19. Debaran Cinta

3.2K 363 80
                                        

Naira tercengang. Ia coba mencerna baik-baik arti dari kalimat yang Dylan ucapkan. Seketika ia membelalak. "Jadi lo punya pacar?" Pertanyaan itu baru mau meluncur dari mulut Naira tapi seruan Lukas sudah lebih dulu memotongnya.

"Ken, sini deh! Lo harus lihat lagu baru kami. Zaki sendiri lho yang nulis liriknya!"

"Ah, iya. Lo pasti nggak bakal nyangka kalau Zaki bisa merangkai kata-kata romantis," Dylan berpaling pada Naira lagi sebelum menuju Lukas dan yang lain. Alin pun segera mengekorinya.

Bagai dibius gas beracun, Naira hanya mampu mematung di depan pintu. Agaknya ia masih belum yakin dengan apa yang baru didengarnya. Dylan punya pacar? Naira berusaha menggelengkan kepala kali saja ini cuma mimpi buruknya. Tidak mungkin. Ini tidak mungkin.

"Ken, cepat sini!" Namun suara Lukas membuat Naira sadar bahwa saat ini ia ada di dunia nyata. Maka cepat-cepat ia mengerjap dan mengalihkan pandangan.

Sebuah aliran listrik tegangan tinggi langsung menyengat jantung Naira kala ia melihat apa yang ada di hadapannya. Dylan sedang menggenggam tangan Alin, begitu pula sebaliknya. Mereka tampak begitu dekat, juga mengobrol dengan begitu hangat. Jantung Naira seketika berdenyut-denyut tak karuan.

Dylan sudah punya pacar. Dylan sudah punya pacar.

Kalimat itu terus berdengung di kepala Naira. Ia bahkan tak peduli sama sekali saat Lukas dan Choki mengajaknya tertawa gara-gara membaca lirik yang ditulis Zaki. Pikiran Naira sudah terlanjur kacau. Saat ini hatinya seperti sedang dihantam benda keras hingga mau pecah berkeping-keping rasanya.

Sepanjang latihan Naira benar-benar tidak bisa konsen. Setiap kali melihat Alin sedang dekat-dekat dengan Dylan kemudian mereka saling bercanda normalnya orang pacaran, Naira serasa ingin lenyap saja. Saat Dylan tersenyum lembut sambil mengelus-elus kepala Alin, saat Alin menggoda soal gaya rambut Dylan lalu cowok itu menyentil hidungnya.

Sungguh, ini apa? Sejak kapan Dylan punya pacar? Naira benar-benar tak tahan. Rasanya ia ingin pulang. Ia ingin pergi dan lari dari tempat ini. Pokoknya ke mana saja yang penting tidak melihat Dylan dan Alin pacaran.

"Ken, lo apa-apaan sih? Main lo fales melulu dari tadi!" semprot Zaki di akhir lagu pertama yang mereka mainkan.

"Sori," ucap Naira lirih, nyaris tak terdengar. Tenggorokannya terasa kaku dan berat. Naira hampir tak kuat menahan tangis yang kian mendesak.

"Lo kalau lagi nggak mood ngeband sudah duduk aja sana. Biar Lukas yang nyanyi," kata Zaki lagi. "Kas, mending kita latihan sama lo dulu, deh."

Lukas, Dylan, dan Choki saling berpandangan secara bergantian.

"Eh, gue serius. Lo nggak lihat Ken kayak nggak sehat gitu?" tunjuk Zaki hingga semua orang memperhatikan Naira. Cewek itu langsung menunduk karena tak ingin ada yang tahu bahwa matanya sudah berkaca-kaca.

"Lo kenapa, Ken? Lo baik-baik aja, kan?" Choki dari balik drum coba menanyainya.

Naira menggeleng, kesulitan berkata-kata. Ia yakin air matanya akan menetes kalau ia mengeluarkan suara sedikit saja. Oh, ayolah. Jangan menangis di sini, mohonnya dalam hati. Apa yang akan ia jelaskan pada mereka nanti? Jangan sampai ada yang tahu bahwa ia sedang patah hati.

"Ken?" Choki menyebut Naira lagi gara-gara ia diam saja. "Kas, si Ken kenapa? Dia nggak enak badan, ya?"

"Tadi waktu ke sini dia sehat-sehat aja, kok." Lukas menjawab sambil mendekati Naira. "Ken, lo nggak apa-apa?"

Naira semakin menunduk sambil memeluk gitar. Sungguh, andaikan ia bisa sedikit bermain drama pasti ia akan langsung tersenyum dan berlagak baik-baik saja. Sayangnya ia tak bisa. Ini adalah pertama kalinya Naira dibuat patah hati oleh cowok yang ia suka, tepat di depan orangnya.

Princess In RockCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang