Audrey berjalan keluar kelas sambil celingak-celinguk, berharap bahwa ia akan menemukan sosok Riel yang sedang menunggunya seperti biasa. Namun semua itu sia-sia. Semenjak Riel masuk sekolah kembali, ia sudah tak pernah menunggunya lagi di depan kelas untuk pergi ke kantin bersama. Cara bicara Riel pun juga sudah berubah. Tidak lagi sehangat dulu. Riel sudah berubah menjadi batu es yang takkan bisa ia cairkan lagi. Kenyataan itu benar-benar membuat Audrey sakit hati.
Tanpa berniat untuk pergi menyusul yang lain di kantin, Audrey malah memilih untuk pergi ke perpustakaan. Ia sudah lama tidak datang ke sini lagi setelah hidupnya sudah jauh lebih baik. Dan sekarang, ia kembali lagi. Ini sudah seperti tanda bahwa hidupnya mulai kembali redup karena ia sudah kehilangan cahaya yang selama ini menemaninya.
Audrey berjalan menuju rak bagian novel dan menelusuri puluhan novel yang ada. Ia mengambil salah satu novel yang menurutnya menarik lalu berjalan menuju meja panjang yang terletak tidak jauh darinya. Ia menarik salah satu kursi dan duduk untuk mulai membaca novel yang ia pegang. Setidaknya dengan membaca novel, ia berharap bisa mengalihkan pikirannya sejenak.
Namun saat Audrey sedang serius membaca novel, tiba-tiba saja ia dihampiri oleh tiga orang lelaki. "Waduh, kira-kira seorang Audrey Develyn yang udah punya temen dan pacar baru itu ngapain ya di sini sendirian? Oh, apa gara-gara gosip yang katanya dia udah nggak dianggep lagi ya sama pacarnya sendiri?"
Audrey menutup novel yang ia baca lalu menoleh ke belakang. "Oh, hai, Marco. Lama nggak ketemu," balas Audrey dengan senyum manis. Dalam hati ia bertanya-tanya sedang apa Marco di sini? Padahal selama ini Marco sudah tidak pernah mengganggunya lagi. Bahkan mereka sudah bertingkah seperti orang yang tidak saling mengenal.
"Wah, mengalihkan pembicaraan ya? Kasian banget sendirian di sini. Mana tuh cowok yang lo bangga-banggain?" tanya Marco sambil tertawa meremehkan.
"Kan udah nggak dianggap lagi, Co," sahut salah satu temannya yang kemudian membuat mereka bertiga tertawa.
Marco menatap Audrey dengan senyum sinis. "Jadi, lo beneran udah dibuang sama dia?"
"Nggak. Gue nggak dibuang sama dia," balas Audrey dengan tegas.
"Oh ya?" Marco mengangkat sebelah alisnya. "Terus, mana tuh pangeran kesayangan lo yang selalu nempel sama lo kemana-mana? Mana tuh pangeran lo yang selalu nungguin lo di depan kelas buat ke kantin bareng?"
Audrey tidak percaya bahwa Marco benar-benar mengawasi semua tingkah lakunya dan Riel. Mungkin Marco benar-benar sudah tidak waras. "Loh, emang kita harus selalu nempel? Gue sama dia kan punya urusan pribadi masing-masing yang harus diurus. Lo nggak usah kepo deh."
Marco tertawa meledek disertai gelengan kepala. "Audrey, Audrey, kenapa lo nggak mau ngaku aja kalau lo itu udah dibuang sama Lucas? Lo harusnya sadar diri kalau nggak ada cowok yang bener-bener tulus sama lo. Cuma gue yang mau nampung lo selama ini, cuma gue yang selalu ada buat lo. Lo itu nggak lebih dari sekedar pelampiasan Lucas karena dia nggak bisa move on dari pacarnya yang meninggal," ucap Marco dengan senyum puas.
Audrey benar-benar mati kutu. Ia tidak tahu bagaimana caranya Marco bisa tahu tentang Olivia. Jika Marco sudah tahu semua, tidak ada lagi yang bisa ia lakukan untuk mengelak ucapan Marco.
"Lo tuh nggak pernah disayang sama Lucas, harusnya lo sadar itu," tambah Marco.
"Woi, jadi cowok nggak usah kayak banci bisa nggak? Ngerendahin cewek kayak gitu emang bakal bikin lo keliatan gentle? Malu tuh sama kelamin lo!" Terdengar sebuah suara dari arah belakang Marco dan teman-temannya. Mereka semua serentak menoleh dan mendapati Rachel sedang berkacak pinggang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Lesson To Learn
Teen Fiction"When you think everything's going so well but then all of a sudden everything starts to fall apart." ••• Audrey selalu berpikir bahwa hidupnya sudah sempurna. Pacar yang tampan, dua sahabat yang selalu ada bersamanya, dan juga keluarga yang bahagia...
