Sabilla berjalan dikolidor pesantren,sesekali santriwati ada yang mengangguki Sabilla dengan sopan ada juga santriwati yang baru berumur sekitar enam tahun yang menyalami Sabilla dengan antusias,itu sedikit bisa menghibur Sabilla yang sedang gundah gulana.
Sabilla sedikit tak fokus berjalan sehingga kebiasaannya menabrak seseorang kembali kumat.
"Asfa.. Asfaa" Ucap Sabilla lalu menatap pria yang dia tabrak,ternyata itu kakaknya sendiri.
Fajar terkekeh lalu memeluk Sabilla "Mas kangen de"
"Assalamu'alaikum,mas. Billa juga kangen"Sabilla membalas pelukannya
"Wa'alaikumsalam"Fajar melepaskan pelukannya. Merasa ada yang aneh dalam diri Sabilla.
"Kamu sakit,de?"
Sabilla membulatkan matanya sekejap lalu berusaha bertingkah biasa saja "Emm tidak,mas. Kata siapa?. Alhamdulillah sehat kok"
Fajar mengangguk "Syukurlah kalau sehat,Nizar mana kok sendirian?"
Sabilla tersenyum "Kak Nizar harus ke rumah sakit,mas"
"Oh ya sudah kita pulang ya kerumah" Fajar merangkul bahu Sabilla sedangkan Sabilla melingkarkan lengannya dipinggang Fajar.
Sepanjang jalan mereka terlibat obrolan hangat dan sesekali keduanya melontarkan tebak-tebakan atau hal-hal yang bisa membuat mereka tertawa. Lagi-lagi Sabilla terhibur.
"Mas kalau Billa pergi dari dunia ini bagaimana ya?" ucap Sabilla tiba-tiba dan sukses membuat Fajar tertegun
"Kok gitu?. Tapi mas akan terima saja karena memang setiap manusia sudah kodratnya akan meninggal,akan kembali dibawa oleh Allah meskipun sulit untuk mas. Tapi mas akan terus mendo'akan semoga kamu panjang usia"
Sabilla terisak lalu memeluk Fajar "Billa sayang mas"
"Hey kok nangis,mas juga sayang kamu de"
****
Sabilla sudah kembali ke apartemen tepatnya setelah isya dijemput oleh Nizar tadi mereka makan malam bersama dirumah orang tua Sabilla.
Sabilla membersihkan tubuhnya terlebih dahulu setelahnya baru Nizar. Sabilla sudah mengenakan piyamanya yang berwarna maroon. Sabilla merogoh tasnya untuk mengeluarkan lima macam pel yang harus dia minum,dengan hati-hati dia mengeluarkan lima pel tersebut dan dia genggam agar Nizar tak mengetahui dan dengan mengendap juga Sabilla menelusup keluar kamar menuju dapur untuk mengambil air mineral.
Sabilla memejamkan matanya lalu mengambil satu gelas air mineral. Satu persatu pel itu Sabilla minum dan dipel terakhir dia tertegun ketika suara Nizar yang sudah berada dekat dengannya. Sabilla menyembunyikan obat itu ditelapak tangannya.
Sabilla membalikkan tubuhnya lalu tersenyum kepada Nizar yang menatapnya dengan mengintimidasi. "Ada apa?"
"Itu obat apa?"tanya Nizar dan sukses membuat Sabilla gugup
"Emm ini.. O..obat aku sedang sakit kepala,kak"
Nizar mengangguk "Sakit kepala. Ya sudah kamu istirahat ya ayo"
"Ya Allah satu pel lagi belum diminum"batin Sabilla
"Emm kak duluan saja ya aku mau ngisi tempat minumnya dulu biar nanti malam aku haus tidak usah membangunkan kamu"ucapnya menjadi alasan. Karena memang benar hampir setiap tengah malam Sabilla selalu membangunkan Nizar untuk mengambilkan minum karena dia takut keluar kamar sendiri.
Nizar tersenyum "Ya sudah jangan lama". Sabilla berusaha tersenyum lalu mengangguk. Nizarpun sudah tak ada diarea dapur dan Sabilla bernapas lega. Diapun meminum pel terakhir itu lalu mengisi tempat minumnya terlebih dahulu sebelum masuk kedalam kamar.
Nizar sudah merebahkan tubuhnya diatas kasur Sabillapun ikut merebahkan tubuhnya disamping Nizar.
Nizar menghadap Sabilla lalu mengelus rambut Sabilla "Mau aku pijat kepalanya agar tak sakit lagi?"
Sabilla tersenyum lalu membenamkan wajahnya didada Nizar "Aku tak apa. Tapi kak aku ingin bertanya" Sabilla kembali menatap Nizar
Nizar mengangguk "Tanyakan saja sayang"
Sabilla menelentangkan tubuhnya sehingga dia menatap langit-langit diatas "Kalau misalkan aku pergi darimu bagaimana?"
Nizar mengerutkan keningnya lalu mendudukkan tubuhnya dan menatap Sabilla "Pergi apa maksudmu? Memangnya kau mau kemana,bill? Kau tak berniat meninggalkan aku dalam artian kita pi...,"
"Sshhh" Sabilla terlebih dahulu memotong ucapan Nizar karena dia tak mau mendengar kata itu. "Bukan itu maksudku,kak. Kalau misalkan aku pergi bukan dalam artian hal itu bagaimana? Meninggal misalnya atau hal lain" Sabilla duduk dihadapan Nizar.
Nizar mendekap erat tubuh Sabilla "Jangan bicara seperti itu,bill. Aku tak tau akan seperti apa jika kau pergi meninggalkanku aku tak mau apapun itu alasannya"
Sabilla memejamkan matanya didalam dekapan Nizar. Aku harus pergi kak. Batinnya.
*****
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Sabilla | √
Spiritüel-Ambil hal positifnya dan buang hal negatifnya- HR #1 in Spiritual (TAHAP REVISI TANPA UNPUBLISH) (Revisi baru lima part pertama) "Aku sangat-sangat berterima kasih kepada Allah karena telah menghadirkan sosok dirimu yang benar-benar sempurna dan bi...
