Tolong dan Terima Kasih

8.8K 1.3K 129
                                        


Dear  bebylubis    miakyukyu  SitiAisahCliverostra  terima kasih atas bantuan jawaban di bagian sebelumnya, Ayah Daffa pakai lho ini. ^^


Tolong dan Terima Kasih

Bila sangat penasaran dengan jawaban yang akan diberikan suaminya kepada Masha. Ups, mana dia kepikiran kalau Masha akan begitu awas ketika pergi bersama Ayah dan Bunda. Terlebih lagi anaknya tidak berkomentar apa pun tentang kursi setelah pulang tadi. Masha baru mengatakannya sekarang, di depan ayahnya.

"Sini, Sholihah," ujar Daffa kepada Masha agar mengikutinya duduk.

Masha terlihat mengekor ayahnya dan langsung duduk di pangkuan. Tas Ransel berisi laptop yang dibawa suaminya kini sudah duduk sendiri. Bila ikut duduk dengan Naufal di pangkuannya.

"Ayah mau nanya dulu sekarang, Kak."

"Nanya apa, Yah?" tanya Masha penasaran.

"Masha udah gede belum?"

"Udah, kan udah TK," jawab Masha dengan yakin.

"Jadi begini, Kak. Kursi motor itu buat anak kecil. Anak kecil kayak Dek Naufal tuh. Kalau Kak Masha yang duduk, ya gimana Ayah bawa motornya, ketutup Kakak dong. Apalagi sekarang Kakak katanya udah gede, udah tinggi, kemarin habis diukur sama Memei, kan? Nambah banyak tidak?"

Bila tersenyum kecil melihat Masha yang serius mendengar kalimat ayahnya. Dia sepertinya sudah tahu ujung pembiacaraan ini. Tidak akan ada lagi Masha yang merengek minta kursi.

"Kemarin nambah segini, Yah." Masha membentangkan ibu jari dan telunjuknya.

"Ohh, jadi kursi itu buat anak kecil ya, Yah? Daun kan kecil, Kak Masha lebih tinggi. Kalau gitu ndak usah jadi beli, Yah. Ayamnya ndak jadi disembelih," lanjutnya kemudian.

Suaminya terlihat mengangguk puas. Alhamdulillah, beres.

"Gimana kalau kita tetap beli buat Dek Naufal, Kak?" goda Bila yang penasaran akan reaksi Masha.

Sesuai dugaan, Masha langsung menggelengkan kepala.

"Ndak boleh! Adek masih kecil, digendong aja. Kalau pergi naik mobil. Itu motor kan buat boncengin Kak Masha."

Tetep ya, Sha. Tidak mau kalah.

"Kak, ambilin mobil-mobilan adek, Kak. Memei mau sambil nyapu halaman," ujar Bila kemudian ketika masalah kursi sudah berakhir.

Masha menggeleng, kali sibuk memainkan jarinya.

"Kak, itu Memei ngomong sama kamu kok tidak didengar?" tegur Daffa yang melihat aksi anaknya.

"Kak Masha ndak suka disuruh-suruh, Yah."

"Bukan nyuruh, Kakak. Tapi, Memei minta tolong."

"Tapi Memei ndak bilang tolong tadi."

Bila menyimak obrolan ayah dan anak itu dengan serius. Dia memang lupa menyertakan kata tolong tadi. Ah, ingatkan dia untuk tidak melupakan kata tersebut jika berbicara kepada Masha.

"Memei minta tolong ya, Kak. Tolong ambilin mobil-mobilan adek," ujar Bila melengkapi kalimat sebelumnya.

"Siap!"

Masha langsung turun dari pangkuan ayahnya dan berlari pelan masuk ke rumah.

"Jangan lupa kata tolongnya ya, Mei!" ujar suaminya yang berdiri untuk ikut masuk ke rumah sambil tergelak.

Bila berdecak, namanya juga khilaf.

"Meiii, ini Kak Masha bawain tayo sama macqueen biar Dek Nopal ndak nangis. Kak Masha bantuin nyapu ya, Mei?" ujar Masha sambil mengangkat kedua mainan Naufal.

Hati ibu mana yang tidak terenyuh mendengar ucapan polos seorang anak akan membantunya. Walaupun membantu di sini bisa berarti lain jika Masha yang melakukannya. Anaknya itu belum mahir menyapu, paling cuma memainkan sapu. Namun, inisiatif itulah yang patut diapresiasi.

"Wah, makasih ya, Kak. Makasih buat mobilnya, juga udah mau bantu nyapu."

"Sama-sama," jawab Masha

"Oh ya, Mei. Memei tahu Ali, temennya Kak Masha, kan? Masa kemarin udah dibantuin ambil penghapusnya yang jatuh ndak bilang makasih. Waktu Kak masha bilang ini Li penghapusmu jatuh, Ali cuma bilang dia ndak tahu kalau jatuh. Padahal kan kalau udah dibantu harusnya bilang makasih ya, Mei. Kayak Memei barusan."

Hm, sisi kritis Masha dimulai lagi. Inilah yang menjadi tugas bagi Bila selama ini. Jika yang diajarkan oleh dia dan suaminya bertentangan dengan apa yang ditemui Masha, mereka harus memberikan pengertian agar anaknya bisa mengerti. Faktor lingkungan sekitar memang tidak bisa dihindari, Masha masih perlu untuk belajar bersosialisasi. Risikonya, ada beberapa hal yang kurang tepat di mana dia harus meluruskannya.

"Ehm, mungkin Ali belum tahu, Kak. Jadi besok kamu bilangin ke Ali, kalau dibantu temannya itu harus bilang terima kasih. Kalau kita bilang makasih, yang udah bantu jadi senang, Kak. Merasa berguna juga dihargai. Tapi, kalau pun kayak Ali nih, kelupaan, ya ndak papa. Kak Masha tetap harus bantu lain kali, jangan kapok, ya."

"Gitu, Mei?"

"Iya."

Masha mengangguk paham, tidak berkomentar lagi. Dia kemudian menyodorkan tayo kepada Naufal. "Nih, tayonya, Dek. Jangan nangis, ya. Tak marahi nanti kalau nangis."

Bila melongo mendengar ucapan ajaib dari Masha. Baru juga kemarin dia puas dengan Masha yang menenangkan adiknya saat menangis. "Nangis kok dimarahi, Kak? Bukan ditenangin?"

"Kemarin Daun begitu, Mei. Adeknya nangis dimarahi. Terus bilang kalau adeknya ndak mau diem, mau dicubit."

Duh, PR lagi bagi Bila, apa iya kamu harus jadi burung dalam sangkar biar nggak usah terkontaminasi dunia luar yang kurang baik, Sha?

Tolong, sebuah kata sederhana yang menyadarkan bahwa kita masih membutuhkan bantuan dari orang lain.

Terima Kasih, sebuah kata sederhana yang bisa membuat pendengarnya merasa dihargai tanpa menggunakan uang.

^.^

Catatan Harian MashaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang