Ayam krispi.
Kamu di mana ayam krispi?
Kamu pergi ke mana ayam krispi.
Aku mencarimu.
kamu di mana ???
Aku pengen makan ayam krispi.
Ayam krispi.
Akunya laper ayam krispi.
Akunya mau makan ayam krispi.
Aku mencarimu
Kamu di mana ??
Aku pengen makan ayam krispi.
Masha yang terus-menerus menyanyikan lagu yang sama membuat ayahnya geleng-geleng kepala.
"Si Kakak udah kayak ngidam ayam krispi gitu, Mei?" tanyanya kepada Bila.
Bila tertawa. "Bukan, dia itu ubah lirik lagu semau-maunya. Itu lho, Yah. Kemarin aku kasih lihat dia video lagu anak yang baru hits judulnya telur dadar. Terus sama Kakak diganti ayam, katanya karena dia nggak suka telur."
"Oh begitu."
"Kamu pengen makan ayam krispi, Kak?" tanya Daffa kemudian.
Masha yang mendengar suara ayahnya langsung berhenti menyanyi dan menoleh dengan semangat.
"Mau, mau, mau, Yah!" jawabnya girang.
"Ayam kamu di belakang dipotong, ya? Nanti biar dibuatin ayam krispi sama Memei."
Masha manyun.
"Kok gituuu, kan biar bertelur terus ntar jadi bayi ayam. Terus ayamnya jadi buanyakkkk banget!" tolak Masha dengan alasannya.
"Pakan ayam mahal, Kak."
"Ntar ayamnya yang gede dijual buat beli pakan, Yah."
Begitu terus pola ayamnya Masha.
Bila memerhatikan ayah dan anak yang sibuk berdebat soal ayam. Kalau diijinkan, mungkin semua hewan akan dipelihara Masha. Kelinci di rumah Kakung pun sudah diminta kemarin. Ketika diberitahu makanan susah, Masha beralasan akan menanam wortel seperti kelinci di kartun favoritnya, Masha n the Bear. Pada akhirnya, putrinya itu mengalah karena tidak memiliki kandang.
"Yah, ayam krispinya beli aja, Yah. Biar Memei ndak capek masak," usul Masha lagi.
Duh, kalau sudah begini Bila langsung terdiam. Terharu lebih tepatnya.
"Nanti kalau Ayah udah gajian ya, Kak. Sekarang kamu makan telur dadar aja. Diambil satu telur ayamnya tidak apa-apa. Besok pagi bertelur lagi."
Masha menggeleng, tidak setuju usul Ayahnya.
"Ayah belum gajian? Ayah ndak punya uang? Kakak teleponin Kakung, ya. Nanti biar dikasih uang sama Kakung."
Bila memandang Masha tidak paham. "Kok gitu, Kak?"
"Iya, Mei. Kalau ke tempat Kakung, Kakak cerita mau beli mainan tapi duitnya ndak punya, lagi nabung gitu. Terus dikasih uang kan sama Kakung pas mau pulang. Bilangnya buat nambah tabungan kakak. Makanya nanti Kakak cerita mau beli ayam, tapi Ayah ndak punya uang."
Ah, jadi ini masalah kebiasaan. Masha memang begitu, sekali dia mendapatkan celah, bisa saja memanfaatkannya. Dulu sekali, pernah suatu waktu Masha menangis di warung minta dibelikan seperangkat mainan masak-masakan. Padahal niat mereka ke warung hanya membeli telur. Anak itu menangis hebat ketika dia menolaknya. Karena malu dan sungkan, akhirnya Bila membelinya. Beberapa waktu kemudian, Masha kembali menggunakan metode yang sama ketika meminta sesuatu. Kebiasaan itu baru berhenti ketika Bila tetap tidak mau membeli, dibiarkannya Masha menangis dan diajaknya pulang. Sampai di rumah, barulah dia menasehati kembali Masha, bahwa semua keinginanya tidak bisa semua terpenuhi. Butuh waktu dan usaha untuk mendapatkannya. Menabung salah satu contohnya.
Ingatkan dia untuk memberitahu Ayah agar tidak memberi uang ketika Masha curhat esok hari.
Membiasakan diri itu sulit pada awalnya, tetapi akan mudah pada akhirnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Catatan Harian Masha
MizahIni cerita tentang seorang anak bernama Masha. Ini bukan cerita tentang bagaimana cara mendidik anak dengan baik dan benar, melainkan hanya hal-hal sederhana yang sering dijumpai pada anak-anak.
