33 - The Dress!

1.1K 93 5
                                        

***

"Perrie?"

Jadi ini yang namanya Perrie, ke- mantan kekasihnya Zayn.

Aku hanya bisa menampakkan muka datar. Aku mengaduk aduk green tea yang kupesan, seakan akan tak peduli apa yang Zayn dan Perrie lakukan. Bahkan aku merasa sedikit ragu untuk mengubah posisi dudukku.

"Apa yang kau lakukan disini?" Lanjut Zayn, langsung beranjak berdiri untuk menghadap Perrie. "Hanya menyapa." Jawab Perrie. Aku dapat merasakan tatapan sengit dan senyuman kecut yang ditunjukkannya. Aku mulai khawatir. Lalu, suasana berubah menjadi canggung setelah Perrie duduk tepat disampingku. Detak jantungku berhenti sejenak dan berlanjut.

Aku mempunyai firasat buruk tentangmya.

"Dia...temanku, Alice. Dan ini Perrie." Zayn memperkenalkan kami berdua.

Zayn's POV:

Mereka bersalaman setelah aku saling memperkenalkannya.

"Bukankah ia pacar barumu?" Pertanyaan Perrie membuatku gugup dan merasa tak enak.

Aku mulai gelagapan seperti seorang bayi yang baru mengerti cara berbicara. Karena merasa canggung, aku mencoba mencari cara untuk menjawab pertanyaannya dengan benar. "Ah, tidak." Itu adalah jawaban yang sebenarnya.

Sesungguhnya, Perrie tak lagi bersikap manis semenjak tak berhubungan denganku. Padahal aku sudah menyuruhnya untuk mencari pengganti yang baru, tapi ia menolak.

Aku mencoba untuk bersikap stay cool dan menyeruput secangkir cappuccino yang hangat cenderung panas, hampir membuat bibirku terbakar. Kali ini, Perrie benar benar mengacaukan hariku dengan Alice. Sejujurnya, aku ingin mengusir gadis berambut pirang itu dari hadapanku. Tapi, aku tak tega. Dan lagipula, Perrie juga sudah pernah berada di dalam kehidupanku walau perasaan itu sudah lenyap.

Disaat aku sedang sibuk mencari cara untuk mengusir Perrie, aku melihat Alice yang hanya duduk manis, menggenggam secangkir green tea di tangan kirinya dan memainkan ponselnya dengan tangan kanannya. Tak lama, sebuah ide muncul dari kepalaku.

"Ah, Alice, pukul berapa ini?" Aku basa basi dan pura pura melihat jam tanganku. "Kita harus segera pergi sekarang." Alice menatapku heran, dan dengan cepat aku memberinya kode untuk menurutiku.

"Tapi-"

"Maaf, Perrie." Aku sengaja memotong pembicaraan Perrie. Aku langsung menggenggam tangan Alice dan menariknya untuk segera pergi. Kami masuk ke dalam mobil.

"Apa maksudmu?" Tanya Alice.

"Aku tak suka gadis itu." Jawabku sambil menghela nafas lega. "Bukankah ia mantan kekasihmu?"

"Bukan berarti aku masih menyukai mantan kekasihku. Ya, kau tahu, aku sudah ada penggantinya."

Aku mengedipkan sebelah mataku kepada gadis itu.

"J-" Belum selesai mengatakan sesuatu, ponsel milik Alice berbunyi menandakan ada panggilan masuk.

Alice's POV:

"Halo?" Aku tak tahu pasti siapa yang menelfonku.

"Hi, Alice," Sapa seseorang dari ujung telepon. Suaranya terdengar seperti seorang gadis seumuranku. Aku tidak mau sok tahu, tapi aku rasa iya.

"Um, siapa kau?" Tanyaku memastikan siapa yang menelfonku. "Aku Grace. Kau ingat?" Ah, Grace! Dia adalah salah satu tetangga lamaku. Tapi kurasa statusnya bukanlah lagi tetanggaku, melainkan sahabatku.

"Tentu saja! Apa kabar?" Aku menanyakan kabarnya.

"Baik. Kapan kau mampir kesini lagi?"

Kami pun saling berbincang bincang, melepas rasa rindu. Melihat Zayn yang hanya melamun menungguku selesai menelfon, aku langsung menyuruhnya untuk segera menyetir mobil. Kebetulan, posisi Zayn sedang duduk di kursi mengemudi.

Panas matahari mulai menembus kaca mobil. Aku masih terus bercakap dengan Grace melalui telepon. Udara di dalam mobil mulai terasa pengap sampai membuatku harus mengusap keringatku di dahi. Aku menjauhkan ponselku dari telinga dan berkata kepada Zayn, "Aku tak tahu bawa suasana Bradford bisa sepanas hari ini." Lalu melanjutkan perbincanganku dengan Grace.

Mobil mulai bergerak maju. Aku memperhatikan setiap toko dan tak hentinya berbicara dengan Grace. Mungkin ini akan menjadi perbincangan terpanjangku lewat telepon.

Tatapanku berhenti disebuah toko yang memajang sebuah patung berlapisi dress merah muda. Tepat seperti yang kuharapkan!

"Grace, kita bicara lagi jika aku sempat ya." Aku berkata tanpa jeda sebelum menutup telfonnya. Aku menyuruh Zayn untuk berhenti.

"Apa yang hendak kau lakukan?" Teriaknya dari dalam mobil disaat aku sudah berada di depan toko tersebut. Aku mengabaikan pertanyaannya dan langsung melangkah masuk. Kulihat Zayn memarkirkan mobilnya di pinggir jalan raya.

"Permisi. Ada yang bisa saya bantu?" Tanya seorang petugas; penjaga toko. "Apakah dress itu dijual?" Tanyaku seraya menunjuk ke arah dress yang ku maksud.

"Tentu." Mataku langsung berbinar binar dan menghampiri patung itu. Tapi ada kabar buruk.

Aku bertanya kepada penjaga toko ini, berapa harga dress tersebut. Tepat disaat penjaga tersebut menyebutkan nominalnya, Zayn melangkah masuk. Wajahku yang tadi sangat riang, berubah menjadi kusut setelah mendengar harga tersebut. Kau tahu, bukannya aku tak bisa membeli dress semahal ini. Tapi hanya saja, aku sedikit kecewa karena aku tak bisa membuang sebagian besar uangku hanya untuk dress ini. Jadi aku memutuskan untuk mengurungkan niatku.

Aku keluar dari toko tersebut, diikuti Zayn dibelakangku. Dengan tangan kosong, aku memasuki mobil.

"Pasti kau akan mendapatkannya suatu saat nanti."

Aku hanya membalasnya dengan senyum simpul. Kami pun kembali kerumah.

Zayn's POV:

Sesampainya dirumah, Alice tak melontarkan sedikit katapun, melainkan masuk ke dalam kamar. Aku tahu ia kecewa.

Tiba tiba ponselku bergetar, menandakan pesan masuk.

"Temui aku di night club tepat jam 8 malam. Aku akan memberimu hadiah yang sangat spesial. Jangan menolak, kau akan menyesal.

Love,
Perrie x."

*****

Vote&comment yaaa!

Beneran deh lagi kehabisan kata2:(

Fight The Pain [Editing]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang