Sabilla menghampiri Nizar lalu menatapnya. "Aku akan makan sekarang tapi kau juga harus makan"
Nizar mengangguk tanpa senyuman diapun bangkit untuk menelpon pelayan hotel menggunakan telepon. Setelahnya Nizar merebahkan tubuhnya disofa.
Sabilla mengerucutkan bibirnya. "Kak ih"
Nizar mendongak lalu menaikkan kedua alisnya. Sabillapun menghampiri Nizar lalu berjongkok disamping Nizar. Lalu menatap Nizar dengan tatapan nanar,matanya kini mulai berkaca-kaca.
"Maaf,kak"ucap Sabilla dengan lirih.
Nizar terkesiap ketika mendengar isakan kembali lolos dari bibir tipis Sabilla. "Heyy sshhh sudah jangan menangis aku memaafkanmu" Nizar bangkit dari tidurnya lalu ikut berjongkok dan memeluk Sabilla.
Sabilla terus menangis hingga dia berhenti ketika pelayan hotel datang membawakan makanan untuk Sabilla dan Nizar. Nizar mengambil alih makanan dari pelayan itu.
"Billa sudah ya jangan terus menangis,kita makan dulu"Nizar menyimpan makanan itu di meja dekat sofa.
Nizar menyeka air mata Sabilla dan mengecup keningnya pelan "Berhentilah menangis,sayang".
Sabilla menyeka air matanya dan memeluk Nizar "Maaf"
Nizar terkekeh lalu membalas pelukan Sabilla."Aku sudah memaafkanmu,lain kali kau harus tepat waktu jika makan. Aku juga minta maaf karena telah membentakmu aku hanya tak ingin kejadian waktu itu terulang kembali karena kau tak makan dari pagi".
Sabilla mengangguk didalam pelukan Nizar lalu setelahnya melepaskan pelukannya. Nizar menyerahkan piring berisikan nasi dan lauk pauknya kepada Sabilla untuk Sabilla makan.
"Mau aku suapin?"Ucap Nizar menaik turunkan alisnya.
Sabilla terkekeh lalu menggelengkan kepalanya"Tak usah aku mampu makan sendiri,kak"
Nizar mengangguk lalu keduanyapun memakan makanannya bersama.
****
Setelah sholat isya Sabilla mendudukkan tubuhnya ditepi kasur sambil bersholawat dengan suara merdunya. Nizar yang mendengarnya tersenyum haru,istrinya memang shalehah karena batinnya terguncang akibat meninggalnya sahabatnya dia menjadi seperti waktu itu.Sabilla terisak ketika bersholawat,dia mencintai Rosulullah,sangat bahkan dia mencintai beliau jauh tinggi dari pada mencintai manusia lainnya,kejadian beberapa bulan ini dia merasa sangat berdosa karena dengan lancang dia menganggap Allah tak adil karena mengambil sahabat yang dia sayangi.
Sabilla menghentikan sholawatnya saat handphone miliknya berbunyi menunjukkan nama Gio. Nomor di whatsapp sudah Billa blokir namun dia masih saja menelpon lewat panggilan seluler.Sabilla menyeka air matanya dan menghela napas dalam. Diapun menggeser layarnya untuk menerima telepon Gio.Sabilla dengan ragu menatap Nizar yang berada disofa yang juga sedang menatapnya.
"Assalamu'alaikum,kak"ucap Sabilla dengan nada bergetar sungguh yang dia lakukan adalah salah. Nizar menatap Sabilla dengan tatapan bingung.
"Wa'alaikumsalam,Bill"
Sabilla memejamkan matanya. Rasa nyaman saat mendengar suara Gio mulai muncul kembali. Dulu, saat awal masuk kuliah Sabilla memang sangat dekat Gio bahkan dia merasakan nyaman ketika sekedar bersenda gurau meskipun sama sekali tak pernah saling tatap. Dia menyayangi Gio,rasa sayang yang entah untuk seorang kakak atau lebih dari itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Sabilla | √
Spiritual-Ambil hal positifnya dan buang hal negatifnya- HR #1 in Spiritual (TAHAP REVISI TANPA UNPUBLISH) (Revisi baru lima part pertama) "Aku sangat-sangat berterima kasih kepada Allah karena telah menghadirkan sosok dirimu yang benar-benar sempurna dan bi...
