Sebelas

1.2K 114 4
                                        


HARI sudah gelap, namun jalanan masih tampak ramai, bahkan semakin ramai rasanya. Bella melangkahkan kakinya dengan lelah menyusuri trotoar di pinggir jalan ini. Bella baru saja pulang dari kerja waktu dari kafe, tampak dari seragam pegawai kafe yang masih dikenakannya.

Bella melangkahkan kakinya memasuki area pekarangan rumahnya dengan lesu, kelelahan. Hari ini kafe sangat ramai karena ada pesta ulang tahun seorang pelanggan. Hal itu membuat Bella harus bekerja lebih ekstra dari biasanya.

Ketika Bella sudah memijakkan kakinya di teras rumah, Bella mendengarkan suara ribut-ribut dari dalam rumahnya, membuat jantung Bella berdetak lebih cepat dari sebelumnya. Firasat Bella menjadi tidak enak.

Dengan cepat Bella, Bella memegang gagang pintu rumahnya, lalu membukanya. Begitu pintu terbuka, suara nyaring dari benda-benda yang berpecahan dan teriakan marah seorang pria  langsung terdengar dengan jelas di telinga Bella.

"SIALAN! SIALAN KALIAN SEMUA!!"

Suara teriakan Andiman kembali memenuhi rumah. Tangan besar milik Ayah Bella itu dengan cepat mencampakkan vas bunga yang masih tersisa dari meja ruang tamu. Dan seketika, bunyi pecahan kaca langsung terdengar nyaring. Bella yang menyaksikan itu menatap Ayahnya datar, namun seketika raut wajah Bella berubah menjadi panik setelah mengingat adiknya.

Bella berjalan masuk ke dalam dengan tergesa-gesa mencari adiknya tanpa mempedulikan Ayahnya yang masih mengamuk. Namun, pergerakan Bella terhenti tiba-tiba setelah matanya menangkap sebuah kertas HVS putih yang berisikan surat resmi dari sebuah perusahaan untuk Ayahnya.

Surat pemecatan pegawai.

Bella menghembuskan napasnya pelan, telah mengetahui alasan Ayahnya mengamuk. Lalu, Bella kembali berjalan dengan cepat dan mengedarkan matanya, mencari keberadaan adiknya. Lalu mata Bella menangkap keberadaan Ellie, yang tampak berjongkok sambil menekuk lututnya. Bahu gadis kecil itu tampak bergetar, membuat Bella langsung berlari ke arah adiknya itu.

"Ellie, Adek! Ini kakak Dek, kamu gak kenapa-kenapa kan dek? Dek?" 

Bella mengguncang-guncang tubuh adiknya yang bergetar itu. Ellie yang merasa tubuhnya digerakkan oleh orang lain pun langsung mendongak menatap kakaknya. Membuat tubuh Bella langsung menegang setelah melihat wajah milik adiknya.

Wajah Ellie dipenuhi oleh luka dan memar. Pipi Ellie tampak membiru dilengkapi bekas luka sobekan di ujung bibirnya. Pelipis gadis itu juga tampak tergores panjang. Gadis itu telah di hajar Ayahnya. Seketika juga amarah Bella naik ke ubun-ubun.

Bella memutar balikkan tubuhnya dan berlari kencang ke arah Andiman yang masih saja mengamuk. Tangan kecil Bella menarik bahu Ayahnya dengan kuat, membuat tubuh pria itu langsung berbalik dan sedikit terhuyung dan langsung melihat Bella yang kini menatapnya penuh amarah. 

"Papa kenapa, hah?! Kenapa Papa mukulin Ellie sampai babak belur?! Papa masih punya hati atau gak?! Cukup aku aja yang Papa hajar, jangan Ellie lagi!!"

Bella berteriak kuat melampiaskan kemarahannya kepada Ayahnya, membuat Ayahnya sedikit tersentak, kemudian langsung menatap Bella dengan tatapan murka.

"Kamu jadi anak gak punya sopan santun!! Pulang malam, terus langsung berani ngebentak Papanya sendiri! Darimana aja kamu, baru jual diri, hah?! Sama aja kamu kayak Mama kamu, jalang!!"

Tubuh Bella bergetar kuat setelah menerima caci makian dari Ayahnya, yang benar-benar menyakiti hatinya. Bahkan Ayahnya sendiri mengatakan dirinya jalang..

"Bahkan Papa sendri tega bilang aku jalang?! Apa yang harus aku lakuin supaya Papa puas hancurin semuanya?! Bunuh aja aku Pa, biar Papa puas!!"

Bella mengeluarkan seluruh suaranya untuk berteriak di depan Andiman. Mata gadis itu tampak berkaca-kaca, airmata siap jatuh kapan saja dari sana. Gadis itu benar-benar kecewa dengan apa yang dikatakan Ayahnya. Namun bukannya merasa bersalah, Andiman malah menatap anaknya itu dengan tatapan kemurkaan yang makin menjadi.

"Kamu nantangin Papa sekarang ya!! Sini kamu, sini biar Papa bunuh!!"

Plak!!

Bug!!

Andiman melayangkan tangannya dengan cepat ke pipi Bella, menamparnya dengan keras. Kakinya juga bergerak dengan kuat menendang bagian tubuh Bella yang bisa dia dapatkan. Membuat Bella jatuh tersungkur ke lantai. Seluruh tubuh Bella terasa seperti remuk, gadis itu tidak bisa bergerak. Namun bukannya berhenti, Andiman malah semakin menghajar anak perempuan sulungnya itu habis-habisan.

"Mati kamu! Mati aja kamu sekalian!!"

Andiman kembali menendang Bella bertubi-tubi, mengenai betis Bella yang menahan perutnya. Bella menahan seluruh pukulan Andiman dengan posisi meringkuk, berusaha menghindari tendangan Ayahnya itu agar tidak mengenai dada dan perutnya. Sekujur tubuh Bella sangat sakit, apakah ini saatnya dirinya mati?

"Pa!! Pa, berhenti, Pa!!!", teriak Ellie yang berusaha memberhentikan pergerakan Andiman, namun diacuhkan oleh lelaki itu. Andiman tetap memukul dan menendang Bella membabi buta, tetap menghiraukan teriakan Ellie yang semakin keras untuk membuatnya berhenti.

Namun tiba-tiba, tubuh Andiman terasa ditarik kuat dari belakang, membuatnya jatuh tersungkur ke belakang. Andiman yang telah terjatuh, langsung mengumpat keras, lalu mendongakkan pandangannya ke atas, ingin melihat siapa yang telah mengganggu aktivitasnya.

"PAPA! Sadar Pa, Bella bisa mati kalo Papa hajar begini tanpa henti!! Bella itu anak Papa, Pa! Anak PAPA!"

Sean berteriak kuat ke hadapan Andiman, lalu menatap Ayahnya itu nanar, tidak percaya dengan tindakan mengerikan Ayahnya itu. Sean menatap Andiman kecewa, dan dengan cepat lelaki itu mengalihkan perhatiannya kepada Bella yang sudah tergeletak lemah di lantai, tidak mampu bergerak sedikit pun lagi. Sean ingin menangis melihat kondisi adiknya itu, dia telah gagal menjadi kakak.

Sean pun mengangkat tubuh Bella dengan perlahan, lalu menggendongnya. Sean juga berteriak memanggil Ellie yang tampak gemetar, dan gadis itu langsung beringsut di belakang punggung Sean, takut melihat Andiman. Sean kembali menatap Andiman.

"Kalau Papa gak sudi merawat anak Papa sendiri, bilang Pa! Jangan siksa mereka kayak gini! Jangan jadikan mereka jadi pelampiasan Papa karena ditinggalin Mama!!"

Telak, ucapan Sean memukul telak hati Andiman. Sean tidak peduli lagi, lelaki itu memerintahkan Ellie untuk mengikutinya, kemudian mereka berjalan dengan cepat sambil membawa Bella keluar dari rumah, akan membawa Bella ke rumah sakit.

Meninggalkan Ayah mereka yang terdiam membisu, menyadari tindakannya barusan yang hampir sama bisa membunuh anaknya sendiri. Andiman pun mengacak-acak rambutnya, menyetujui pikirannya yang mengatakan bahwa dirinya sudah gila.



==================

ok sip drama, maaf.


Sidikalang, 08 November 2017.

UnbreakableTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang