"Assalaamu'alaikum!"
Suara dari pintu masuk sukses membuat Bila tersenyum. Dua suara yang selalu membuatnya merasa bahagia. Siapa lagi kalau bukan Masha dan ayahnya. Mereka baru saja pulang dari mushola.
"Mei, tadi Kakak pas ngaji kan dapat makan buat buka puasa. Yang masih belajar puasa juga dikasih. Yang ndak puasa, anak kecil juga. Terus Kakak makan sendiri. Abis, Daun ndak abis masa," lapor Masha usai menyalaminya.
"Wuih, pinternya. Makan pakai apa tadi?"
"Daging dikuahin, Mei."
Bila memerhatikan Masha yang menaruh tasnya ke kursi. Dia membuka rit, lalu mengeluarkan iqro, mukena, tempat pensil dan bukunya. Berantakan.
"Ketemu!" soraknya girang.
Bungkusan plastik berisi sebuah pisang dan sepotong semangka ada di tangan Masha. Demi buah itu, isi tasnya berserakan di kursi.
"Nih Dek, Kakak kasih pisang," Masha mengulurkan pisang yang langsung disambut oleh Naufal.
"Baiknya perhatian sama adek," puji suaminya yang merapikan tas Masha.
"Soalnya Kakak ndak suka pisang, Yah. Jadi, pisangnya buat adek aja."
Glek.
Jawaban Masha memang selalu anti klimaks.
"Terus kalau isinya semangka sepotong aja, adek dikasih nggak, Kak?"
Bila bertanya dengan penasaran sekaligus was-was mengingat Masha yang kadang masih merasa terganggu dengan keberadaan Naufal. Yah, walaupun ini sudah sangat berkurang jika dibandingkan ketika baru lahir. Perlahan, mereka membimbing Masha agar menyayangi adiknya.
"Dikasihlah, kan kata Ayah kalau sama adek itu harus dibagi. Ndak boleh pelit. Kalau Memei mau, Kakak bagi juga setengah. Mau, Mei?"
MasyaAllah.....
"Bener?"
"Beneran. Tapi, besok kalau Memei ke pasar beliin semangka yang bulet ya, Mei."
Masha kok dilawan. Tawa dari arah seberang membuat Bila menghela napas. Suaminya itu seperti puas melihatnya mati kata oleh Masha.
"Nih, Mei."
Sebuah tangan kecil menyodorinya sepotong semangka, lalu tawa itu makin menjadi. Sepotong kecil semangka yang dibayar dengan sebuah utuh. Rugi, Sha.
Setelah semangka di tangan habis. Masha mengusap perutnya.
"Mei, ayam krispinya yang tadi masih ada ndak? Kak Masha pengen makan lagi."
Bila menatap Masha takjub.
"Kamu udah makan barusan di mushola, Kak. Belum kenyang?"
"Tapi kan Kakak pengen ayam krispi, Mei. Lagian tadi nasinya juga dikit."
Baiklah, fiks anaknya memang masih lapar. Sepiring nasi yang sudah disiram sop beserta sepotong ayam krispi dihidangkan di meja.Tak lama kemudian habis tak tersisa.
❤❤❤
Ketika akan tarawih.
"Mei, Kakak kenyang banget. Ndak usah ke mushola ya, Mei. Biar Ayah aja."
Daffa yang sudah bersiap tarawih menggelengkan kepala mendengar obrolan Masha dengan ibunya.
"Kekenyangan, Kak?" tanyanya.
"Iya, Yah. Kakak kenyanggg banget. Di rumah aja boleh toh?"
"Lain kali Kak, kalau makan itu tidak boleh asal kepengen. Tadi udah makan pas ngaji, terus di rumah mau lagi pakai ayam krispi. Kakak pasti kenyang terus jadi malas tarawih. Besok-besok kalau mau makan nasi lagi abis taraweh, ya. Kalau abis ngaji, buah aja."
Masha terdiam, tampak menyimak. "Kakak salah, Yah? Kakak minta maaf, ya."
Kalau Masha sudah berkata demikian, kekesalannya langsung sirna. Masha suka selali mengucapkan maaf yang mampu meredam rada gregetan.
"Iya, besok jangan diulangi, ya. Sekarang Kakak boleh tarawih di rumah sama Memei."
"Oke," jawab Masha sambil mengacungkan dua jempolnya.
Malam ini, Daffa menuju masjid seorang diri. Rasanya seperti ada yang kurang, tidak ada pertanyaan-pertanyaan ajaib dari anaknya sepanjang perjalanan.
❤❤❤
Hayo, siapa yang pernah kayak Kak Masha? Kekenyangan terus malas tarawih?
KAMU SEDANG MEMBACA
Catatan Harian Masha
HumorIni cerita tentang seorang anak bernama Masha. Ini bukan cerita tentang bagaimana cara mendidik anak dengan baik dan benar, melainkan hanya hal-hal sederhana yang sering dijumpai pada anak-anak.
