"Nai, sesekali ajak Arzaki kencan dobel bareng gue dan Bima, dong." Lian berkata sambil mengangkat alis dua kali. Pelajaran Bahasa Inggris baru saja berakhir. Naira bersama teman-temannya tampak meninggalkan 11 Bahasa 3.
"Gue bilangin jangan mau, Nai." Disty yang muncul belakangan menyela. "Gue yakin ada niat terselubung di balik ajakan itu."
"Niat terselubung apaan maksud lo?" Lian membalas sengit.
"Ya apa lagi? Pasti biar lo bisa memandangi Arzaki secara lebih dekat dan rinci. Biar di hati lo sudah ada Bima, tapi mata lo kan masih senang menyerap asupan gizi."
"Weh, sembarangan lo, Dis. Itu namanya fitnah keji!" bantah Lian. "Kalau ayang Bima dengar dia bisa galau sampai tiga hari."
"Percaya, sih. Lo berdua kan emang pasangan lebay," sahut Disty tak peduli. "Gue duluan ya, guys. Sampai besok!" serunya saat anak kelas 10 yang menjadi gebetannya lewat untuk menghampiri.
"Huu... gaya doang tomboy. Nggak tahunya, doyan kencan sama junior!" cibir Lian hingga Salsa tergelak. "Gue serius, Nai. Nggak usah dengerin Disty. Kapan-kapan double date, ya? Nonton gitu, apa ke pantai rame-rame."
"Oke, deh. Gampang diatur," jawab Naira sambil tersenyum.
"Tapi gue rasa, apa yang diomongin Disty ada benernya deh, Nai. Ini anak pasti mau menyelam sambil minum air. Gimanapun baginya Arzaki tetap jadi pemandangan," ujar Salsa.
"Nah, nah. Lo kok jadi ikutan Disty gini sih, Sa? Fitnahin anak sepolos gue itu hukumnya dosa," serobot Lian.
"Iya, polos tapi tiap malam bacaannya cerita dewasa," balas Salsa segera. Naira tertawa.
"Eh, ngawur lo. Siapa bilang gue cuma baca cerita dewasa? Kemarin aja gue baca cerita romance misteri yang banyak pesan moralnya," kilah Lian. "Lo pernah dengar yang namanya Love Poison nggak? Pasti pada nggak tahu, kan? Di dunia ini ternyata ada sihir cinta yang serem luar biasa."
"Ah, gue tahu," Salsa cepat menyahut. "Itu nama tokoh utamanya Airi, kan? Yang diceritakan sekolah di Harapan Group terus kuliah di Universitas Pahlawan Nusantara?"
"Loh, kok lo tahu sih, Sa?" Lian langsung heran.
"Tahu lah. Gue sama Naira juga sempat baca beberapa waktu yang lalu," jawab Salsa gaya. "Yang awalnya Airi diterpa angin kencang lalu tiba-tiba sudah berada di masa lalu itu, kan? Dia melihat dirinya sendiri waktu masih SMP. Terus dia juga menjelajah ulang semua kisah cintanya selama SMA."
"Ah, gue suka sama calon malaikatnya, tuh. Gaara." Naira menimbrung. "Dia itu usil, sok bos, nyebelin, tapi lucu aja lihat interaksinya sama Airi."
"Kalau gue tahu Lian suka sama siapa!" Salsa berseru. "Pasti Rai Gazali. Ya nggak, Li? Kan sama-sama tampang polos tapi otak ngeres luar biasa."
Spontan Naira cekikikan.
"Yee, biarin. Rai itu ya, biar mulutnya kacau dan isi kepalanya nggak pernah jauh dari kata body tapi hatinya suci. Mana ganteng lagi," bela Lian.
"Iya lah, bagi lo kan cowok ganteng jadi bahan permaafan," ledek Salsa.
"Princess!" Zaki tiba-tiba muncul kala mereka selesai melewati koridor. "Jadi pulang bareng, kan?"
Melihat kedatangannya, senyum Naira langsung merebak. "Tapi langsung pulang, ya. Hari ini gue mau belajar Matematika sama Keira."
"Gue juga pintar Matematika, kok. Belajar sama gue aja gimana?" Zaki senyum-senyum sok manis padanya. Sudah jadi pacar pun tingkahnya masih sama saja.
"Nggak, ah. Kalau sama lo pasti malah nggak jadi belajar. Lo kan iseng." Naira lalu berpaling pada dua temannya. "Salsa, Lian, gue duluan, ya."
"Hati-hati!" Salsa melambaikan tangan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Princess In Rock
Teen FictionArzaki Van Java, Dylan, dan Choki yang merupakan personil band sekolah, suatu hari mendapati Naira dalam kejadian yang sangat memalukan. Sebisa mungkin Naira selalu menghindari mereka setelah kejadian itu. Sayang, kegemaran Naira di luar sekolah jus...
