TIGA PULUH TIGA-Alfera

38 3 1
                                        

Alfera masih menjalankan hari-harinya seperti pelajar biasa. Walau sekarang tidak ada Cavin disisinya lagi, ia mulai belajar mandiri. Setiap malam yang dulu digunakan untuk chattingan dengan Cavin, sekarang waktu itu digunakannya untuk belajar.

Bagaimanapun juga, sebentar lagi akan kenaikan kelas. Hidup bukan pasal cinta. Seperti kata seseorang yang pernah didengar Fera, "Hiduplah untuk menjadi sukses, maka cinta akan datang dengan sendirinya."

Alfera dan Cavin tidak putus. Hubungan mereka masih berlanjut. Hanya saja  setelah dua bulan kepergian Cavin, mereka jarang berkomunikasi. Ya tentu saja karena kesibukkan mereka masing-masing.

Seperti sekarang, Senin nanti Alfera akan melaksanakan ulangan kenaikan kelas. Dan malam ini ia pakai untuk belajar sesungguh-sungguhnya. Dari tadi pagi sampai sekarang Cavin sama sekali tidak berkomunikasi dengannya. Entah melalui text ataupun sebuah telphon.

Sebenarnya Alfera capek. Ia dan Calvin semakin hari terasa semakin jauh. Bukankah dalam suatu hubungan komunikasi harus berjalan lancar, kan? Bukan Alfera yang memutuskan komunikasi mereka. Bukan kesepakatan mereka juga. Tetapi Cavin sendiri.

Cavin hanya mengabarinya tiga hari sekali. Bahkan pernah ia mengabari Alfera satu minggu sekali. Miris bukan? Calvin serasa berubah disana. Entahlah apa yang dilakukannya. Tetapi Alfera tidak mau berburuk sangka dahulu. Ia akan menunggu Cavin.

***

"Cavin udah ngabarin lo?" tanya Valerie. Fera hanya menjawabnya dengan gelengan kepala.

Valerie mengerucutkan bibirnya. Ya seperti ini lah kalau dia kesal. "Nih ya gue tanya. Lo tau ga temen dia disana siapa aja? Aktifitas dia disana apa aja?"

Alfera mengangkat kepalanya, "gimana gue bisa tau Val, kalau dia aja jarang nelfon gue. Waktu kami baik-baik aja, dia bilang dia ketemu temen SD dia disana. Tapi dia ga bilang temennya itu cewek atau cowok dan namanya siapa. Setiap gue tanya tentang kehidupan dia disana. Dia pasti jawab 'disini baik-baik aja kok, gausah khawatir' terus dia langsung ngalihin topik."

"Kira-kira ada yang dia sembunyiin ga?! Gue tanya sama Riko ah!" ucap Valerie dengan semangat. "Lo pulang dengan kita yuk?"

Fera menggelengkan kepalanya lalu tersenyum. "Engga ah, terima kasih. Nanti gue jadi nyamuk hehe"

Memang satu bulan yang lalu Valerie dan Riko jadian. Tentu Alfera senang karna tidak ada lagi kabar yang menuduh Riko suka dengannya. Dan ia juga bahagia karena Riko sang sahabatnya waktu kecil pacaran dengan Valerie sahabatnya sekarang.

Dan peringkat pasangan ter-baik se-SMA Alfa jatuh kepada Valerie-Riko yang dulunya dipegang oleh Cavin-Alfera.

Sifat Riko tidak berubah. Ia terkadang masih peduli dengan Alfera. Dan Valerie pun dengan baik hati menganggapnya tidak apa-apa. Mereka berdua memang pasangan yang cocok. Saling melengkapi satu sama lain dan saling mengalah. Ya ciri-ciri pasangan sejati mungkin.

Alfera menunggu sopirnya datang dihalaman sekolah. Dilapangan anak-anak basket sedang berlatih untuk perlombaan tingkat kota nanti. Tiba-tiba saja ia teringat cowok itu. Seorang lelaki yang mengikatnya menjadi pacarnya dua bulan setengah yang lalu.

Apakah lelaki itu memikirkannya juga? Memikirkan kabarnya yang disini? Apakah pacarnya baik-baik saja. Bagaimana kesuksesan pacarnya saat mengerjakan ulangan pertamanya ini. Ah Fera ingat. Bukannya Cavin tidak tahu bahwa ia sedang melaksanakan ulangan?

Fera tertawa miris. Inikah hubungan pacaran yang sebenarnya? Sebuah hubungan yang didambakan para jomblowan dan jomblowati diluar sana? Kalau iya, Fera rasanya ingin bertukar tempat dengan mereka saja. Biar merasakan bagaimana tidak enaknya pacaran.

Sopir Fera telah datang lalu ia memasuki mobilnya. Didalam mobil ia memikirkan sebuah tekatnya nanti. Jika Cavin tidak pulang Juni nanti, Alfera akan meminta izin untuk berangkat kesana. Menanyakan seribu pertanyaan yang mungkin  tidak bisa ditanyakan dalam via telphon.

Terlalu berani? Entahlah. Jika saja nanti Fera menemukan hal yang tidak wajar pada Cavin sekarang, mungkin Fera tidak akan segan-segan memutuskannya. Fera sebenarnya tidak mau putus. Tapi apa boleh buat? Bukankah suatu hubungan yang didasari kepaksaan akan berakhir tidak baik juga? Jadi mau tidak mau dan siap tidak siap Fera harus menerima konsekuensi pacaran.

***

Menuju End!

4 November 2018

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Oct 04, 2019 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Who Knows?Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang