Pisah

8.6K 1.1K 108
                                        

"Kak Masha, beneran ni Naufal boleh dipinjam?" tanya Najwa memastikan sekali lagi.

"Iya, bener."

"Nanti kamu ndak kangen?"

"Ndak."

Bila memerhatikan interaksi sepupu dan putrinya. Hari ini Najwa datang berkunjung dengan Embun. Kedatangannya tak lain dan tak bukan adalah untuk meminjam Naufal. Hm, mungkin kalau Naufal barang sudah dibeli oleh Najwa. Semua itu karena Om Eza dan Tante Vani tidak memiliki anak laki-laki, maka jadilah Naufal menjadi putra mahkota di sana.

"Tuh, Kak. Boleh kok sama Kak Masha."

"Gimana ya, Wa?" gumamnya tidak yakin. "Aku coba tanya ayahnya dulu deh, ya."

"Boleh, tapi tadi sih Bopo udah nelepon Kak Daffa. Abis itu baru aku sama Embun ke sini."

Bila bengong. Wow, gerak cepat.

"Jadi, nggak usah telepon nih?"

"Telepon aja nggak papa, Kak. Buat mastiin."

Akhirnya Bila mengambil ponsel yang ada diatas meja. Dia melakukan panggilan cepat.

"Assalaamu'alaikum. Mau minta ijin soal Naufal, ya? Terserah Kakak sama kamu aja. Udah ya, ini baru mau meeting bulanan. Wassalaamu'alaikum."

Belum sempat menjawab salam, panggilan sudah terputus. Dia berdecak pelan, suami dan pekerjaannya itu sudah sepaket menyebalkan. Kalau sudah bekerja, fokusnya luar biasa. Yah, walaupun sekarang sudah lebih baik dibandingkan dengan awal menikah dulu.

"Woi, Kak!"

"Ya?" jawab Bila yang tadi terlalu fokus kepada masa lalu.

"Gimana, boleh, kan?"

"Iya."

"Sippp. Kami bawa, ya?" tanya Najwa memastikan.

"Iyaaaa, udah sana bawa, Nte. Kelamaan!" sahut Masha yang sedang bersantai di atas hammock.

Bila menggelengkan kepala, takjub dengan ucapan Masha. Seperti tidak ada rasa memiliki atas Naufal sama sekali.

Sebegitunya, Kak.

"Beneran boleh ya, Kak? Nanti kamu nggak kangen atau nyariin Dek Naufal, kan? Apa kamu mau ikut juga?"

"Beneran, Mei. Yakin! Ndak ikut, besok kan Kak Masha sekolah."

Bila mengangguk, memberi kode kepada Najwa untuk membawa Naufal. Dia kemudian bergegas mengambil tas bekal pakaian menginap untuk putra bungsunya. Ketika Najwa hendak berangkat bersama Embun dan Naufal, ada rasa tidak nyaman menghampiri hati. Pasalnya, mereka belum pernah berpisah ketika malam hari. Namun, tidak enak juga untuk menolak permintaan om dan tantenya.

"Nanti kalau rewel gimana, Wa?" tanyanya dengan khawatir.

"Bopo sama Biyung udah pengalaman jaga bayi, Kak. Ini aku sama Embun buktinya."

Iya juga, sih. Tapi, kan....

**

Malam harinya.

"Mei, Yah, rumah sepi ndak ada Dek Nopal. Ndak ada yang nangis," ujar Masha yang tadinya sedang serius mendengarkannya mendongeng.

Bila menutup buku kemudian, dipandanginya si Sulung yang kini menatapnya dengan wajah tidak bersemangat. Di samping Masha, tampak suaminya yang sedang melihat buku mewarnai anaknya tersenyum kecil.

"Tadi cerita ke Ayah semangat banget, Kak. Katanya senang ndak ada Adek?" tanya suaminya masih dengan senyum terukir.

Oh, menertawakan tingkah Masha. Tadinya, Bila pikir Daffa tersenyum melihat hasil mewarnai anaknya.

"Iya, Yah. Tapi...," Masha terdiam, terlihat berpikir. "Ndak ada yang diajakin main sama Kak Masha. Ndak ada yang ketawa kalau digodain. Ndak ada juga yang nangis kalau dinakalin."

"Kamu kangen sama adek, Kak?" goda Bila.

"Ndak kangen kok, Mei."

"Terus?"

"Yah, dijemput aja yuk Dek Nopal." rengek Masha kemudian. Dia mengabaikan perkataannya dan justru beralih menarik perhatian sang Ayah.

Bila menahan tawa melihat Masha merayu dengan menggoyangkan lengan ayahnya.

"Ayah capek, Kak. Kan baru pulang kerja," tolak suaminya dengan halus.

"Nanti kalau Dek Nopal di sana terus ndak mau pulang gimana, Yah?"

"Ya tidak apa-apa. Kan ada Bopo, Biyung, Nte Nawa, sama Kak Embun yang jaga."

Masha menatap ayahnya dengan tidak setuju, "Nanti Kak Masha ndak punya adek lagi?"

Obrolan ayah dan anak itu membuat Bila gatal untuk menanggapi.

"Wah, kalau ndak punya adek nanti bisa ke timezone berdua kita, Kak. Bisa lama pulangnya," serunya.

Hening beberapa saat.

"Ayahhhhh! Ayo toh, Yah! Dek Nopal kan adeknya Kak Masha. " rengek Masha lagi.

"Sudah malam, Kak."

"Nanti kalau ada adek juga cuma kamu isengin, Kak. Dibuat nangis terus adeknya. Diumpetin mainannya," gumamnya menambah alasan yang sudah diberikan suaminya.

"Nanti Kak Masha ndak jahatin adek lagi. Ndak bikin adek nangis. Adek boleh pinjam mainan Kak Masha. Jemput sekarang ya, Mei, Yah?"

"Beneran, Kak?"

"Beneran! Nanti Kak Masha sayang adeknya. JANJI!"

"Ya sudah, kita jemput sekarang, yuk, Yah? Memei juga ndak tenang dari tadi pisah sama Naufal. Atau mau nginep di sana aja? Besok baru balik?" usul Bila pada akhirnya. Masha saja yang biasanya usil bisa merindukan keberadaan adiknya, apalagi dia.

"Siap!"

Baiklah, mari kita lihat sikapmu besok ya, Kak!

Biasanya begitu, ketika jauh barulah rindu.

**

Assalaamu'alaikum.

Melalui postingan ini saya berbagi info sekaligus memohon maaf untuk teman-teman yang kemarin ikut pemesanan buku, ya. Sebelumnya dijanjikan tanggal 25, ternyata ada sedikit keterlambatan dan sekarang masih di ekspedisi. Semoga maksimal minggu depan sudah beres dan bisa dikirim semua. Terima kasih atas pengertiannya.

Alyaaa.

Catatan Harian MashaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang