CintaSabilla•30-Memulai kembali

13.7K 753 0
                                        

Siang ini Sabilla sedang berada ditaman rumah sakit,duduk dikursi roda ditemani Nizar yang duduk dikursi taman didekatnya. Jarak mereka sangat dekat jadi Nizar tak terlalu mencemaskan Sabilla.

Sabilla membalikkan kursi rodanya sehingga kini dia dan Nizar saling berhadapan. Nizar tersenyum kepada Sabilla dan Sabillapun seperti itu. "Aku ingin kembali keruang inapku,kak"ucapnya lalu diangguki oleh Nizar. Nizar bangkit dari duduknya dan mendorong kursi roda yang dipakai Sabilla menuju kamar inapnya.

Sesampainya diruang inap Sabilla menyandarkan tubuhnya diatas bantal yang ditumpuk mengenai dinding. Nizar permisi keluar ruangan sebentar. Dan kembali dengan tangan kanan yang dia lipat kebelakang seperti memegang sesuatu. Sabilla terfokus kepada handphonenya dia sedang membaca Al-Qur'an.

"Sayang"Ucap Nizar membuat Sabilla mendongak dan berbinar bahagia. Nizar menyerahkan sebuket bunga mawar putih kepada Sabilla,mawar putih adalah bunga favorit Sabilla sejak kecil dan entah dari mana Nizar mengetahuinya.

Sabilla mengambil buket bunga itu lalu menghirup wangi dari bunga itu lalu dia berhambur memeluk Nizar. "Terima kasih,kak"

"Kau suka? Pasti suka kan sudah jelas itu bunga kesukaanmu"

Sabilla melepaskan pelukannya lalu menyipitkan matanya menatap Nizar "Dari mana kau tau,kak?"

"Dari hatimu"Ucap Nizar mengasal

Sabilla mengerucutkan bibirnya "Terserahlah,yang terpenting terima kasih aku sangat menyukainya"

"Just say thank?"ucap Nizar

Sabilla tersenyum lalu mencium pipi Nizar cukup lama "Aku mencintaimu"

Senyum Nizar melebar seketika "Aku jauh lebih mencintaimu,sayang"

Sabilla kembali menghirup aroma bunga itu lalu tersenyum dan menatap Nizar yang juga tengah menatapnya.

"Mas Fikri mana,kak?"ucap Sabilla yang baru menyadari kakaknya itu tak pernah terlihat dirumah sakit untuk menjaganya atau sekedar menjenguknya.

"Masmu ada disini sayang. Assalamu'alaikum"ucap Fikri yang baru saja menutup pintu. Nizar tersenyum lalu menyalami Fikri lalu Fikri berhambur memeluk Sabilla.

"Wa'alaikumsalam"ucap keduanya serempak.

"Alhamdulillah kamu sudah siuman,de. Mas merindukanmu"ucap Fikri yang mencium pipi Sabilla. Dan Sabillapun mencium pipi Fikri.

Fikri menatap buket bunga yang berada dalam genggaman Sabilla "Ciee yang dikasih bunga"

Pipi Sabilla merah merona "Apa issh Mas"

Fikri dan Nizar terkekeh bersamaan. "Kapan Billa bisa pulang,zar?"

"Kata dokternya besok inshaAllah sudah bisa pulang,mas"ucap Nizar yang diangguki oleh Fikri.

Keesokan harinya Sabilla sudah kembali kerumah Fikri,uminya juga uminya Nizar berbinar bahagia karena melihat Sabill sudah bisa keluar dari rumah sakit.

Sabilla dan Nizar kini tengah berada dikamar yang biasa Sabilla pakai ketika menginap dirumah Fikri.

Sabilla sedang merebahkan tubuhnya diatas kasur sedangkan Nizar tiada henti mengelus rambut Sabilla."Bill"

"Iya,kak"

"Kau mau kembali ke Jakarta atau menetap di Bandung saja?"ucap Nizar yang masih mengelus rambut Sabilla dengan sayang.

Sabilla menatap Nizar lekat "Aku sebenarnya ingin disini saja namun aku tetap akan kembali ke Jakarta. Aku ingin di Bandung hanya karena ada mas Fikri"

Nizar mengangguk mengerti lalu mencium dahi Sabilla singkat"Besok kita pulang ya"ucapnya diangguki oleh Sabilla.

****

Setelah makan malam bersama Sabilla dan Nizarpun kembali kekamar mereka. Nizar duduk disofa yang berada dikamar diikuti Sabilla yang menyandarkan kepalanya dibahu Nizar.

"Sayang"ucap Nizar.

Sabilla sedikit mendongak sehingga keningnya menempel dengan leher Nizar."Iya,kak".

"Kita baca surah ar-rahman tapi lanjut ayat"ucap Nizar.

Sabilla mengangguk antusias. Merekapun membacanya diawali oleh Nizar. Satu ayat terakhir dibaca oleh Sabilla dan merekapun mengakhirinya. Terdengar adzan isya berkumandang merekapun salat bersama.

Setelah salat Nizar membalikkan tubuhnya menghadap Sabilla. Sabilla mencium punggung tangan Nizar dan Nizarpun mencium dahi Sabilla sangat lama."Billa,istriku"ucap Nizar dengan lembut.

Sabilla tersenyum "Iya"

"Bolehkah aku malam ini menginginkan dirimu sepenuhnya?"

Pipi Sabilla bersemu merah. Meskipun ini bukan permintaan Nizar yang pertama kali namun dia masih saja malu. "Bolehkah?"Nizar mengulang permintaannya. Sabilla mengangguk malu dan Nizar tersenyum lebar "Baiklah kita salat dua rakaat dulu" merekapun salat kembali.

Nizar membuka mukena Sabilla dengan sangat hati-hati lalu mencium bibir Sabilla dengan sangat lembut dan membawa tubuh Sabilla keatas kasur tanpa melepaskan ciumannya. Nizar dan Sabillapun melakukan kewajibannya.

Cinta Sabilla | √Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang