Telah ditemukan hati yang busuk sebab pengkhianatan. Hati itu tak lagi punya pemilik yang lama sebab sudah mual memakan bual. Telah pergi pula ke Rahmatullah persaannya pada pemilik yang lama. Semoga, perasaan itu di terima di sisi-Nya dan tak pernah kembali pulang.
.
.
.
.
.
"Bukankah dia manis?" tanyaku pada mesin penghisap tembakau yang asik menyeruput kopi hitam pekat miliknya.
"Siapa?" Kepalanya mengadah, menyembunyikan salah, kalah.
"Aris, bukankah dia manis? Cocoklah jadi pendamping saat kamu minum kopi setiap paginya." Aku tertawa sumbang, lebih tepatnya menertawakan apa yang membuatku bimbang. Sudah lumayan lama aku tau dia punya wanita baru. Padahal, sebentar lagi seharusnya aku dan dia pergi ke pelaminan. Oh iya, gadis itu Aris namanya, gadis manis dengan dua lesung tercetak di pipi. Gadis kota, dengan segala kecantikannya. Aku ini apalah, hanya gadis desa yang setidaknya cukup pintar untuk menetap di kota walau tidak tau apa-apa.
"Tetapi, Na. Aku mau menikah denganmu," katanya. Wajahnya dia buat serius biar nanti semuanyanya bisa lurus. Dia seperti tidak tau aku saja. Padahal, dia bilang aku pemilik kepala paling keras di dunia ini.
"Sudahlah, jangan bohong. Aku tak apa," kataku. "Ayahku yang sudah 20 tahun terikat pernikahan bersama ibuku saja bisa pergi. Apalagi kamu?" Sekali lagi, aku tertawa. "Jangan kamu pikir aku tak tau, kau kecup dahinya di hari yang sama saat kau memohon untuk menikahiku."
"Na, jangan seperti itu." Matanya memerah, menahan marah sebab ditelanjangi atau air mata sebab menyesal pada diri sendiri? Entahlah, tetapi detik berikutnya mengalir sungai di pipinya. Bukannya terbalik? Aku yang diselingkuhi, dia yang meratapi karena aku ingin pergi.
Dia diam, matanya terlihat kelam ke arah kopi hitam di dekatnya. Kopi itu, tak lagi ia minum, hanya ia ratapi dengan hati-hati. 10 menit berikutnya dia masih diam, begitu juga aku yang sudah lelah menunggu bibirnya berkicau. Mungkin dia memikirkan tentang betapa indah masa tua miliknya dan Aris. Entahlah, memikirkannya membuat aku mual. 10 menit berikutnya aku tatap wajahnya lamat-lamat. Memindai wajah tampan dan kaus oblong serta kacamata berbingkai putih tipis miliknya. Barangkali, besok-besok tak lagi dapat aku lihat semuanya. Aku menyerah.
"Sudah? Kalau begitu, biar aku yang jelaskan pada orang tuamu, kalau kita tak jadi menikah. Juga, biar aku saja yang telepon WO-nya, teman SMA-mu itu. Nanti, biar aku yang urus semuanya. Kau bisa duduk manis dan terima bersih." Aku sibuk mencari kunci mobil di tas kerjaku. Bersiap untuk pulang sedang dia masih diam. Aku tersenyum. "Biar tidak terdengar menyedihkan. Biar aku saja yang mengakhiri, ya? Kita sampai di sini saja. Nanti, kalau kamu sudah cetak undangan barumu dengan Aris, jangan segan beri padaku, yah? Aku pergi dulu. Juga, hari ini biar aku yang bayar, hitung-hitung mungkin ini hari terakhir kita bersama."
"Na," lirihnya. "Jangan pergi."
Aku tertawa kemudian segera pergi ke meja kasir lalu pulang.
.
.
.
.
Semuanya berakhir, tetapi kenapa aku tidak merasa sedih?
KAMU SEDANG MEMBACA
Tetesan Pena
PoesíaAku memilih berkata-kata walau tak mengucap sepatah katapun. Aku memilih kertas dan pena, sebagai sahabatku. Aku memilih sajak dan puisi untuk mengekspresikan perasaanku. Dan, aku memilih, tetesan-tetesan pena sebagai air mataku. #74 dalam Poetry 30...
