Ini cerita tentang seorang anak bernama Masha.
Ini bukan cerita tentang bagaimana cara mendidik anak dengan baik dan benar, melainkan hanya hal-hal sederhana yang sering dijumpai pada anak-anak.
"Ayah nggak bawa hp, Kak. Ini kan baru selesai shalat Isya. Nanti Memei sama adek kalau ke sini bawa hp baru minta difoto."
Daffa melihat wajah kecewa dari Masha. Anak itu lalu sibuk melihat sekelilingnya, dia pun mengikuti arah pandangnya. Tampak pemandangan beberapa orangtua yang sibuk mengabadikan momen putra dan putrinya. Ada satu hal yang menarik perhatian Daffa. Anak gadis kecil bernama Dela, pakaiannya sudah lengkap seperti Masha. Dia duduk sendirian di pojok teras, wajahnya muram, tidak seperti teman-teman yang lainnya. Pandangannya seperti kosong. Hati Daffa terenyuh melihatnya, Dela adalah anak yatim piatu yang tinggal bersama nenek dan kakeknya. Ketika anak yang lain sibuk dengan gadget orangtua masing-masing, Dela sendirian.
"Kak, sambil nungguin Memei, Kakak main sama Dela sana. Ajakin Daun juga."
"Dela mana, Yah? Ini Kakak juga lagi cari ndak ketemu, kalau Daun masih didandanin."
Ah, ternyata sejak tadi Masha bukan sibuk melihat orang lalu lalang, melainkan mencari Dela. Teman mengaji yang rumahnya paling di ujung. Masha hanya berkesempatan bermain dengannya ketika mengaji, beda dengan Daun yang rumahnya hanya lima langkah dari rumah.
"Itu di teras," jawabnya sambil menunjuk Dela yang masih pada posisi semula.
"Nanti kalau Memei sudah datang, Kakak di panggil ya, Yah."
Tidak lama kemudian, Masha menghampiri Dela. Gadis kecil itu tampak berbeda ketika Masha mengajak bermain. Wajahnya ceria.
❤❤❤
Bila melihat pawai takbiran dengan mengendarai motor bersama Naufal dan ayahnya. Keramaian memadati sepanjang jalan, terutama di persimpangan. Ah, inilah suasana meriah untuk menyambut hari kemenangan. Malam yang terkadang tidak ditemui ketika lebaran di rumah mertua.
Di persimpangan pertama, Masha tampak sangat bersemangat mengucapkan takbir. Sebuah senter yang sudah dihias ada di tangan kanannya, sementara tangan lainnya membawa bambu yang dihias dengan pita panjang. Selain takbir, mereka melakukan gerakan untuk memeriahkan suasana, suara drumband pun terdengar mengiringi. Dijamin, orang-orang tidak bisa tidur sebelum acara berakhir.
Pada persimpangan kedua, pemandangan masih sama. Suara takbir terdengar lantang, gerakan pun masih semangat. Namun, pada persimpangan ketiga yang juga terakhir tak lagi sama. Ketika melintas, Masha hanya berjalan bak robot, tanpa ekspresi. Bibirnya tertutup rapat ketika teman yang lain bertakbir. Kedua tangannya berada di sisi badan tanpa digerakkan.
"Kakak kelelahan tuh, Yah."
"Iya, untungnya sebentar lagi sampai finish."
Begitu rombongan pawai tiba di lokasi akhir. Bila dan orangtua lainnya langsung menghampiri putra dan putrinya yang sedang istirahat. Dalam hal ini, Naufal aman karena bersama ayahnya di belakang.