Sori ya telat up. Lagi sakit sih, jadi maklumin aja ☺️☺️
***
Naira sedang berbincang dengan Salsa dan Disty waktu Dylan datang. Dugaan Naira salah. Rupanya Dylan tetap mau mengajak kencan meski Libra sudah mengakuinya sebagai pacar.
"Daripada kesorean gimana kalau kita pergi sekarang?" kata cowok itu.
Naira tak lekas menjawab. Tadi waktu baru sampai sekolah ia sudah bilang tak lupa dengan acara ini. Ia bertingkah seakan sudah begitu siap menanti. Tak mungkin tiba-tiba sekarang ia menolak. Diliriknya Libra yang tengah duduk tak jauh dari Tomo dan Husni. Harusnya ia sudah maju.
"Lo takut sama Libra?" Ternyata Dylan mengetahui ke mana arah mata Naira.
"Nggak, kok. Gue cuma..." Naira menyelipkan rambut ke belakang telinga.
Dylan tersenyum. "Gue nggak percaya kalian serius ada hubungan. Gue tahu Libra suka bercanda," ucapnya. "Jadi tenang aja, gue nggak terpengaruh kabar itu, kok. Kita bakal tetap jalan."
Naira mengulum bibir ke dalam. Jika pagi tadi ia berharap demikian tapi tidak dengan sekarang. Ia justru ingin Dylan percaya agar mereka tak jadi kencan.
"Gimana? Lo siap kan kita pergi sekarang?" Suara Dylan membuat Naira menyentakkan kepala.
"Pasti siap, dong." Naira sampai melupakan Disty di sebelah kalau saja ia tak bersuara.
Salsa di sisi kiri Disty memainkan rambutnya, tak mengucapkan sepatah kata. Mungkin ia juga tak tahu harus memberi saran apa.
"Sebentar ya, Dyl. Gue ngomong sama Libra dulu," jawab Naira akhirnya.
"Lo nggak beneran jadian sama dia kan, Nai? Kenapa mesti pamit segala?" seru Disty.
"Tadi pagi kan dia jemput gue ke rumah," Naira beralasan. "Jadi gimana pun dia punya tanggung jawab buat nganterin gue pulang. Tadi dia juga ketemu Bunda. Tahu sendiri kan, gimana Bunda?"
Disty cuma ber-ooh. Ia, Salsa, serta Dylan mengawasi gerak-gerik Naira hingga berhadapan dengan Libra.
"Lib," pelan-pelan Naira memanggilnya. Ia tahu dirinya sedang diperhatikan Dylan dan teman-temannya.
Cowok yang sibuk bermain game itu mendongak.
"Dylan udah ngajak gue pergi," bisik Naira lirih.
"Ya udah. Sana pergi!" sahut Libra tak acuh. Kembali ia menatap ponsel.
Naira menyatukan alis. "Tadi kan gue udah minta lo buat barengin gue."
"Nggak usah jadi pengecut." Cowok itu berkata dingin. "Gue benci lihat orang melarikan diri. Sekarang pergi besok juga bakal ketemu lagi. Lo mau terus mengindar seperti itu?" sudutnya. "Hadapi dan selesaikan sendiri."
Naira menjatuhkan kedua bahu. "Tapi gue takut," ujarnya. "Gue nggak tega harus bikin Dylan kecewa. Dia udah selalu baik sama gue."
"Kenapa harus nggak tega?" Libra menginterogasi. "Lo takut menyakiti? Lo pengen dianggap baik hati? Atau alasan lain lagi?"
Naira terpegun.
"Lo punya kakak yang terus terang dan pemberani." Kemudian Libra berujar sinis. "Sesekali lo mestinya tiru juga sikap dia. Nggak tega itu cuma alasan buat orang yang nggak berani jujur mengatakan isi hati. Lo bisa kasihan sama orang lain tapi lo nggak pernah mengasihani diri lo sendiri. Kalau lo mau terus jadi orang seperti itu ya terserah. Lo yang nikmati hidup lo sendiri."
Rentetan kalimat yang Libra lontarkan begitu tajam menohok Naira. Anehnya, biarpun kejam tapi kata-kata itu terdengar benar. Sangat masuk akal. Seolah-olah ada tendangan yang sukses membuat satu ruang di kepala Naira terbuka.
KAMU SEDANG MEMBACA
Princess In Rock
Teen FictionArzaki Van Java, Dylan, dan Choki yang merupakan personil band sekolah, suatu hari mendapati Naira dalam kejadian yang sangat memalukan. Sebisa mungkin Naira selalu menghindari mereka setelah kejadian itu. Sayang, kegemaran Naira di luar sekolah jus...
