Happy Sundaaaayyy!! and enjoy ya❤️
*
Semenjak Bev dan yang lain tahu Audrey dan Riel sudah berpacaran, semuanya berjalan dengan sempurna. Tidak ada lagi masalah yang mengganggu kehidupan Audrey. Dan hubungannya dengan Riel yang sudah berjalan tiga bulan ini juga selalu baik-baik saja. Mereka selalu bisa menyelesaikan masalah tanpa harus ribut. Mungkin karena Riel adalah pribadi yang dewasa dan bisa mengatasi masalah dengan bijak.
"Drey, kamu kalau jalannya sambil melamun gitu mah bentaran lagi bakal ada orang marah-marah gara-gara kamu tabrak." Suara Riel menyadarkan Audrey dari lamunannya mengenai hubungan mereka berdua.
Audrey memberikan cengiran. Ia baru sadar bahwa ia sedang berjalan di mall yang ramai. "Iya, aku nggak sadar."
"Emang lamunin apaan?"
"Kepo," balas Audrey sambil menjulurkan lidahnya.
Riel memutar kedua bola matanya. "Ini kita mau makan apa?" tanyanya saat mereka sudah sampai di food court.
"Terserah."
"Kamu tuh kalau tiap kali ditanya, bisa nggak sih jawab lebih spesifik? Kalau kamu jawab terserah, aku mesti ngapain?" Riel menatap Audrey dengan bingung.
Audrey terkekeh melihat ekspresi kebingungan Riel. "Oke, sorry. Hmm, makan apa ya," ucapnya sembari mengedarkan pandangannya ke sekeliling untuk mencari makanan yang menggugah seleranya. "Aku mau makan nasi goreng itu deh."
"Yaudah. Kamu duduk aja di situ. Biar aku yang pergi pesenin." Riel menarik tangan Audrey untuk menghampiri sebuah meja yang kosong yang tidak jauh dari mereka.
Audrey tersenyum melihat kepekaan dari Riel. Semenjak mereka resmi berpacaran, sikap Riel semakin ramah dan romantis. Walau ia tidak melakukan hal-hal romantis seperti di film ataupun novel, hanya saja hal kecil seperti ini sudah bisa membuat Audrey senang luar biasa. Riel sudah tidak lagi terlalu cuek seperti awal perkenalan mereka. Sekarang ia bisa mengucapkan kalimat-kalimat panjang jika sedang memarahi Audrey tentang sesuatu.
"Halah, melamun lagi." Riel duduk di hadapan Audrey sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kamu kesambet setan apa?"
Audrey mencibir. "Jahat banget sih."
"Loh? Emang salah?"
"Salah. Aku bukan kesambet setan, tapi kesambet cinta," balas Audrey disusul tawa.
"Gombalan receh," komentar Riel sambil memberikan senyum jahil.
"Biarin aja. Yang penting kan disayang kamu."
Riel tertawa melihat Audrey yang terus menerus memberikan gombalannya. "Udahlah. Jangan gombalin aku. Besok kamu jadi ikut kan?"
"Ikut kemana?" tanya Audrey dengan bingung.
Riel menghembuskan napasnya dengan berat. "Yaampun, kamu tuh pikun banget sih. Besok kan acara ulang tahun Mama di rumah."
Audrey menepuk jidatnya begitu mendengar ucapan Riel. Ia baru ingat bahwa besok ia diundang ke rumah Riel untuk merayakan ulang tahun mama Riel. "Yaampun, aku lupa! Aku belom beli hadiah juga! Gimana nih?" Audrey mulai panik. Bagaimana bisa ia lupa dengan ulang tahun mamanya Riel?
"Itu mah urusan nanti. Yang penting sekarang itu, kamu bisa dateng nggak?"
"Bisa kok." Audrey menganggukkan kepala. "Aku beliin apa ya buat mama kamu? Hmm."
"Gampanglah itu. Nanti aku temenin cari aja habis makan. Bentar, kayaknya pesenan kita udah jadi." Riel bangkit dari kursinya lalu pergi mengambil pesanan nasi gorengnya dan Audrey.
KAMU SEDANG MEMBACA
Lesson To Learn
Teen Fiction"When you think everything's going so well but then all of a sudden everything starts to fall apart." ••• Audrey selalu berpikir bahwa hidupnya sudah sempurna. Pacar yang tampan, dua sahabat yang selalu ada bersamanya, dan juga keluarga yang bahagia...
