Kelewat Sahur
"Mei, kok udah siang? Kok Kakak ndak dibangunin subuh? Katanya pagi-pagi harus sahur juga."
Bila menatap sulungnya tanpa kata. Kekecewaan tampak jelas sekali di mata Masha. Namun, bagaimana lagi, waktu tidak bisa diulang. Semalam, mereka sudah membangunkan Masha berulang kali, tetapi anaknya itu bergerak pun enggan.
"Kamu udah dibangunin, Kak. Tapi, kakaknya nggak bangun-bangun."
"Kenapa ndak dikasih ujan air biar bangun? Kan Kakak mau sahur, subuhan juga. Biasanya kalau ndak bangun dikasih ujan," protes Masha dengan nada kecewa.
Bila menghela napas, "Sudah, Kak."
"Kok bantal kakak ndak basah? Kok Kakak ndak bangun?"
Kenapa justru bertanya? Seharusnya memei yang tanya, Nak.
"Kenapa ini bidadarinya Ayah pagi-pagi pada debat? Siapa yang menang? Kakak tadi tidak bangun subuhan, kan? Shalat dulu sana, Kak. Biar adem, tidak marah-marah."
Suaminya yang pada hari normal bisa menenangkan Masha tidak terlalu berpengaruh. Masha tetap manyun.
"Kakak sebel sama Memei, sama Ayah juga!" ujar Masha lantang. Meski begitu, dia tetap pergi untuk melaksanakan instruksi ayahnya. Shalat Subuh jam enam pagi.
"Kalau ngambek itu anak makin mirip sama kamu, Mei. Sebelas, duabelas."
Kali ini Bila tidak bisa membalas ucapan suaminya. Sudah banyak mulut yang berkata demikian. Dia pun undur diri dan memilih melanjutkan aktivitas menyapunya.
Tak lama kemudian, tampak Masha yang ada di ruang bermain dengan lesu. Dia tidak tertarik untuk bergabung bersama Naufal dan ayahnya yang sedang memberi makan ayam. Padahal itu adalah kegiatan favoritnya.
"Maaf ya, Kak. Besok-besok ayah sama memei bangunin Kakak sampai bangun, ya. Kalau ndak bangun nanti dikasih ujan, kalau perlu sampai banjir."
Bila akhirnya menghampiri Masha yang merajuk. Bagaimanapun juga, dia juga salah karena tak mengindahkan pesannya. Masha yang tak kunjung bangun membuatnya menyerah. Dia bahkan sudah memercikkan air ke wajah, seperti hujan yang dimaksud anaknya. Namun kemudian, dia tak tega melihat wajah pulas Masha.
Ah, biarlah, pikirnya semalam.
Dia sama sekali tidak menyangka kalau Masha akan merajuk seperti sekarang.
"Kakak kan mau puasa, Mei. Kalau puasa kan harus sahur biar ndak laper. Terus nanti kalau Kakak laper gimana?" protes Masha lagi.
"Kakak kan masih kecil, baru belajar puasa. Kalau masih belajar, pas lapar boleh makan. Nanti dilanjut lagi puasanya."
"Tapi, Kakak maunya yang lama belajarnya, Mei. Jam tiga gitu baru makan."
Bila dengan sabar mengangguk mengiyakan. "Begitu juga boleh, kalau Kakak kuat nahan lapar."
"Terus kalau mau belajar puasa itu, Kak. Kakak tidak cuma menahan lapar sama haus, tapi Kakak ndak boleh marah-marah, harus sabar," tambahnya kemudian.
"Begitu, Mei?"
"Iya."
"Jadi, Kakak minta maaf ya, Mei?"
Kamu nanya apa minta maaf ini, Nak?
Bila mengangguk saja mengiyakan.
"Kakak mau kasih makan ayam dulu, Mei. Ayam kan ndak puasa."
Tanpa menunggu jawaban, Masha melesat keluar.
❤❤❤
"Kakak dari pagi belum makan, Mei?" tanya Daffa yang baru saja menengok Masha di kamar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Catatan Harian Masha
UmorIni cerita tentang seorang anak bernama Masha. Ini bukan cerita tentang bagaimana cara mendidik anak dengan baik dan benar, melainkan hanya hal-hal sederhana yang sering dijumpai pada anak-anak.
