah karena nggak terus terang dari awal. Kalian boleh merasa dibohongi tapi beneran, gue nggak pernah ada maksud buat nyamar. Gue cuma nggak bisa nolak ajakan Lukas waktu itu. Gue malu buat ngaku sama kalian. Gue minta maaf ya, Arzaki, Choki. Maaf udah nggak terus terang selama ini."
"Emm, nggak apa-apa, kok." Choki kemudian menanggapi. "Yah, gue rasa gue mulai ngerti permasalahannya, tapi jujur aja gue masih kaget. Nggak nyangka aja seseorang kayak lo bisa jadi... mmh, yah, ngerock kayak gini." Choki lalu menyikut Zaki.
"Apa sih?"
"Lo ngomong apa, kek, jangan cuma diam begitu," bisik Choki. "Lo marah beneran sama Naira apa? Pantesnya juga dia yang marah sama lo."
"Kok lo ngomongnya gitu?" lirik Zaki tajam.
"Busyet. Lo nggak ingat apa aja yang udah lo lakuin sama Naira sebagai Ken selama ini?"
"Nggak usah diingetin gue juga ingat kali," balas Zaki. "Lo juga suka ikut-ikutan ngomongin dia, kan? Itu tuh waktu Lukas tanya siapa itu Princess Pink. Lo selalu paling semangat jelasin siapa dia."
"Tapi yang paling semangat bicarain pink apalagi barang berenda-rendanya itu lo, Zak. Kalau lo nggak bahas duluan gue juga nggak bakal ikut-ikutan," Choki tak mau disalahkan.
"Lah, kenapa lo jadi bahas pink berenda-renda? Kalau soal itu Dylan juga nggak ketinggalan," timpal Zaki.
"Tapi yang paling parah tetap aja lo."
KAMU SEDANG MEMBACA
Princess In Rock
Teen FictionArzaki Van Java, Dylan, dan Choki yang merupakan personil band sekolah, suatu hari mendapati Naira dalam kejadian yang sangat memalukan. Sebisa mungkin Naira selalu menghindari mereka setelah kejadian itu. Sayang, kegemaran Naira di luar sekolah jus...
