Caca vs Masha
Suasana sahur pagi ini di rumah Ayah Reffi tampak ramai. Beberapa kerabat memang sengaja menginap, termasuk Bila dan keluarga. Masha yang biasa sahur dalam keadaan terkantuk-kantuk, pagi ini segar bukan main. Efek banyak teman.
"Kak Caa, Kakak mau dibeliin Om Di baju buat lebaran, warnanya biru. Kakak ndak dibeliin, kan?" ujar Masha setelah menghabiskan sahurnya. Khas anak kecil, pamer.
Caca tersenyum mendengar ucapan Masha. Senyum penuh tipu daya.
"Kak Caca dikasih uang THRan lho sama Om Didi. Uangnya nanti bisa buat beli baju," jawab Caca sengaja memanasi Masha.
Masha yang tadi berujar dengan semangat, tampak kecewa karena merasa kalah. Namun tak lama, dia kembali bersuara.
"Om Diii, kok Kakak ndak dikasih uang juga?"
Didi berdecak sambil menggelengkan kepala melihat Caca dan Masha yang berdebat. Sementara itu, keluarga lain nampak tertawa.
"Kamu nggak boleh pamer gitu, Dek. Sama anak kecil iyain aja napa," tegur Ken angkat suara dengan berbisik.
Caca menatap kakaknya tidak setuju. "Kapan lagi ngerjain Masha, abisnya pamer sih."
"Om Diii, Kakak juga mau uang THR, buat ditabung," ujar Masha lagi.
"Katanya kemarin Kakak bilang, kata Ayah nggak boleh minta oleh-oleh, Kak. Kok sekarang minta THR?" tanya Didi sambil mengingatkan ucapan Masha tempo hari.
Masha langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan dan menatap ayahnya. Ketika ayahnya menggeleng tanda sebagai larangan, Masha tidak bersuara lagi. Dia memilih mengambil sepotong paha ayam krispi untuk dimakan.
"OM KEN!" panggil Masha di sela makan.
"Ya?"
"Kemarin Om Didi nawarin Kakak mau oleh-oleh apa, kok Om Ken ndak nawarin?"
"Kakak!" tegur Bila cepat.
"Apa, Mei? Kan Kakak cuma nanya?"
Terserah kamu deh, Sha.
"Kak, tidak boleh begitu. Kalau nanyanya kaya tadi, sama saja Kakak minta dikasih. Kecuali kalau ditawarin kayak Om Didi kemarin, baru boleh."
"Begitu, Yah?"
Daffa yang tadi menyimak ikut buka suara. Memang Masha ini tipe-tipe apa kata ayah, dia tidak membalas ucapan ayahnya dengan jawaban aneh-aneh seperti pada ibunya.
"Iya, besok-besok tidak diulangi lagi, ya."
Masha mengangguk patuh.
"Ya udah, kalau begitu Kakak berdoa aja sama Allah biar Om Ken ngasih Kakak uang THR jadi samaan kayak Kak Caca."
Selanjutnya Masha melafalkan doanya dengan lantang. Dia mengangkat kedua tangannya, berdoa yang diakhiri dengan mengusap muka. Kalau sudah begitu, Ken pun luluh dibuatnya. Dia mengambil dompet dan memberikannya kepada Masha.
"Alhamdulillah, terima kasih, Ya Allah. Allah baikkk banget sama Kakak," ujar Masha begitu selembar uang ada di tangan.
"Kak Ken mah gitu, aku aja kalau minta uang nggak pernah dikasih," protes Caca yang melihat aksi Masha berhasil. Ken memang jarang sekali memberinya uang. Alih-alih memberi uang, kakaknya lebih memilih mengajaknya berbelanja bersama, ke gramedia misalnya.
"Kamu mintanya bukan ke Allah sih, Dek. Kayak Masha dong doanya ke Allah, terus kakakmu jadi nggak tega gitu," Papa Alvin menimpali.
"Tapi, jangan di-loudspeaker juga kayak Kak Masha. Malu sama umur," lanjutnya lagi ketika melihat Caca sudah bersiap angkat tangan.
Caca yang cemberut pun kini menjadi bahan tertawaan seluruh penghuni ruangan.
Memintalah hanya kepada Allah saja, maka kamu tidak akan kecewa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Catatan Harian Masha
ComédieIni cerita tentang seorang anak bernama Masha. Ini bukan cerita tentang bagaimana cara mendidik anak dengan baik dan benar, melainkan hanya hal-hal sederhana yang sering dijumpai pada anak-anak.
