***
Setelah lama bermain ponsel, tak kusadari sudah pukul 8 pagi. Waliyha pun sudah keluar kamar. Aku membuka jendela agar udara pagi yang segar masuk ke dalam kamar. Senyuman kecil pun muncul dari bibirku ketika melihat burung-burung yang berterbangan. Aku meregangkan tubuhku dan tak sengaja perutku berbunyi.
Oops.
Aku lapar.
Aku langsung beranjak turun ke lantai bawah dan membuka kulkas, melihat jika ada cemilan yang bisa kumakan.
"Lapar?" Tanya Zayn yang tiba tiba muncul dihadapanku, menutupi pemandangan kulkas yang kosong.
Aku punya satu pertanyaan, mengapa ia selalu ada disaat aku melakukan atau membutuhkan sesuatu?
Aku menatap sebungkus corn chips di tangan kanannya. Aku melirik wajahnya dan tersenyum jahil. Disaat aku berusaha mengambil sebungkus corn chips itu, ia berhasil menjauhkannya dari capaian tanganku.
"Tangkap aku kalau kau mau." Ia mengulurkan lidahnya. Awalnya aku merasa acuh tak acuh, sampai akhirnya perutku berbunyi yang kedua kalinya. Suasana menjadi canggung.
Dan akhirnya aku langsung mengejarnya, mengincar corn chips yang kuinginkan. Aku merasa seperti sedang merekam film action dan akulah bintang filmnya. Sesekalinya aku tersandung dan terpeleset, tapi aku hanya tertawa dan melanjutkan aksi-ku. Sampai akhirnya kami sudah di taman dan Zayn duduk di ayunan kayu. "Aku lelah." Katanya sambil berkali kali menghela nafas.
Karena aku juga terlalu banyak berlari dan menghabiskan tenaga, aku pun melakukan hal yang sama. Aku mencoba mengatur nafasku. Tak lama, ia menyodorkan tangannya yang menggenggam sebungkus corn chips itu. Aku cuma menatapnya heran.
Jadi, sedari tadi aku berlari mengejarnya sampai sampai aku tersandung dan terpeleset itu sia sia? Kali ini dia hanya duduk diam dan memberikanku bungkusan itu. Laki-laki ini memang menyebalkan dan aneh.
Aku merebut corn chips itu dari tangannya. "Terima kasih." Aku mulai membuka bungkusan itu dan memakannya.
"Oh ya," Ucapku masih dengan nada yang kurang teratur.
"Nanti siang aku mau ke kedai kopi, kau mau ikut? Aku yang bayar." Lanjutku sambil terus memakan keripik jagung berbumbu balado itu.
"Kenapa kau tiba tiba baik sekali ingin membayar?"
Aku memutar bola mataku seakan akan malas untuk menjawab lelaki yang terkadang sulit untuk dimengerti ini. "Kenapa kau tiba tiba kembali menjadi orang yang bersikap dingin semenjak sepulang dari rumah sakit? "
Lalu suasana menjadi hening.
"Benarkah?" Aku mengangguk menjawab pertanyaannya. "Jadi, mau ikut apa tidak?" Tanyaku sekali lagi.
Kudengar ia menghela nafas berat. "Baiklah, aku ikut."
*
Aku memakirkan mobil sedan milik Zayn tepat didepan kedai kopi yang kami tuju. Kali ini aku yang menyetir karena memang aku yang meminta.
"Kau menyetir seperti Paul Walker." Puji Zayn berdecak kagum membuatku tertawa.
Padahal awalnya Zayn sangat ragu membiarkan aku yang menyetir. Dia sempat berpikir jika aku menabrakkan mobilnya ke tiang atau bahkan ke pohon.
Kami pun masuk ke dalam kedai kopi bernuansa coklat itu. "Biar aku yang pesan." Ucapku.
Aku menyuruhnya mencari tempat duduk sedangkan aku memesan. Dan tadi Zayn sempat menitip pesanannya.
"Green Tea and Cappuccino, please." Pesanku.
Setelah memesan, aku mencari meja yang dipilih Zayn. Aku mendatanginya. Sambil menunggu pesanan siap, tiba tiba Zayn berkata, "Ceritakan semua tentangmu."
"Maksudmu?"
"Ya, tentang kehidupanmu."
Aku terdiam sejenak menatapnya heran. "Dulu, aku adalah seorang perempuan kecil yang tinggal di Holmes Chapel. Kegemaranku adalah memasak saat itu. Dulu aku adalah anak yang bahagia. Tapi semuanya berubah ketika Ibuku pergi meninggalkanku." Mulutku tiba tiba berhenti berkata. Aku menghela nafas berat dan mencoba melanjutkan.
"Warna favoritku ialah putih, karena-"
Tiba tiba omonganku terpotong oleh seorang pelayan kedai. Dia memanggil namaku, memberitahu bahwa pesananku sudah siap. Aku mengambil dua buah gelas dan menyimpannya di meja. "Pesananmu." Aku menyodorkan cappuccino yang ia pesan.
"Maaf, Zayn. Aku malas melanjutkan. Karena di hadapanku sudah ada minuman favoritku." Aku terkekeh.
Lalu, kami sibuk dengan minuman masing masing. Karena merasa canggung, aku mengeluarkan ponselku dari kantong. Tak sengaja, aku melihat foto dress yang kemarin tadi pagi kusimpan. Ah, aku mulai merinding ingin cepat cepat menemukannya. Sangat sulit bagiku untuk mencarinya di tempat yang belum lama kutempati.
"Hi, Zayn,"
Aku terlonjak kaget ketika mendengar suara asing yang tiba tiba muncul di telingaku.
*****
Vote yaaaaa hehe<3
KAMU SEDANG MEMBACA
Fight The Pain [Editing]
Fiksi PenggemarSesuatu telah merubah kehidupan Alice. Awalnya ia hanyalah gadis biasa yang gemar menonton acara di balik layar tv. Namun setelah kepindahan dengan Ayahnya ke Bradford dan tinggal satu atap dengan keluarga Malik, kehidupannya seakan-akan berputar di...
![Fight The Pain [Editing]](https://img.wattpad.com/cover/10710707-64-k981936.jpg)