"Kak, coba ke sini, Kak. Memei ada video baru, bagus," ujar Bila memanggil Masha yang sibuk di ruang bermainnya.
Bila membawa tablet dan sudah membuka aplikasi untuk memutar video.
"Apa, Mei? Lihat, lihat, lihat."
Masha menjawab semangat dan langsung menghampiri ibunya. Wah, jarang-jarang dia mendapat kesempatan lihat tablet di malam hari.
Sebuah keluarga kecil tampak di dalam video itu. Mereka lalu, menyanyikan sebuah lagu.
Ramadhan kurindu
Untuk bertemu
Siapkan hatiku
Juga hatimu
(Selengkapnya cek multimedia)
"Wahhh, bagus, Mei. Kakak langsung hafal lagunya. Ramadhan kurinduuu...."
Bila tersenyum puas, lirik lagu itu memang mudah untuk diingat.
"Pinjam, Mei. Kakak mau kasih lihat Ayah."
Tablet sudah berpindah tangan. Bila mengikuti Masha yang berjalan meninggalkannya menuju kamar.
"Yah!" panggil Masha ketika tak menemukan ayahnya di sana.
"Mei, ayah di mana?" tanyanya kemudian.
"Di ruang tamu, Kak. Tapi, Ayah lagi nidurin adek lho. Pelan-pelan ngomongnya, ya."
"Siap!"
Tanpa menunggu lama, Masha langsung berjalan menuju ruang tamu. Dilihatnya Sang Ayah yang sedang melihat buku mewarnainya.
"Yah... Yahh," bisik Masha pelan.
Bila tersenyum geli melihat Masha mengikuti ucapannya untuk berbicara pelan.
"Ya?"
"Kakak mau ngasih lihat yang baru sama Ayah. Adek kasih ke Memei sekarang, Yah," ujar Masha lagi masih dengan bisikan yang cukup keras. Dia kemudian menoleh ke belakang dan menemukan ibunya, "Mei, ambil Dek Nopal."
Tidak ingin Naufal terbangun, Bila segera mengambil alih. Sayangnya, karena belum terlalu pulas, Naufal justru terbangun dan merengek.
"Yah, bangun!"
Masha berucap spontan. Naufal yang menangis tak menjadi perhatiannya. Dia kembali fokus pada Ayahnya.
Ini kan karena kamu, Kak.
"Yah, lihat deh ini. Bagus, kita buat yuk, Yah. Nanti Kakak, Memei, sama Ayah, Adek juga, bikin video kayak gini. Terus nanti kasih lihat ke Kakung, Uti juga."
Bila tersenyum geli mendengar ucapan Masha yang saat ini sedang menunjukkan video kepada ayahnya. Tak lupa ikut bernyanyi. Masalahnya itu, ayah Masha tidak bersahabat dengan kamera. Ada pun foto, itu cuma ketika acara resmi saja. Boro-boro mau buat video.
"Kakak saja yang divideo, nanti ayah yang rekam."
Nah, kan.
"Begitu?"
"Iya."
"Besok ya, Yah. Besok kan Kakak libur. Ayah juga."
"Iya."
Ramadhan kurindu ingin bertemu.
Masha masih mengulang video yang sama ketika ayahnya memanggilnya.
"Kak."
"Iya?" jawab Masha yang sudah me-pause tabletnya.
"Kakak senang tidak besok sudah masuk bulan Ramadhan, mulai puasa?"
"Senang dong, Yah."
Senyum puas terukir di bibir ayahnya. "MasyaAllah, anak solehahnya ayah."
"Kalau puasa itu ya, Yah. Nanti Kakak bisa main kembang api sama Om. Terus ngajinya tiap hari, dapat maem. Terus kalau malam shalat tarawih, banyak temannya, bisa main. Terus Memei suka bikin es buah kalau Maghrib."
Wajah speechless dari suaminya membuat Bila tergelak.
Jawaban apa yang bisa diharapkan dari mulut Masha? Dia masihlah kecil dan butuh banyak pengertian. Tugas keduanyalah untuk membimbing Masha tentang arti bulan Ramadhan yang tepat. Ramadhan bukanlah sekadar sirup Marjan yang wira-wiri di tayangan iklan.
Jadi, sudah siapkah kamu menyambut Ramadhan?
❤❤❤
Alhamdulillah, akhirnya kita dipertemukan kembali dengan bulan Ramadhan. Semoga tahun ini kita menjalaninya lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Marhaban Ya Ramadhan, selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan. Jika ada tulisan dari saya yang kurang berkenan mohon dimaafkan.
Nb: Selama bulan puasa mohon maaf komennya tidak terbalas semua dulu, ya. Tapi, InsyaAllah tetap dibaca dan jadi penyemangat buat update Kak Masha.❤❤❤
KAMU SEDANG MEMBACA
Catatan Harian Masha
HumorIni cerita tentang seorang anak bernama Masha. Ini bukan cerita tentang bagaimana cara mendidik anak dengan baik dan benar, melainkan hanya hal-hal sederhana yang sering dijumpai pada anak-anak.
