17 - Nasihat Mama

3.5K 177 1
                                        

Aku menidurkan kepalaku di paha mama, dan menatap wajah mama yang mulai menua dari bawah.

"Ma, Gia tinggal sama mama aja ya," pintaku karena, tidak tahan menahan rasa kangen jikalau mama dan papa jarang ke sini.

"Lho, nggak bisa sayang. Kan kita udah buat perjanjian waktu itu," jawab mama, membuatku mengembuskan nafas kesal.

"Lupain aja deh," kataku dengan cuek, karena aku ingin ikut bersama mama dan kembali ke Bandung.

"Nggak bisa, Gia," kata mama lagi, mencoba meyakinkan aku jika aku tidak bisa ikut dengannya kembali ke Bandung.

"Kenapa?" tanyaku lesuh, karena jawaban mama yang selalu bilang tidak bisa.

"Kamu tau, abang dan kakak kamu itu sibuk. Kalau kamu ikut mama, siapa yang nemenin nenek dan kakek? Kamu mau mereka kesepian lagi? Mama nggak mau mereka sampai kesepian. Tapi karena ada kamu, mama tenang ada yang bisa nenek ajak nonton dan kakek ajak ngobrol." Mama menatapku dengan sendu, memohon untuk aku mengerti keadaannya.

"Tapi ma...." ucapku menggantung.

"Mama mohon, tetap di sini. Kamu nggak mau kan nenek dan kakek kesepian kalau kamu pergi?" tanya mama dan aku menggeleng. Aku mengerti, dan mulai menghilangkan pikiran untuk ikut bersama mama kembali ke Bandung.

Mungkin aku harus tetapi di sini, menemani nenek dan kakek. Lagipula setelah dipikir-pikir aku sudah kelas dua belas, dan sebentar lagi lulus.

"Oke-oke, Gia tetep di sini. Tapi mama sama papa jangan lupa dong untuk dateng ke sini, jangan kayak sekarang udah sebulan malah baru dateng. Tau nggak? Rindu itu berat," kataku berpura-pura ngambek, membuat mama tertawa dan mencolek hidungku.

"Dasar korban film," ejek mama dan tawanya semakin keras saat aku menggelitik perutnya. Ini yang aku rindukan, menghabiskan hariku berdua dengan mama.

****

Aku update lagi😁

Giandra [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang