DUA PULUH-Ditinggal Pergi

46 4 1
                                        

"Lho, kok ada tante Vivi sama om Harry? Ini ada apa sih?" tanya Fera terkejut melihat Vivi dan Harry datang ke rumahnya.

"Duduk dulu" ucap Alfero pada Fera.

Fera menuruti apa yang dikatakan Alfero. Ia duduk berhadapan dengan Cavin. Cavin tersenyum tetapi Fera memandanginya dengan tatapan jijik.

"Hari ini papa, mama, tante Vivi, dan om Harry berangkat ada urusan diluar kota. Kebetulan om Harry mau ketemu client. Papa mau ngurusin cabang perusahaan dan sekalian liburan. Karena kamu sekolah, kamu sama Cavin tinggak di rumah. Kapan-kapan kita liburan bareng lengkap!" jelas Oslyn. Semuanya hanya mengangguk.

Fera juga mengangguk. Ini sudah biasa. Bukan hanya sekali tapi sudah berkali-kali. Tapi bedanya, hari ini mereka berangkat bersama nanti. Biasanya mereka berangkat sendiri-sendiri ke bandara.

Mereka memakan sarapan bersama dengan pak Ahmad, pak Adi, dan bi Siti.

"Nanti Cavin tidur disini, Zane juga selalu pulang ke rumah ini" ucap Harry memecahkan keheningan yang ada sejak tadi.

"WHAT?!?!" teriak Fera.

Semua menatapnya dengan heran. Seharusnya bukan Mereka yang heran. Seharusnya yang heran itu Fera. Mengapa harus Cavin disini. Bukankah sudah cukup ada Zane?

"Kenapa sih, Fer?" Zane memandangnya bingung.

"Kenapa Cavin harus tidur disini?" Fera balik bertanya.

"Biar kalian pergi bareng" kali ini Harry ikut ambil ahli.

Fera menghela nafasnya gusar. Ia membantingkan sendoknya kesal lalu,  "Fera kenyang" ucapnya segera meninggalkan ruang makan itu.

"Fera kenapa, Slyn?" tanya Vivi karena bingung dengan sikap Fera tadi.

"Ga tahu tuh. PMS mungkin" Oslyn hanya bersikap acuh tak acuh. Ia tahu anaknya kalau PMS memang suka labil.

"Kita berangkat sekarang. Kartu kredit kalian kami aktifkan. Pakai sepintar mungkin! Minta sama Zane uang jajan sehari-hari kalian. Kami sudah transfer semuanya di rekening Zane. Kami berangkat" ucap Alfero dan segera pergi menuju bandara.

"Bang, si Fera kenapa sih? Kayak aneh aja gitu. Biasanya ga peduli kalau gue tidur sini. Kok sekarang malah ngelarang ya?" Zane hanya membalasnya dengan hendikan bahu. Ia mengambil tasnya lalu menuju lantai dua-----tempat kamarnya berada-----dengan tergesa-gesa karena ia masih memiliki banyak tugas kuliah.

Cavin menghendikkan bahunya lalu menyusul Zane kelantai dua karena ingin mengambil kunci mobilnya. Harry dan Vivi tadi tidak membawa bajunya jadi ia harus mengambil bajunya dahulu.

Cavin membuka pintu kamar Zane dan menemukan Zane sedang berkutat dengan laptopnya. Sepertinya Zane sedang sangat sibuk sekarang. Ia segera mengambil kunci mobil di atas nakas, lalu meminta izin pada Zane.

"Bang, gue pulang ya" ucapnya hanya dibalas dengan anggukan oleh Zane.

Cavin keluar dari kamar Zane. Cavin berniat mengajak Fera untuk ikut dengannya. Tetapi, apakah gadis itu mau ikut? Ah, masa bodo pikirnya. Ia pun memasuki kamar yang pintunya berwarna purple pastel itu.

Ia tidak melihat siapapun disitu. Mungkin Fera sedang mandi? Pikirnya sehingga ia menunggu di kamar Fera.

Cekrek

Fera keluar dari walk in closet. Fera bukan gadis yang mandi dengan durasi 1 jaman. Ia hanya mandi secepatnya dan yang teroenting bersih. Sehingga tidak heran, kalau Fera sudah selesai.

Fera terkejut. Mengapa Cavin ada disini? Fera yang menujukkan ekspresi terkejut sedangkan Cavin hanya tersenyum pada Fera.

"Ngapain disini, Cav?" tanya Fera yang heran.

Tunggu-tunggu, bukankah tadi Fera terlihat marah padanya? Mengapa sekarang Fera bersikap baik? Kali ini Cavin yang terkejut dengan pertanyaan Fera. Fera hanya mengerutkan dahinya saat Cavin hanya menatapnya sambil melamun.

"Cavinnn!!!" rengek Fera. Yups, Fera kembali ke Fera yang dulu.

"E-eh iya, gue mau ngajak lo ke rumah, temenin gue ambil baju" ucap Cavin.

"Ok, tapi pulangnya jalan yuk" balas Fera sambil tersenyum. Sedangkan Cavin hanya mengangguk.

"Yaudah, lo tunggu dibawah, gue mau siap-siap dulu" Cavin membalasnya dengan menunjukkan angka tiga.

Cavin berjalan keluar dari kamar Fera. Ia menuju kebawah untuk menunggu Fera yang sedang siap-siap. Tidak apa-apa jika Fera mengajaknya ke mall. Dulu kan mereka tidak jadi pergi bareng dan sekarang menjadi gantinya.

Fera sudah siap dengan pakaian yang dipilihnya. Ia hanya memakai celana panjang, dipadukan sling bag putih kecil dan sweater panjang berbulu serta dengan sepatu gucci yang disampingnya ada gambar lebah.

Fera turun dari tangga dan menemukan Cavin menunggunya diruang keluarga sembari memainkan ponselnya.

"Cav, yuk!" ajak Fera.

Cavin mendongak dan melihat Fera sudah bersiap. Ia mengangguk, menyimpan ponselnya disaku. Ia menggandeng Fera menuju mobil Cavin.

Mobil sport berwarna putih itu keluar dari halaman rumah Fera menuju tempat yang akan dituju si pengemudi. Mobil Lamborghini Aventandor putih membelah kota yang terlihat sepi pagi ini.

***

Siapa mau naik mobil Cavin???
Cia aja mauuu huaaa wkwk

TERIMA KASIH TELAH MEMBACA CERITA INI.
DIMOHON VOMMENTNYA DARI KALIAN YANG BAIK HATI^^

instagram:
[cia_aicia]

-Cia yang bercita-cita
naik mobil Cavin

30 April 2018

Who Knows?Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang