Diary Ramadhan 6

7.1K 1.3K 65
                                        

"Mei, sekarang tuh udah jam berapa toh?" tanya Masha penasaran.

"Cek sendiri di depan kenapa, Kak?"

"Kakak loyo, Mei. Tolong lihatin, ya."

Bila menatap Masha sambil menggelengkan kepala. Anaknya itu tiduran di kasur lipat sambil bermain barbie. Di sebelahnya Naufal yang sudah jago duduk sibuk dengan mainannya. Dia mengintip dari pintu jam dinding di ruang tamu.

"Baru jam sebelas, Kak."

"Oh, masih lama."

"Memangnya kamu nungguin apa?" tanya Bila heran. Apa jangan-jangan Masha sudah berjanji akan main ke tempat Daun?

"Mau buka, Mei. Kan katanya Kakak kalau belajar puasa boleh buka pas adzan. Terus dilanjut lagi."

Oalah, ternyata bertanya jam karena sudah menunggu buka.

"Laper, Kak?"

"Iya, haus juga. Jadi loyo, apa Kakak tidur aja ya, Mei. Nanti dibangunin."

Masha yang sekarang seperti mobil remote akan kehabisan baterai. Jalannya pelan sekali. Buat Masha, boro-boro untuk berjalan. Bangkit dari tidurnya pun terasa berat. Bila dibuat kasihan, tapi tak bisa berbuat apa-apa. Latihan puasa sejak dini  juga dilakukan demi Masha kelak.

"Iya, tidur aja."

Bila akhirnya menggendong Naufal dan membawanya keluar. Lalu, menyiapkan makanan untuk Masha.

Ketika adzan berkumandang, Masha tanpa dibangunkan sudah menyusulnya ke dapur. Dia langsung duduk manis di kursi setelah sebelumnya menarik pipi Naufal yang duduk di stoller. Adiknya itu langsung menangis keras.

"Kakkk...."

"Abis pipinya adek kayak bakpau sih, enak buat ditarik, pengen dimaem."

Gara-gara puasa jadi ingat makan terus gitu ya, Kak.

❤❤

Sore hari, Masha mengaji seperti biasa. Dia baru pulang bersama ayahnya setelah Maghrib.

"Mei, Kakak laper," adunya begitu selesai mencium pipi Bila.

"Laper lagi? Nanti kekenyangan kayak kemarin terus nggak tarawih?" tanyanya heran.

"Dia belum makan, Mei. Ini masih utuh takjilnya."

Jawaban dari suaminya semakin membuat Bila keheranan. Tumben Masha tidak makan?

"Takjilnya pake lele, Mei. Kakak ndak suka," timpal Masha dengan wajah masam.

"Tahu begitu tadi Kakak ndak usah ngaji aja," lanjutnya.

"KAK...."

Respon yang sama darinya juga suami membuat Masha menatapnya.

"Kalau ngaji itu buat belajar, niatnya bukan cari takjil, Kak," tegurnya.

"Kalau mau cari takjil banyak yang jual dipinggir jalan, Kak. Bisa milih lagi." Suaminya ikut menimpali.

Masha tampak diam. "Kakak salah ngomong, ya? Maaf, Yah, Mei."

Anak solehah.

"Abisnya Kakak udah laperrr banget, pengen makan, eh takjilnya lele. Jadi sebel," lanjutnya lagi.

Tetap saja kesalnya dibawa.

"Ya udah, sekarang makan pakai sayur sopnya adek mau?" tawar Bila cepat tanggap, sadar kalau Masha sudah kelaparan.

"Mau. Lauknya apa, Mei?"

"Tempe krispi."

"Asikkkk, Kakak suka tempe krispiii. Semua yang krispi-krispi."

Masha bersorak senang. Begitu makanan terhidang, dia makan begitu lahap. Sepertinya dia benar-benar kelaparan.

❤❤❤

Terkadang, kita lupa bersyukur atas nikmat yang sudah didapatkan dan justru fokus pada keinginan yang belum dikabulkan.

Catatan Harian MashaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang