Diary Ramadhan 15

7.1K 1.3K 65
                                        

"Mei, kapan Memei haid?" tanya Masha ketika pulang dari bermain.

Bila menatap putrinya dengan heran. Tidak ada angin, tidak ada hujan kenapa pertanyaan Masha bisa sampai sini?

"Memangnya kenapa, Kak?"

"Soalnya kalau Memei haid, kan sakit, terus kan Memei ndak shalat, ndak tarawih, ndak puasa. Terus Kakak kan ikut tarawih, ikut puasa sama kayak Memei. Jadi, kalau Memei haid, Kakak ndak tarawih, ndak puasa, enak."

Sejak kapan ada aturan begitu, Kak? Bila menggelengkan kepala, takjub dengan pemikiran Masha.

"Kalau haid, yang sakit siapa, Kak?" tanya Bila kemudian.

"Memei."

"Kakak sakit?"

"Ndak," jawab Masha sambil menggeleng.

"Kakak mau sakit?" tanya Bila lagi.

"Ndak. Sakit itu ndak enak."

"Nah, itu dia, Kak. Kan Memei yang sakit, jadi ya Kakak nggak boleh ikut-ikutan. Besok walaupun Memei nggak puasa, Kakak harus puasa. Tarawih juga, kan masih ada Ayah. Katanya anak solehahnya ayah, Ayah kan puasa setiap hari, Kak."

Bila mencoba menjelaskan kepada Masha sesederhana mungkin. Namun, sepertinya Masha tampak belum setuju dengan ucapannya.

"Tapi kok Daun begitu, Mei. Daun ndak puasa, katanya karena ibuknya ndak puasa. Semalam ndak tarawih karena ibuknya ndak tarawih. Kan Kakak jadi pengen juga, Kakak kan capek."

Oh, jadi sumber pertanyaan unik dari Masha karena Daun. Dia habis pergi bermain di rumahnya dan pulang-pulang membawa pertanyaan itu.

"Besok Kakak bilangin ke Daun ya, kalau yang sakit ibuknya, Daun tetap harus puasa."

"Oke, Mei!"

❤❤❤

Sore hari menjelang mengaji.

"Masha! Ayo ngaji!" panggil Daun menghampiri Masha untuk berangkat mengaji bersama.

Tidak lama kemudian, Masha muncul sudah memakai gamisnya.

"Un, kamu kan ndak puasa, kok berangkat ngaji? Kalau ndak puasa nanti kamu ndak dapat takjil lho. Terus kata Memei, kalau ibukmu ndak puasa, kamu tetep harus puasa, Un. Kan kamu ndak sakit, yang sakit ibuk. Sana pulang, besok aja kamu ngajinya kalau udah puasa, aku diantar Memei," ujar Masha tanpa jeda.

"Begitu, Sha? Ya udah, aku pulang. Nanti malam aku dipanggil buat tarawih bareng memeimu, ya."

Daun berkata ringan, sama sekali tak tersinggung dengan ucapan Masha dan langsung kembali ke rumah. Sementara itu, Bila yang mengekor di belakang Masha terdiam. Seenaknya saja putrinya menghakimi Daun tidak boleh mengaji.

Nggak gitu juga kali, Kak. Tapi... kalau dipikirkan bagus juga sih, Daun nanti malam mau berangkat tarawih lagi.

"Kak, siapa saja boleh mengaji. Mengaji itu cari ilmu biar pinter. Daun yang nggak puasa boleh berangkat kok," tegur Bila mengingatkan.

"Dapat takjil juga, Mei?"

"Iya. Takjilnya dibuat banyak, khusus buat anak soleh sama solehah yang mau ngaji."

"Begitu, Mei?"

Bila mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Masha.

"Kalau begitu Kakak ke rumah Daun ya, Mei. Kakak berangkat sama Daun aja. Lagian adek belum mandi, bau ompol. Assalaamu'alaikum."

Bila menjawab salam sambil menatap kepergian Masha sambil tersenyum geli. Putrinya ini suka sekali mengungkit Naufal yang masih mengompol.

Karena tidak semua yang ada di sekitar kita, harus diikuti.

❤❤

Ide cerita dari kak niamaharani Jazakillah khayr, Kak😘😘
Buat yang ada ide-ide lucu untuk Kak Masha boleh lho tulis di komen atau DM langsung, ya. - Alyaaa

Catatan Harian MashaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang