Ini cerita tentang seorang anak bernama Masha.
Ini bukan cerita tentang bagaimana cara mendidik anak dengan baik dan benar, melainkan hanya hal-hal sederhana yang sering dijumpai pada anak-anak.
"Nte Najwa ngapain, sih? Dari tadi kok main hp terus. Ke sini mau lebaran apa main hp?"
Najwa yang sedang melayani pertanyaan customer tentang jualannya tersenyum kecil mendengar komentar Masha.
Duit ini, Sha.
"Cuma sebentar kok, Kak. Ini kan sambil nunggu yang lain siap-siap. Nte lagi jualan ni."
"Jualan apa?"
Mendengar pertanyaan Masha, tiba-tiba saja Najwa seperti mendapatkan ide baru.
"Kak, kamu mau THR dari Tante ndak?"
"Maulah, Nte. Eh, tapi ini Kak Masha ndak minta, ya! Nte yang nawarin, soalnya Kak Masha ndak boleh minta-minta," jawab Masha tegas.
Najwa tergelak. Tidak boleh minta, karena toh kalau memang rejekinya Masha juga bakal dikasih. Hm. Mungkin ini cara didik Kak Bila agar Masha tidak terlalu berharap.
"Tapi ada syaratnya?"
"Apa, Nte?" tanya Masha dengan semangat.
**
"Meiiii!"
"Iya, Kak."
Bila yang sedang menemani Naufal bermain mobil-mobilan menoleh pada Masha. Anaknya itu langsung ikut duduk di sampingnya, menatapnya dengan antusias.
Pasti ada maunya, tebak Bila.
"Mei, Nte Najwa sekarang jualan baju. Memei borong dong bajunya. Ini nama tokonya, katanya suruh buka."
Bila melihat sticker yang bertuliskan @pojokcollection . Ah, dia sih masih ingat betul kalau ini adalah nama olshop milik Najwa. Namun, dia tidak tahu kalau sekarang Najwa berjualan baju. Penasaran, dimintanya Masha untuk menemani Naufal sementara dia membuka aplikasi instagram. Dilihatnya beberapa postingan terbaru, ada produk rok lilit beserta atasannya.
Bagus sih, tapi apa mungkin Kak Daffa bakalan kasih ijin pakai rok lilit begini? Kak Daffa selalu bilang suka jika dirinya gamis. Ehm, sepertinya kali ini dia tidak bisa membantu melariskan jualan Najwa.
"Ini bajunya nggak cocok sama Memei, Kak. Kalau buat kamu juga kegedean, ini buat anak gede. Kalau beli mau dipakai siapa?"
"Kata Nte Najwa tadi dibeli aja gitu, Mei. Kalau Memei ndak mau pakai, bajunya kasihin ke Nte Nawja. Begituuuu."
Bila terdiam, mencoba memahami ucapan putrinya. Terus maksudnya ini sama saja dia membelikan Najwa baju baru? Dari toko milik Najwa sendiri? Wih, untung dua kali lipat dong Najwa, untung dari jualan baju, juga dapat baju yang bisa dijual lagi. Dasar, Najwa si Otak Bisnis.
"Nte Najwa nggak suka juga baju begitu, Kak. Kakak nggak pernah lihat kan Nte pakai rok kayak gini, kan?" tanya Bila sambil menunjukkan ponsel kepada Masha.
Masha mengangguk, membuat Bila tersenyum lega. Namun, helaan napas tanda kecewa menarik perhatiannya.
"Kenapa, Kak?" tanyanya penasaran.
"Gimana kalau baju sama roknya buat Kak Caca, Mei? Kak Ca pasti suka? Kak Embun juga boleh deh."
Tadi Najwa? Sekarang Caca dan Embun? Semua aja kamu absen untuk dibelikan pakaian, Sha. Baik sekali.
"Kak Caca bajunya udah banyak, Kak. Kalau Kak Embun kan tinggal minta sama Nte Najwa," tolaknya halus.
"Yah, padahal Nte Najwa mau kasih THR ke Kakak kalau Memei beli bajunya."
Astaghfirullah!
Bila menghela napas. Najwa ini lho, bisa-bisanya memanfaatkan keadaan buat jualan.
**
Bila berjalan ke ruang tamu sambil menggendong Naufal yang mulai bosan bermain. Di sana ada Najwa, Embun, bersama orangtuanya, Om Eza dan Tante Vani. Ayah, Kak Daffa, dan Didi tampak menyambutnya.
"Kak Diii, beli bajunya Najwa gihhh," rayu Najwa kepada Didi.
Bila tidak heran, Najwa memang sudah seperti keluarga baginya. Wajar jika sepupunya itu tidak mau melewatkan momen bertemu dengan adiknya untuk berjualan, pun di depan orangtua.
"Aku suruh make baju cewek gitu, Wa? Yang benar saja?" tolak Didi enggan.
"Nggaklah."
"Terus? Kenapa disuruh beli?"
"Ya dibeli aja. Perkara baju itu mau di kemanain terserah. Kasih aku sebagai jatah THR juga nggak nolak."
"Enak di kamu dong."
"Beli satu gih, Di. Kalau sudah dibeli, nanti pasti Najwa diam, berhenti promosi lagi."
Rupanya obrolan Didi dan Najwa itu menjadi perhatian. Ayah Reffi ikut menimpali.
Ayah Reffi terlihat menggelengkan kepala sambil bergumam pelan, "Anakmu ini, Ja, Ja!"
"Ya udah sini aku beli setengah lusin, nanti kirimi nomer rekeneningmu."
Bila cukup kaget mendengar ucapan adiknya. Wih, sejak kapan adiknya jadi loyal begini? Didi kan biasanya perhitungan banget kalau masalah uang.
"Seriusan?" Najwa bertanya untuk meyakinkan.
"Iya."
"ALHAMDULILLAH!"
Seluruh penghuni yang ada dibuat geli melihat kehebohan Najwa. Akan tetapi, Bila lebih tertarik dengan tingkah aneh Didi. Apa mungkin bekerja di luar kota mengubah perangainya?
"Tumben Dek kamu mau beli yang ditawarin Najwa? Biasa juga nggak mau."
"Anakmu tuh, Kak! Dari tadi Masha nempelin aku, bisik-bisik minta buat borong baju yang dijual Najwa. Marketingnya jago banget, entah dibayar berapa itu Masha. Aku sampai bosan dengarnya."
Bila tergelak. Oalah, gara-gara Masha. Tersangka utama yang sekarang sibuk di dapur membantu utinya menyiapkan teh.
"Terus bajunya gimana, Kak Di? Buat Najwa aja, ya? Nanti biar kujual lagi." Najwa bertanya sambil tertawa yang langsung dijawab gelengan oleh Didi.
"Enak aja. Kirim ke tempatku kerja."
"Kamu mau pakai buat kerja, Di?" Om Eza bertanya tanpa dosa.
"Kamu nggak pacaran lagi kan, Di?"
Kali ini Ayah ikut bertanya.
"Astaghfirullah! Nggaklah, Om, Yah. Bajunya kan bisa buat istriku nanti," jawab Didi dengan datar.
"Kamu mau nikah, Dek? Kapan? Siapa calonnya? Orang mana?" Bila yang tadi menjadi pendengar akhirnya bertanya dengan antusias. Pertanyaan beruntun.
"Perasaan Ayah belum diminta buat melamar?" gumam Ayah Reffi
"Nanti itu nanti, entah kapan. Sekarang calonnya masih belum kelihatan."
Yahhh, penonton kecewa.
Tulisan ini dibuat untuk kepentingan promosi lagi. Maafkan ya. Btw kalau penasaran sama jualannya Nte Najwa bisa dilihat di ig atau shopee @pojokcollection . Heheu.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.