"Mei, kok beli bukunya banyak banget, Mei?" tanya Masha ketika melihatnya membongkar paketan berisi dalam buku.
"Lho, itu gambarnya sama, kok gitu?"
Bila tersenyum melihat kekepoan Masha. Bagi anaknya itu, kalau sudah punya buku bergambar sama, tidak perlu dibeli lagi. Begitu rumus singkatnya.
"Lho!" Masha mengangkat buku yang baru saja di keluarkan. Buku bersampul kuning dan ijo. "Ini kayak bukunya Om Andra!"
"De I A, DIA," Masha mengeja judul yang ada. Dia berpikir untuk mengingat sesuatu.
"Iya, Mei. Ini bukunya Om. Tulisannya sama kayak yang dulu," lanjutnya lagi.
Bila melanjutkan mengeluarkan buku-buku itu untuk ditata. "Iya, ini memang bukunya Om, Kak."
Ketika buku yang pertama sudah habis, dia beralih pada buku bersampul gelap. Masha tampak tertarik melihatnya.
"Wohhh! Ini buku apa, Mei? Coba bentar Kak Masha baca," ujar Masha dengan bersemangat.
Alih-alih menanggapi, Bila membiarkan Masha yang sedang mencoba belajar membaca. Dia sengaja mengajarkan kepada Masha untuk membaca tulisan yang ada pada apa yang ingin diketahuinya. Misalnya saja saat dia menanyakan merk atau nama bubur bayi yang diminum Naufal. Dengan begitu, secara tidak langsung menarik minatnya untuk membaca.
"Be I eL A. Bila. Hahaha." Masha tertawa. "Mei, masa ada nama Memei di sini."
Ya jelas ada, Sha. Itu kan buku tentang ayah dan ibumu.
"Iya, Kak. Ini bukunya Ayah sama Memei. Nah kalau ini," Bila mengambil buku yang lain. "Ini bukunya Abi sama Umi-nya si Kembar. Nah, kalau yang satu ini eyangnya si Kembar, terus ...."
Bila mengabsen buku yang ada satu per satu agar Masha tidak bertanya lagi. Anaknya itu terlihat mengangguk-angguk seolah paham. Tidak ada pertaanyaan lagi, hingga Masha membantu menyusun tumpukan buku yang ada.
"Kok ndak ada bukunya Kak Masha, Mei?"
Hm, pertanyaan yang tidak diduga muncul. Bila memerlukan beberapa waktu untuk memikirkan jawaban.
"Ehm..., besok kalau Kakak udah gedeeee banget, baru ada bukunya, ya?"
"Oh, begitu. Nanti kalau udah kerja ya, Mei? Terus sekarang itu bukunya banyak banget buat apa?"
"Iya, kalau udah kerja. Ini bukunya mau dijual, Kak."
"Dijual? Wah, ntar dapat duit ya, Mei? Terus besok kita bisa ke Transmart, ndak perlu nunggu Ayah dapat uang dari kerja. Asikkkkk!"
Masha bersorak kegirangan. Mungkin dalam pikirannya, masha sudah berada di Transmart sekarang.
"Pulangnya beli ayam kentucky ya, Mei."
Nah, kan.
"Iya dapat uang, tapi nggak besok itu, Kak. Kan bukunya belum ada yang beli. Jadi, tunggu habis dulu baru bisa jalan-jalan sama beli ayam."
Senyum di wajah Masha memudar, "Yahhhh.....," gumamnya.
Namun, tak lama kemudian mata Masha tampak berbinar.
"Mei, pinjam hp, Mei. Terus teleponin Kakung."
Bila mengerutkan kening ketika tiba-tiba saja Masha minta melakukan panggilan kepada eyangnya. Terlebih lagi, Ayah dan Bundanya baru kemarin mampir ke rumah. Tidak mungkin kangen, kan? Enggan bertanya, akhirnya dia melakukan panggilan video kepada ayahnya sebelum menyerahkan kepada Masha.
"Assalaamu'alaikum."
Suara sapaan terdengar.
"Wa'alaikumsalaam. Kung, Kakung punya duit banyak, kan? Beli bukunya Memei ya, Kung. Uti dibeliin juga. Pokoknya beli yang buanyak, ya. Daaa, Kakung. Wassalaamu'alaikum."
KAMU SEDANG MEMBACA
Catatan Harian Masha
HumorIni cerita tentang seorang anak bernama Masha. Ini bukan cerita tentang bagaimana cara mendidik anak dengan baik dan benar, melainkan hanya hal-hal sederhana yang sering dijumpai pada anak-anak.
