Jarak Jauh

8.4K 1.3K 133
                                        

"Kak Daffa yakin mau bawa Masha? Nanti kalau dia rewel di jalan sama di sana gimana?" tanya Bila kurang yakin.

Hari ini Bila dan keluarga mendapat kabar kalau kerabat di Bandung ada yang meninggal. Lebih tepatnya adalah Pakdhe dari suaminya. Hal yang dipermasalahkan bukanlah kematian, karena dia yakin kematian adalah hal yang tidak bisa dihindari dan sudah dituliskan. Namun, masalahnya Naufal baru terkena cacar. Sejak kemarin, rewel bukan main. Dia tidak mungkin tega untuk membawanya ikut serta ke Bandung.

"Justru lebih baik rewel sama aku, Bil. Kalau ditinggal dan rewel di sini, nanti kamu yang repot. Aku aja ninggal kamu sama Naufal sudah berat, apalagi sama Kakak."

Bila mendengus, di saat seperti sekarang, bisa-bisanya suaminya ini membawa bahasa kekinian ala Dilan. Memang generasi lama.

"Lagipula, kami kan jalan bareng Ayah sama Bunda. Jadi, tidak ada yang perlu dikhawatirkan."

"Iya juga sih, tapi___"

"Atau kamu mau menginap di tempat Rangga saja? Aku antar dulu?" potong suaminya cepat.

"Kak Daffa lupa kalau Naufal baru kena cacar? Di sana kan ada Raffasya."

"Oh iya, benar."

Bila akhirnya melanjutkan kegiatan packingnya. Tidak banyak, hanya beberapa pakaian ganti selama di sana. Sesekali dia melihat Daffa didepannya, Naufal di gendongannya nampak terlelap. Dia masih belum yakin dengan keputusan yang diambil suaminya. Masha, anak itu kalau bangun memang anak ayah, tetapi ketika akan dan bangun tidur selalu mencarinya.

"Mau aku panggilkan Kakak biar kamu bicara sama dia?"

Pertanyaan dari Daffa seakan mampu mengerti isi hatinya. Dia menggangguk sebagai jawaban.

Tidak lama kemudian, Masha muncul dan langsung memanjat ke kasur, memeluk guling sambil bersandar.

"Kenapa, Mei? Kakak lagi main pasir tadi. Mau bikin gunung," ujar Masha melaporkan.

"Kamu beneran mau ikut Ayah ke rumah eyang di Bandung, Kak?"

"Bener dong, Mei. Kakak udah lamaaaaaaa banget ndak ke sana. Dari ada dek Nopal kan eyang terus yang main ke sini. Jadi, sekarang gantian Kakak ke sana, biar eyang ndak capek."

Benar kata Masha, sejak Naufal lahir, keluarganya belum ke Bandung sama sekali. Beberapa kali, papa dan mama mertuanya justru yang menyempatkan diri datang demi melihat cucunya. Ah, sepertinya kali ini dia memang harus membiarkan anak dan ayah ini pergi.

"Tapi, Memei sama Dek Naufal nggak ikut lho, Kak."

"Ndak papa. Kan kata Ayah ada Uti sama Kakung yang nemenin."

"Nanti kamu kangen nggak?"

"Kangen Memei sama adek?" tanya Masha memastikan.

"Iya."

"Kan nanti bisa telepon dari sana. Kalau kangen, nanti Kakak langsung telepon."

Bila tidak bertanya lagi. Dari jawaban Masha, sepertinya sudah cukup meyakinkan dan tidak perlu dikhawatirkan. Terlebih lagi Ayah dan Bunda akan ikut serta pergi bersama mereka.

**

"Kakak lagi ngapain, kak?" tanya Bila ketika menelepon.

Sejak beberapa waktu lalu, suaminya hanya mengabarkan kalau sudah tiba di Bandung. Bila menahan diri untuk tidak menghubungi karena takut menganggu. Namun, akhirnya dia menyerah dengan menelepon lebih dulu.

"Lagi main. Naufal lagi apa?"

"Naufal lagi tidur. Aku mau ngomong bentar coba sama Kakak. Dia enggak rewel, kan?"

"Aman. Sebentar aku panggil."

"Kak, Memei telepon."

"Ayah aja yang ngomong," jawaban samar dari putri sulungnya membuat Bila menggelengkan kepala, gemas.

"Dia tidak mau jawab," ujar suaminya sambil tersenyum.

"Coba sekali lagi gih."

Bila enggan menyerah.

"Kak Masha...."

"Kakak lagi main, Yah."

Layar ponsel berubah dari wajah suami berganti dengan anak-anak yang bermain di halaman. Di sana terlihat Masha sedang bermain dengan Caca, Syafa, Syifa, dan beberapa anak seumuran lainnya.

"Pantas aja dia nggak mau ngomong, ada pasukannya. Itu tumben si Kembar ikutan lintas kota."

"Iya, katanya mereka kebetulan baru menginap di tempat Om Alvin. Terus Ave tugas ke luar kota. Jadi mereka diajak sekalian. Jadi, harap maklum kalau kamu dilupain sama Kakak ya, Mei!"

"Tapi, aku kangen lho ini sama Kakak. Suruh ngomong bentarrrr banget deh, Kak," ujar Bila dengan memohon.

"Sebentar."

Bila akhirnya tersenyum senang ketika Daffa paham atas keinginannya. Layar ponsel yang bergerak menandakan kalau suaminya itu sedang berjalan mendekati putrinya.

"Kak, ngomong bentar sama Memei. Dari tadi kan kamu belum telepon."

Ketika layar menampilkan Masha yang tersenyum, tak urung membuat Bila ikut menarik bibirnya.

"Mei, Kakak senang deh di sini. Ada banyak temannya. Sekarang Kakak mau main lagi, ya. Nanti kalau mau tidur Kakak telepon. Daaa, Mei. Assalaamu'alaikum."

Klik

Panggilan terputus begitu saja, bahkan sebelum dia sempat menjawab salam. Pesan teks masuk tak lama kemudian.

Yang sabar ya, Mei. Pasti kamu lagi gregetan. Aku tahu rasanya.

Bila menghela napas. Benar saja, hal yang baru saja dilakukan Masha memang sudah tidak asing lagi. Masha sering memutuskan panggilan dari sang Ayah dengan seenaknya jika sedang sibuk bermain.

Waktu terus berlalu. Hingga jam sembilan malam, tidak ada panggilan masuk sama sekali. Bila yang baru saja menidurkan Naufal dan ikut mengantuk akhirnya mengirimkan pesan.

Kakak belum tidur? Katanya tadi mau telepon?

Bila mengerjapkan mata dan melihat jam dinding. Ternyata sudah satu jam dia ketiduran. Suara ponsel berdering menandakan ada pesan yang masuk.

Dia sudah tidur dari habis Isya', kecapekan. Maaf, tadi hp ditaruh di kamar. Saudara yang lain baru selesai pamitan pulang. Adek sudah tidur?

Hm, untung saja dia ketiduran, kalau tidak bisa-bisa menunggu balasan pesan sampai bosan. Ayah dan anak sama saja, sama-sama tidak sadar kalau ada seorang yang menunggu kabarnya.

**

Barangkalilagi jauh dari orangtua, gih ditelepon. Siapa tahu ortunya kangen, tapi Beliau nggakmau telepon dulu karena takut mengganggu waktumu.   ^^

Catatan Harian MashaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang