Pagi-pagi aku sudah berdiam diri di kafe biasa aku bertemu dengan Naina. Sudah lima belas menit aku menunggu, namun Naina belum juga sampai.
Aku mengecek ponsel, tidak ada pesan dari Naina. " Naina? Apa ia lupa memiliki janji denganku.
Aku semalaman terus memikirkan maksud ucapan Nia. Kata Naina, Nia seperti itu karena wajahku mirip dengan mantan Adriell. Apa sebelumnya Nia pernah berhubungan dengan Adriell.
"Nai, kemana sih lu," gumamku dengan pelan.
Aku takut jika Naina tidak datang. Aku ingin secepatnya mengetahui tentang semua ini, agar bebanku sedikit berkurang.
"Sorry, Len gua telat," kata Naina saat sampai di sampingku.
Aku bernafas lega.
"Duduk, Nai," kataku dengan tersenyum.
Naina tersenyum, aku membiarkan Naina untuk beristirahat sebentar. Aku tidak mau terlihat terlalu ingin tahu hal ini.
"Oke, Len gua pengen cerita kenapa adek gua kayak gitu kemaren."
Aku memperhatikan Naina dengan jelas. Agar tidak ada satu pun informasi yang terlewat. Namun Naina masih diam, belum melanjutkan ucapannya.
"Jadi, adik gua depresi karena ulah Adriell. Baru beberapa hari ini keadaannya memulih," kata Naina dengan raut wajah sedih.
"Kok bisa?" Aku tidak mengerti.
"Sebelum lu deket, malah pacaran dengan Adriell. Nia pernah dekat dan hampir pacaran dengan El, tapi semua itu gagal. Saat Nia tau kalau El cuma manfaatin Nia buat bikin mantan pacarnya cemburu."
Aku ikut sedih, saat melihat raut wajah Naina, seperti menyimpan banyak kesedihan selama ini.
"Nia marah, Nia nggak terima El ngelakuin hal itu. Dan lu tau apa yang El bilang? El bilang dia nggak pernah cinta Nia, dia caci maki Nia di depan banyak orang." Naina berbicara dengan menggebu-gebu.
"Setelah itu, Nia jadi bahan bullyan, Len. Gua nggak terima, tapi gua nggak tau harus ngapain," kata Naina dengan meneteskan air mata.
Aku mengelus pundaknya, mencoba menenangkan Naina.
"Makanya pada saat gua tau lu deket sama El, buat rasa takut gua kembali. Gua takut lu bernasib sama dengan Nia, gua nggak mau."
Aku tidak menyangka Naina memikirkan diriku selama ini. Aku terlalu sibuk dengan Adriell, hingga melupakan Naina. Aku menyesal.
"Gua mohon, Len udahin hubungan lu dengan El," pinta Naina.
"Gua belum bisa, Nai."
"Gua akan buat lu bisa putusin El!" kata Naina.
Aku hanya tersenyum, bingung ingin menanggapi seperti apa.
"Nai, lu tau siapa mantan Adriell?" tanyaku.
"Yang gua tau, El suka manggil dia Olin, tapi gua nggak tau itu nama asli dia atau bukan. Jujur, wajah lu mirip dengan dia, walau gua baru sekali ketemu mantan El tapi gua hapal dengan wajah dia."
Olin, aku kembali ingat surat yang kutemukan waktu itu. Aku harus cari tahu siapa Olin.
"Makasih ya, Nai mau cerita semuanya sama gua," kataku dengan tersenyum.
"Sama-sama, oh iya ini tadi ada anak kecil ngasih gua amplop katanya buat lu."
Naina menyerahkan amplop merah jambu kepadaku, lalu ia pamit untuk pulang karena Nia sudah menunggu Naina di rumah.
Aku membuka amplop tersebut, berisi surat. Dengan kertas berwarna hijau, aku membaca isi surat tersebut.
Hallo, tuan putri. Saya ingin bilang padamu, jangan terlalu percaya dengan laki-laki. Karena tidak semua laki-laki dapat dipercaya, termasuk saya.
Semoga kita cepat bertemu ya, saya lelah selalu melihatmu dari jauh.
Tertanda
GF:)
****
KAMU SEDANG MEMBACA
Go Away [Completed]
Kurzgeschichten(Perfect cover by @syfrat) [62 in shortstory 27-05-18] [1 in trueshortstory] Ini kisah tentang Aileen yang mencintai Adriell. Namun tidak dengan Adriell. Semua yang dilakukan selama mereka menjalin hubungan hanya untuk melampiaskan rasa kesalnya, da...
![Go Away [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/129855614-64-k978147.jpg)