"Kak Nizar"Teriak Sabilla dari arah luar kamar mereka.
Nizar tersenyum lalu membukakan pintu kamarnya untuk Sabilla "Ada apa,sayang?"
Sabilla menarik lengan Nizar dan membawanya keruangan seni pribadi dirumah mereka yang sudah sepenuhnya ruangan itu dikuasai oleh Sabilla. "Ikut aku,kak. Aku ingin menunjukkan sesuatu"
"Kita mau kemana,Bill?"
"Ikut saja ya"
Beberapa menit menuju ruangan itu akhirnya mereka sampai dan Sabilla membukakan pintu itu. "Tutup matanya..."ucap Sabilla.
Nizar terkekeh "Iya iya"Nizarpun menutup matanya dan berjalan dibimbing oleh Sabilla hingga didepan sebuah lukisan yang ditutupi kain. Sabilla melepaskan cekalanannya dilengan Nizar lalu mengambil sebuah cup cake buatannya.
"Kalau aku sudah menghitung sampai tiga baru buka ya matanya"
"Iya,sayang"
"Ah tidak mau kau harus berbalik. Biar aku bantu"Sabillapun membantu Nizar membalikkan tubuhnya lalu kembali meninggalkan Nizar dan membuka kain yang menutupi lukisan itu. Lukisan ini memang dibuatnya tiga tahun yang lalu namun dia selalu tak sempat memberikannya kepada Nizar. Lukisan ini adalah lukisan dirinya juga Nizar.
"Apa sudah?"ucap Nizar yang tidak sabar.
"Issshh aku belum berhitung"
Nizar terkekeh "Iya baiklah. Cepat aku tak sabar"
"Iya... Satu..." Sabilla sudah menggenggam cup cake berukuran sedang itu ditangannya dan tubuhnya kini berada didepan lukisan "Dua.... Ti...ga"
Nizar membuka matanya dan membalikkan tubuhnya dan dia merasa terharu melihat Sabilla yang membawa sebuah cup cake dengan lilin angka usia Nizar yang tak dinyalakan diatasnya juga lukisan wajah dirinya dan Sabilla meskipun sedikit tidak jelas karena setengahnya tertutupi oleh tubuh mungil Sabilla. "MashaAllah,Billa kau..., ya Allah ini indah sekali"
Sabilla tersenyum lalu menghampiri Nizar,maksudnya semakin mendekatinya. "Selamat bertambah dewasa,sayang. Semoga kau tetap menjadi suami terbaik dikehidupanku dan juga menjadi abi yang baik untuk Humaira kita. Terima kasih masih setia padaku disisa-sisa usia kita yang semakin berkurang. Aku mencintaimu,kak"ucap Sabilla.
Nizar menangis,meskipun ditahun-tahun sebelumnya Sabilla selalu memberinya kejutan namun rasanya ini yang paling berbeda dan menyentuh. "Billa,istriku tersayang. Terima kasih,entah kata apa lagi yang dapat aku sampaikan padamu selain berterima kasih,aku juga mencintaimu dan Humaira" Nizar memeluk Sabilla erat dan Sabillapun memeluk Nizar.
Sabilla tersenyum lalu melepaskan pelukannya. Dia mencabut lilin angka itu lalu membuka cup cake itu dan mengulurkannya kemulut Nizar dan Nizar menggigitnya lalu Nizar mengambil cup cake itu dan menyuapi Sabilla juga. Dan terus melakukannya sampai kuenya habis. "Oh iya lukisannya,sayang?"
Sabilla membimbing Nizar agar lebih mendekati lukisan itu. "Sebenarnya ini lukisan sebelum kita umrah dulu,kak. Emm lebih tepatnya ketika kau mengira aku akan pergi kembali untuk kesekian kalinya padahal aku-"
"Yang ketika aku mencarimu ternyata kau habis dari ruangan ini?"
"Ya tepat sekali"
Nizar merasa tak percaya "Itu sudah sangat lama,sayang mengapa kau baru memberikannya padaku sekarang?"
Sabilla terkekeh "Baru ingat. Tapi tak apa,KEJUTAN!!"Ucap Sabilla dengan ceria.
Nizar menatap lukisan dihadapannya "Lukisannya sangat indah,bill. Mirip aslinya,kau ternyata pandai sekali melukis"
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Sabilla | √
Espiritual-Ambil hal positifnya dan buang hal negatifnya- HR #1 in Spiritual (TAHAP REVISI TANPA UNPUBLISH) (Revisi baru lima part pertama) "Aku sangat-sangat berterima kasih kepada Allah karena telah menghadirkan sosok dirimu yang benar-benar sempurna dan bi...
