"Yah, pokoknya besok Kak Masha mau pulang sekolahnya dijemput sama Ayah, ya. Ndak mau sama Memei," ujar Masha dengan cemberut.
"Lho, kenapa begitu, Kak?"
Ekspresi masam Masha makin menjadi, pertanda kalau mau menangis.
"Tadi kan Kak Masha berangkat naik sepeda, terus sepedanya dibawa pulang sama Memei. Pas jemput nggak dibawain lagi."
"Terus?"
"Kak Masha kan mau sepedaan, Yah. Masa sepedanya malah ditinggal di rumah."
Daffa yang mendengar aduan Masha mengusap rambut panjang anaknya sambil tersenyum.
"Memei lupa mungkin, Kak."
"Ndak lupa kok, Yah. Memei bilang Dek Nopal tadi mau dititipin ke Budhe malah nangis, terus ikut jemput Kak Masha. Makanya sepedanya ditinggal."
"Oh begitu ceritanya. Jadi, kan Memei udah kasih alasan kenapa nggak bawa sepedanya. Ribet kalau sambil gendong adek, kan?" jelas Daffa mencoba menghilangkan kekesalan Masha.
"Ya adeknya biarin aja nangis, Yah. Kan udah dititip sama Budhe. Seharian pas Kak Masha sekolah udah sama Memei, masa ditinggal jemput sekolah bentar aja nangis. Cengeng."
"Kak Masha berarti cengeng juga dong, ya? Tadi siapa yang ngambek terus nangis di jalan?"
Suara dari arah dapur membuat Daffa mendongak. Terlihat istrinya datang dengan sepiring pisang goreng yang masih mengepul. Hujan ditemani pisang goreng dan teh hangat. Kombinasi yang mantap.
"Siapa yang nangis, Mei?" tanya Daffa sengaja menggoda Masha. Tanpa bertanya pun sudah jelas pustrinya itu yang merajuk.
"Kak Masha tuh, Yah. Ngambek tadi di jalan, berhenti ngambeknya pas akhirnya boleh beli ice c."
"Yah, kok Memei cerita, sih? Apa-apa diceritain."
Daffa dan Bila spontan tertawa. Secara yang membuka topik kali ini adalah Masha sendiri, tetapi sekarang dia juga yang protes.
"Kamu nangis, Kak? Katanya udah gede?" goda Daffa yang melihat Masha mulai merajuk lagi. Kesal karena dilaporkan menangis kepada ayahnya.
"Kak Masha sebel, Yah. Katanya kan kalau udah janji itu harus ditepati. Tadi, waktu berangkat Kak Masha udah bilang sama Memei, pas balik mau naik sepeda juga. Tapi malah dibawa pulang, ndak dibawain. Memei ndak nepatin janji, dosa kan, Yah?"
Aduan Masha membuat Daffa menatap istrinya dengan pandangan bertanya. Mereka sepakat mengajari hal yang baik kepada Masha sejak kecil. Termasuk masalah janji sebagai bentuk komitmen, tanggung jawab, juga motivasi. Misalnya saja kemarin, mereka berjanji akan membelikan sepeda baru, ketika Masha rajin sekolah. Hari itu, Masha sempat merajuk karena temannya kompak membeli sepeda baru. Hanya dia saja yang tidak punya, sampai-sampai protesnya enggan ke sekolah sebelum dibelikan. Huh, khas anak kecil, ingin mempunyai apa yang dimiliki temannya.
"Itu, Yah. Sekolah Masha kan baru direnovasi, jadi tempat parkirnya dibongkar gitu. Guru dan yang lainnya nebeng parkir di masjid sebelah TK. Kan nggak tenang soalnya sepeda Masha belum ada gemboknya. Aku pikir, lebih baik dibawa pulang saja. Eh, nggak tahunya Naufal rewel pas mau dititipin ke Budhe. Ya udah, begitulah," jelas Bila.
Daffa memerhatikan istrinya yang mengangkat bahu, tanda menyerah dengan aksi merajuk Masha. Di tempatnya, Masha masih cemberut saja.
"Jadi, Kak Masha ngambek nih sama Memei?" tanyanya kemudian.
"Iya,"jawab Masha dengan cepat juga mantap.
Senyum terukir di bibir Daffa. Urusan Masha yang merajuk itu sudah biasa, dia pun sudah ahli untuk mengatasinya.
"Kalau begitu boleh dong memeinya buat Dek Naufal aja."
"Ndak boleh, Yah!" Masha menggeleng cepat. "Ndak boleh!"
"Lalu?"
Masha yang tadi sibuk menggambar akhirnya meletakkan pensilnya. Dia beranjak berjalan menuju ibunya berada.
"Kita maafan ya, Mei," ujarnya sebelum kemudian mengecup kedua pipi ibunya.
"Akhirnya drama ibu dan anak selesai. Makan yuk, Ayah lapar."
***
Ada waktunya seorang anak merajuk pada ibu lalu mengadu pada ayahnya. Dia tidak marah dalam arti sebenarnya, tetapi hanya butuh pembenaran atas tindakannya. Namun, bukan berarti sebagai seorang dewasa harus membenarkan, melainkan meluruskan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Catatan Harian Masha
HumorIni cerita tentang seorang anak bernama Masha. Ini bukan cerita tentang bagaimana cara mendidik anak dengan baik dan benar, melainkan hanya hal-hal sederhana yang sering dijumpai pada anak-anak.
