DUA PULUH DELAPAN-Rumah Sakit

42 5 1
                                        

Fera, Valerie, Arlie dan seluruh anggota Lit--geng Cavin--sedang berkumpul di rumah sakit. Ah iya, kecuali Cavin yang tidak ada. Ia tadi dipanggil BK. Tidak lama dari kejadian Darga tidak sadarkan diri, para guru selesai rapat dan menuju rooftop.

Anggota Lixley sama sekali satu pun belum kelihatan batang hidungnya. Memang jam segini anak sekolahan seharusnya belum pulang. Tetapi karena masalah tadi, semuanya dipulangkan lebih cepat.

Valerie sedari tadi menundukkan kepalanya. Jika dilihat, bahunya bergetar juga dari tadi. Fera tahu bahwa Valerie menangis. Tapi, Fera belum mendapatkan ide cara menghibur gadis itu.

Arlie dan Riko menghela nafas dengan berat. Sebenarnya ini juga kesalahan Arlie. Arlie yang nerencanakan semuanya. Sedangkan Riko, Riko juga entah kenapa tadi tidak berani melerai. Jika saja Riko berani melerai, mungkin tidak akan berakhir seperti ini.

Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka. Semuanya menoleh dan segera beranjak. "Bagaimana dengan keadaan teman saya, dok?"

Dokter itu menoleh pada Arlie. Ia mengerutkan keningnya. Ia mengambil nafas perlahan. Ia juga mengelap keringat yang bercucuran didahinya.

"Teman anda baik-baik saja, hanya luka biasa. Tapi biarkan dia isrirahat dahulu. Oh iya kalau mau masuk, sebaiknya  3/4 orang dahulu biar udaranya tidak pengap. Saya permisi" pamit dokter itu.

Arlie tersenyum. Syukurlah jika tidak apa-apa. Ia mengeluarkan teleponnya dan mencari satu kontak yang ingin di hubunginya.

Mama Darga.

Akhirnya kontak itu ia temukan. Arlie menghela nafas sebentar, lalu menekan tombol berwarna hijau. Setelah itu ia letakkan ponselnya disamping telinga kanannya.

"Halo?" ujar orang diseberang sana.

"Hai, tante. Ini Arlie."

"Ah Arlie! Kenapa, nak?"

"Mohon maaf tante, tante bisa ke rumah sakit Melati? Uhm...Darga sedang dirawat tan."

"Lho Darga kenapa, nak?"

"Nanti saya ceritain tan, saya jemput tante aja ya."

"Iya iya, tante tunggu."

Setelah itu sambungan telepon terputus. Arlie mengambil kunci motornya yang ada disaku celananya. Ia meminta izin pada Fera, Valerie, dan Riko serta yang lainnya. Setelah itu dengan gerakan cepat, dia menuju parkiran rumah sakit.

***

"Itu ceritanya gimana sih nak Arlie? Darga berantem lagi? Sama siapa? Dia luka parah?" Saat Arlie baru sampai dirumah Darga, ibunya Darga langsung menyambar Arlie dengan beberapa pertanyaan.

Arlie tersenyum ia berusaha menenangkan perasaan ibunya Darga dulu. Ia berusaha membuat ibunya Darga tidak khawatir. Setelah ia rasa ibunya Darga sudah membaik, barulah dia menjawab pertanyaan tadi.

"Maaf ni tante sebelumnya. Sebenarnya yang nyusun acara itu saya, saya disini yang berbuat salah. Tapi, yang memukul Darga...itu Cavin."

Deg!

Ibunya Darga terlihat bingung, ia meminta penjelasan lebih pada Arlie melalui sebuah tatapan. Ia masih tidak mengerti maksud Arlie. Yang ia tahu, Cavin dan Darga berteman baik.

Arlie menghela nafasnya pelan lalu, "Darga neror sahabat kesayangannya Cavin tante, dan Darga...sudah lama jadi musuh Cavin."

Ibu Darga hanya diam. Arlie yang melihat kediaman ibu Darga juga tersadar akan ingatannya tadi waktu awal. Akhirnya, Arlie mengajak ibu Darga menuju rumah sakit.

***

"Bagaimana ini, Pak? Apakah anak bapak harus dikeluarkan?" tanya ibu Desi--guru BK SMA Alfa--pada Harry.

Harry mengusap wajahnya gusar. Ia benar-benar tidak tahu bagaimana pola pikir anak semata wayangnya ini. Bagaimana bisa anak ini memukul temannya hingga temannya harus dibawa ke rumah sakit?

Vivi sudah emosi. Ia tadi dikabari oleh ibu Desi bahwa Cavin telah memukuli anak orang dengan sehingga orang itu babak belur. Mendengar itu, Vivi segera menyuruh Pak Adi untuk mengantarnya ke sekolah Cavin.

"Kita pindahin dia keluar kota atau perlu keluar negri aja, Pa!" tegas Vivi karena amarahnya membludak begitu saja.

Harry yang melihat itu memeluk bahu Vivi dan mengelus pelan bermaksud menenangkan istrinya. Cavin hanya terdiam. Ia sudah pasrah. Ia juga tidak tahu akan berakhir seperti ini. Ini semua karena ia tidak bisa menahan emosinya.

"Berikan waktu sampai kenaikan kelas, Bu. Kami harus memikirkan ini dulu" pinta Harry pada Bu Desi.

Bu Desi mengangguk, "Ini semua kami seahkan pada Pak Harry. Anda juga yang punya wewenang. Kalau begitu saya permisi dahulu."

Bu Desi keluar dari ruangan BK dan menuju kantin. Sepertinya ia butuh susu atau kopi buatan Si Mbok.  Ia juga keluar untuk memberi waktu pada keluarga Mercher.

"Kamu tuh ya! Ih! Ga tahu lagi deh mama mau bilang apa. Kamu sudah berapa kali mama tegur tapi tetep aja ga didengerin. Lagian kenapa ributnya sama Darga? Kalian kan temenan? Kalian musuhan sekarang? Idih, kayak anak bocah!" Vivi mengeluarkan uneg-unegnya. Cavin masih terdiam dan tidak membalas.

Harry mulai menengahi seperti biasa, "Udahlah, kita bicarain dirumah aja ya. Malu lah kalau disini." Lalu tepat ditelinga Vivi, Harry berucap, "Kita bakal hukum anak bandel ini!" ucapnya sedikit berbisik.

Sebenarnya Cavin tidak perduli. Ia tetap terlihat santai dan seperti tidak bersalah. Setelah terdengar pintu terbuka, ia mengikuti langkah kedua orang tuanya dari belakang menuju parkiran.

Vivi masuk kemobil bersama Harry. Harry yang mengemudikannya karena tadi mobil yang mengantar Vivi--yang dikendarain pak Adi--sudah disuruh pulang.

Sedangkan Cavin, ia menuju parkiran motor. Parkiran motor berada dekat gerbang. Sedangkan parkiran mobil ada di sebelah gedung sekolah.

Cavin mengambil helmnya. Setelah mobil Harry melewatinya, barulah Cavin ikut juga dibelakangnya. Seperti tadi, ia mengikuti jejak kedua orangtuanya dari belakang.

***

Gaje ya part ini? Maafkeun :"( Aku keasyikan fangirling nih :(( Jadi berharap banget Vomment dari kalian agar aku semakin semangat ngebuat karya-karta lain hehe.

TERIMA KASIH TELAH MEMBACA!
DIHARAPKAN VOMMENTNYA!

-Cia Lydia

10 Juni 2018

Who Knows?Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang