Tak bisakah kau menetap?
Karna aku ingin menatapmu lekat-lekat.
Meminum secangkir kopi, seperti waktu itu.
Bersama senja, ditemani hujan.
Agar rindu yang menyesakkan ini berakhir dengan temu.
Setidaknya untuk hari ini saja.
Tak bisakah kau menetap?
Wahai tuan, yang tak lagi jadi milikku.
Walau, tak pernah jadi milikku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Tetesan Pena
PoésieAku memilih berkata-kata walau tak mengucap sepatah katapun. Aku memilih kertas dan pena, sebagai sahabatku. Aku memilih sajak dan puisi untuk mengekspresikan perasaanku. Dan, aku memilih, tetesan-tetesan pena sebagai air mataku. #74 dalam Poetry 30...
